Jakarta – Dunia bisnis seringkali diidentikkan dengan perhitungan untung-rugi yang ketat, persaingan sengit, dan ambisi meraih kekayaan materi. Namun, kisah hidup Ir. Sholah Athiyah, seorang pengusaha asal kota kecil di Mesir, menawarkan perspektif yang berbeda. Kisahnya, yang diulas dalam jurnal "Menguak Entrepreneurship Perspektif Qur’an: Karakter Tokoh Pengusaha Muslim Mesir" karya Rimi Gusliana Mais dari Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Indonesia Jakarta, merupakan narasi inspiratif tentang keberhasilan bisnis yang dijalankan dengan landasan iman dan komitmen berbagi. Kisah ini, yang disarikan dari penuturan ahli wakaf ternama Mesir, Syekh DR Mustafa Dasuki Kasbah dari Universitas Al-Azhar, menunjukkan bagaimana kepercayaan dan keikhlasan dapat menghasilkan keberkahan yang melampaui batas materi.
Sholah Athiyah memulai perjalanannya dengan langkah sederhana, namun penuh tekad. Bersama beberapa temannya, ia merintis usaha di bidang unggas dan perkebunan. Namun, modal yang terbatas menjadi kendala besar. Untuk mengatasi hal ini, mereka mengambil langkah yang menunjukkan keseriusan dan komitmen mereka: menjual perhiasan istri-istri mereka demi mengumpulkan modal awal. Setelah usaha mereka berjalan, mereka menghadapi tantangan berikutnya: memperluas bisnis dan meningkatkan produktivitas.
Di sinilah, Sholah Athiyah memperkenalkan ide yang unik dan revolusioner. Ketika mereka merencanakan perluasan usaha dan membutuhkan tambahan mitra, ia mengusulkan sebuah ide yang tak lazim: menjadikan Allah SWT sebagai mitra ke-10. Usulan ini, yang mungkin dianggap aneh oleh standar bisnis konvensional, bermakna mendalam bagi Sholah Athiyah dan rekan-rekannya. Allah SWT, dalam konteks ini, bukan sekadar investor finansial, melainkan sebagai pelindung, pemelihara, dan sumber keberkahan. Sebagai bentuk komitmen, mereka sepakat untuk mengalokasikan 10% dari keuntungan usaha untuk "mitra" ke-10 tersebut.
Hasilnya sungguh mengejutkan. Setelah musim pertama, bisnis mereka melampaui target yang telah ditetapkan. Keberhasilan ini bukanlah sekadar keberuntungan, melainkan bukti nyata dari berkah yang diperoleh melalui kepercayaan dan keikhlasan. Terdorong oleh keberhasilan ini, mereka meningkatkan persentase keuntungan yang dialokasikan untuk Allah SWT menjadi 20% pada musim berikutnya. Siklus ini berulang, dengan persentase keuntungan yang terus meningkat setiap musimnya hingga mencapai 50%.
Pertanyaan kunci kemudian muncul: bagaimana keuntungan yang dialokasikan untuk "mitra" ke-10 ini digunakan? Sholah Athiyah dan rekan-rekannya memiliki visi yang jelas: mengembalikan keberkahan tersebut kepada masyarakat. Mereka memulai dengan mendirikan sekolah Islam, mencakup jenjang pendidikan dasar hingga menengah atas. Dengan keuntungan yang terus meningkat, mereka kemudian membangun baitul mal – lembaga keuangan berbasis syariah – di kota kelahiran Sholah Athiyah, Tahfanah. Langkah ini bukan hanya untuk menopang usaha mereka, tetapi juga untuk membantu masyarakat sekitar.

Puncak dari komitmen sosial mereka adalah pendirian sebuah universitas di Tahfanah. Universitas ini, yang kemudian menjadi cabang dari Universitas Al-Azhar, merupakan bukti nyata dari impian Sholah Athiyah untuk memajukan pendidikan dan mencerdaskan kehidupan bangsa. Tidak berhenti sampai di situ, mereka juga membangun asrama putra dan putri dengan kapasitas yang besar – 1.000 kamar untuk putra dan 600 kamar untuk putri – dan bahkan memberikan subsidi transportasi kereta api menuju Tahfanah agar akses pendidikan menjadi lebih mudah.
Baitul mal yang mereka dirikan bukan hanya satu, melainkan tersebar luas. Sholah Athiyah dan rekan-rekannya berkomitmen untuk membangun baitul mal di setiap kampung yang mereka kunjungi. Dana dari baitul mal ini digunakan untuk membantu fakir miskin, janda-janda, dan juga memberikan bantuan peralatan rumah tangga bagi para gadis yang akan menikah. Semua ini dilakukan dengan tulus dan tanpa pamrih, merupakan wujud nyata dari kepedulian sosial mereka.
Puncak dari perjalanan inspiratif Sholah Athiyah adalah keputusan untuk mengalokasikan 100% keuntungan bisnis mereka untuk Allah SWT. Ia yang awalnya merupakan mitra usaha, akhirnya sepenuhnya menjadi "karyawan" Allah SWT, menyerahkan seluruh hasil usahanya untuk amal dan kesejahteraan masyarakat. Keputusan ini bukan hanya menunjukkan keikhlasan yang luar biasa, tetapi juga menggambarkan puncak dari perjalanan spiritual dan bisnisnya.
Sholah Athiyah wafat pada 11 Januari 2016, meninggalkan warisan yang tak ternilai harganya. Kepergiannya meninggalkan duka mendalam bagi masyarakat Kairo. Lebih dari setengah juta orang mengiringi jenazahnya, menunjukkan betapa besar pengaruh dan rasa hormat yang diberikan masyarakat kepadanya. Kisah hidupnya bukan hanya sebuah kisah sukses bisnis, tetapi juga sebuah teladan tentang bagaimana iman, keikhlasan, dan komitmen sosial dapat menghasilkan dampak yang luar biasa bagi kehidupan orang banyak.
Kisah Sholah Athiyah memberikan pelajaran berharga bagi para pengusaha, khususnya pengusaha muslim. Ia menunjukkan bahwa kesuksesan bisnis tidak hanya diukur dari keuntungan materi semata, tetapi juga dari dampak positif yang diberikan kepada masyarakat. Dengan menjadikan Allah SWT sebagai mitra, Sholah Athiyah tidak hanya meraih kesuksesan finansial, tetapi juga keberkahan dan ketenangan batin yang tak ternilai harganya. Kisahnya menjadi inspirasi bagi mereka yang ingin membangun bisnis yang berkelanjutan, bermanfaat, dan berorientasi pada kebaikan. Ia membuktikan bahwa keberhasilan sejati terletak pada keseimbangan antara keuntungan materi dan kebaikan sosial, sebuah formula sukses yang diilhami oleh kepercayaan dan keikhlasan kepada Sang Pencipta. Sholah Athiyah telah menunjukkan bahwa bermitra dengan Allah SWT bukanlah sekadar slogan, tetapi sebuah strategi bisnis yang menghasilkan keberkahan yang melampaui batas imajinasi. Warisannya akan terus menginspirasi generasi mendatang untuk mengejar kesuksesan dengan landasan iman dan komitmen bagi kemaslahatan umat.



