Jakarta, 27 Juni 2024 – Bulan Muharram, bulan pertama dalam kalender Hijriah, menyimpan momentum penting bagi umat Islam, khususnya pada tanggal 10 Muharram yang dikenal sebagai Hari Asyura. Tanggal ini bukan sekadar penanda waktu, melainkan hari penuh berkah dan keutamaan yang sarat dengan peristiwa sejarah dan ajaran agama. Tahun ini, 10 Muharram 1447 H bertepatan dengan Minggu, 6 Juli 2025, berdasarkan penetapan Kalender Hijriah Indonesia yang diterbitkan oleh Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam (Ditjen Bimas Islam) Kementerian Agama Republik Indonesia. Penetapan 1 Muharram 1447 H pada 27 Juni 2025 menjadi acuan perhitungan tersebut.
Hari Asyura, yang juga dikenal sebagai Yaum Asyura, memiliki signifikansi historis dan spiritual yang mendalam bagi umat Islam. Peristiwa penting yang dikaitkan dengan hari ini antara lain: penyelamatan Nabi Musa AS dan kaumnya dari kejaran Fir’aun, serta peristiwa-peristiwa lain yang diabadikan dalam Al-Quran dan hadits. Keutamaan hari Asyura ini telah ditegaskan oleh berbagai riwayat dan ulama terkemuka.
Imam Baihaqi, dalam kitabnya Fadha’ilul A’mal, mengutip sebuah hadits yang menonjolkan keutamaan puasa Asyura. Kitab ini, yang kemudian diterjemahkan oleh Muflih Kamil, secara khusus membahas bab tentang keutamaan hari Asyura. Hadits tersebut, yang diriwayatkan oleh Ubaidillah ibn Abu Yazib dari Ibnu Abbas RA, menyebutkan bahwa Rasulullah SAW senantiasa memperingati hari Asyura dengan berpuasa.
Hadits tersebut berbunyi: "Aku tidak pernah melihat Nabi SAW memelihara puasa pada suatu hari untuk mencari keutamaannya selain puasa pada hari ini – yaitu hari Asyura – dan puasa bulan Ramadan." (HR Bukhari dan Muslim)
Hadits ini menegaskan posisi istimewa puasa Asyura dalam ajaran Islam, sejajar dengan puasa Ramadan. Hal ini menunjukkan betapa pentingnya momentum ini bagi Rasulullah SAW dan menjadi teladan bagi umatnya. Bukan hanya Rasulullah SAW, puasa Asyura juga telah diamalkan oleh umat nabi-nabi terdahulu, menunjukkan konsistensi nilai spiritual hari tersebut lintas generasi.

Keutamaan Puasa Asyura: Penghapus Dosa dan Pahala Berlimpah
Keutamaan puasa Asyura tidak hanya sebatas mengikuti sunnah Rasulullah SAW, tetapi juga dikaitkan dengan pengampunan dosa. Hadits yang diriwayatkan oleh Abu Qatadah RA dari Nabi SAW menyebutkan:
"Puasa Asyura menghapus dosa setahun yang lalu, dan puasa Arafah menghapus dosa dua tahun: setahun sebelumnya dan setahun sesudahnya." (HR Muslim dan At-Tirmidzi)
Hadits ini memberikan gambaran jelas tentang keutamaan puasa Asyura dalam konteks pengampunan dosa. Namun, penting untuk diingat bahwa pengampunan dosa tetap bergantung pada rahmat Allah SWT dan keikhlasan hamba-Nya dalam beribadah. Puasa Asyura bukan jaminan otomatis pengampunan dosa, melainkan sebagai bentuk ketaatan dan pendekatan diri kepada Allah SWT.
Selain hadits shahih di atas, terdapat pula sejumlah hadits lain yang menyebutkan keutamaan puasa Asyura, meskipun dalam sanadnya terdapat perawi yang kurang dikenal (majhul). Salah satu riwayat dari Ibnu Abbas RA menyebutkan berbagai keutamaan yang luar biasa, seperti:
- Pahala ibadah selama enam puluh tahun: Berpuasa di hari Asyura diyakini mendapatkan pahala ibadah selama enam puluh tahun, termasuk puasa dan shalatnya.
- Pahala sepuluh ribu malaikat: Mereka yang berpuasa Asyura akan mendapatkan syafaat dari sepuluh ribu malaikat.
- Pahala seribu haji dan umrah: Pahala puasa Asyura disamakan dengan pahala seribu orang yang menunaikan ibadah haji dan umrah.
- Pahala sepuluh ribu syahid: Puasa Asyura diibaratkan mendapatkan pahala sepuluh ribu syuhada (syahid).
- Memberi makan seluruh fakir miskin: Pahala berpuasa Asyura setara dengan memberi makan seluruh fakir miskin umat Nabi Muhammad SAW hingga kenyang.
- Derajat di surga: Membelai anak yatim di hari Asyura akan mendapatkan satu derajat di surga untuk setiap helainya rambut anak yatim tersebut.
Perlu ditekankan bahwa hadits-hadits dengan sanad majhul ini perlu dikaji secara kritis dan tidak boleh diinterpretasikan secara tekstual tanpa pemahaman yang komprehensif terhadap ilmu hadits. Meskipun demikian, riwayat-riwayat tersebut tetap memberikan gambaran tentang keutamaan spiritual yang sangat besar dari hari Asyura.
Lebih dari Puasa: Amalan Sunnah di Hari Asyura
Hari Asyura bukan hanya tentang puasa. Umat Islam dianjurkan untuk memperbanyak amal ibadah sunnah lainnya di hari ini, seperti memperbanyak zikir, shalat sunnah, membaca Al-Quran, bersedekah, dan berbuat kebaikan kepada sesama. Melakukan amal saleh di hari yang penuh berkah ini diharapkan akan mendapatkan pahala berlipat ganda.
Bersedekah, khususnya kepada fakir miskin dan anak yatim, merupakan amalan yang sangat dianjurkan di hari Asyura. Hal ini selaras dengan ajaran Islam yang menekankan pentingnya kepedulian sosial dan berbagi kepada sesama. Memberikan bantuan kepada mereka yang membutuhkan, baik berupa materi maupun non-materi, merupakan wujud nyata dari keimanan dan ketaqwaan.
Selain itu, memperbanyak shalat sunnah dan membaca Al-Quran juga merupakan amalan yang sangat dianjurkan. Shalat sunnah, seperti shalat tahajud, dhuha, dan witir, dapat dikerjakan untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT. Membaca Al-Quran, sebagai kitab suci umat Islam, juga dapat meningkatkan keimanan dan pemahaman agama.
Kesimpulan:
10 Muharram atau Hari Asyura, yang jatuh pada Minggu, 6 Juli 2025, merupakan hari yang istimewa bagi umat Islam. Puasa Asyura, sebagai amalan sunnah yang dianjurkan, diyakini memiliki keutamaan yang besar, termasuk penghapusan dosa dan pahala berlimpah. Namun, penting untuk memahami bahwa pengampunan dosa tetap bergantung pada rahmat Allah SWT. Selain berpuasa, umat Islam juga dianjurkan untuk memperbanyak amal ibadah sunnah lainnya di hari Asyura, seperti bersedekah, memperbanyak zikir, shalat sunnah, dan membaca Al-Quran. Semoga dengan memanfaatkan momentum ini, kita dapat semakin mendekatkan diri kepada Allah SWT dan meningkatkan keimanan serta ketaqwaan kita. Wallahu a’lam bishawab.




