Presiden Prabowo Subianto telah mencanangkan target ambisius: mencapai swasembada energi bagi Indonesia. Sebuah cita-cita mulia yang membutuhkan strategi jitu dan kerja keras untuk mewujudkannya. Para ahli energi sepakat, kunci untuk mencapai swasembada energi terletak pada pemanfaatan energi terbarukan, khususnya energi surya, angin, dan baterai.
"Indonesia memiliki potensi energi terbarukan yang melimpah, tersebar di seluruh wilayah," tegas Deon Arinaldo, Manajer Program Transformasi Sistem Energi, Institute for Essential Services Reform (IESR). Ia menekankan bahwa pengembangan energi terbarukan berbasis potensi lokal akan membawa manfaat berlipat ganda, yaitu meningkatkan akses energi berkelanjutan, menekan harga energi, dan memperkuat resiliensi serta ketahanan energi nasional.
Strategi terpusat dalam pembangunan sumber daya energi skala besar dinilai kurang efektif dibandingkan dengan pengembangan energi terbarukan yang terdesentralisasi. Hal ini sejalan dengan konsep pembangunan yang berkelanjutan dan inklusif, yang menekankan pada partisipasi aktif masyarakat dan pemanfaatan sumber daya lokal.
IESR mendorong kepemimpinan yang kuat dengan mengedepankan kemitraan dan kolaborasi, baik dengan pemangku kepentingan dalam negeri maupun internasional. Kolaborasi erat antara pemerintah, BUMN, dan sektor swasta menjadi kunci untuk memaksimalkan potensi energi terbarukan dan mendorong investasi di sektor ini.
"Presiden Prabowo dapat menunjukkan kepemimpinan strategis dengan membangun dan memperkuat kerjasama Selatan-Selatan untuk mencapai transisi energi yang berkeadilan," ujar Arief Rosadi, Manajer Program Diplomasi Iklim dan Energi IESR.

Indonesia memiliki modalitas yang kuat untuk memimpin agenda transisi energi di tingkat global, melalui peran aktifnya dalam berbagai forum internasional seperti UNFCCC, G20, ASEAN, Belt and Road Initiative (BRI) Forum for International Cooperation, dan Indonesia Africa Forum. Politik luar negeri bebas aktif juga menjadi aset penting untuk membangun konsensus dan mendorong kerjasama internasional dalam transisi energi.
"Presiden Prabowo dapat mendorong kerjasama selatan-selatan untuk mendukung dan memfasilitasi transisi energi dan pembangunan inklusif di negara-negara berkembang, sesuai dengan kebutuhan dan tujuan pembangunan mereka," tambah Arief.
Kerjasama Selatan-Selatan yang intens tidak hanya berkontribusi pada upaya penurunan emisi Indonesia di sektor energi, tetapi juga mendorong transfer pengetahuan dan teknologi, serta pengembangan industri energi terbarukan domestik. Hal ini diharapkan dapat mendukung pencapaian target pertumbuhan ekonomi delapan persen melalui peningkatan investasi infrastruktur energi bersih.
Tantangan Menuju Swasembada Energi
Meskipun potensi energi terbarukan Indonesia sangat besar, perjalanan menuju swasembada energi dihadapkan pada sejumlah tantangan:

- Regulasi dan Kebijakan: Peraturan dan kebijakan yang mendukung pengembangan energi terbarukan perlu diperkuat dan disederhanakan. Hal ini meliputi penyederhanaan perizinan, penyediaan insentif fiskal, dan mekanisme pembiayaan yang lebih mudah diakses.
- Infrastruktur: Pengembangan infrastruktur energi terbarukan, seperti jaringan transmisi dan distribusi, perlu dipercepat untuk menjangkau wilayah terpencil dan memastikan integrasi energi terbarukan ke dalam sistem kelistrikan nasional.
- Teknologi: Pengembangan teknologi energi terbarukan, khususnya baterai penyimpanan energi, perlu terus didorong untuk mengatasi fluktuasi pasokan energi terbarukan dan meningkatkan efisiensi sistem energi.
- Keterampilan dan Tenaga Kerja: Peningkatan kualitas sumber daya manusia di bidang energi terbarukan menjadi krusial untuk mendukung operasional dan pemeliharaan infrastruktur energi terbarukan.
- Keterlibatan Masyarakat: Masyarakat perlu dilibatkan aktif dalam proses transisi energi, melalui program edukasi dan pemberdayaan, untuk meningkatkan pemahaman dan dukungan terhadap pengembangan energi terbarukan.
Langkah Konkret Menuju Swasembada Energi
Untuk mencapai swasembada energi, diperlukan langkah-langkah konkret, antara lain:



