Tahun Baru Islam, yang jatuh pada Jumat, 27 Juni 2025 Masehi menurut Kalender Hijriah Indonesia Tahun 2025 Kementerian Agama (Kemenag), selalu menjadi momentum penting bagi umat Muslim di seluruh dunia. Momen ini umumnya dimaknai sebagai waktu untuk berintrospeksi, merenungkan perjalanan spiritual di tahun yang lalu, dan memohon keberkahan serta petunjuk Allah SWT untuk tahun yang akan datang. Salah satu amalan yang sering dilakukan adalah membaca doa khusus di awal tahun baru Hijriah. Namun, praktik ini memicu pertanyaan mendasar: Apakah membaca doa khusus di awal tahun Islam merupakan suatu anjuran yang wajib dijalankan, ataukah sekadar tradisi yang berkembang di masyarakat?
Pertanyaan ini relevan mengingat tidak adanya dalil eksplisit dalam Al-Quran maupun Hadis yang secara khusus mengajarkan atau menganjurkan doa khusus untuk awal tahun Hijriah. Ketiadaan panduan langsung dari Nabi Muhammad SAW dan para sahabatnya menimbulkan beragam penafsiran dan praktik di tengah umat Islam. Beberapa kalangan menganggap membaca doa awal tahun sebagai suatu hal yang baik dan bermanfaat, sementara yang lain menganggapnya sebagai sesuatu yang tidak perlu, bahkan ada yang mengkategorikannya sebagai bid’ah.
Perdebatan seputar doa awal tahun ini perlu dilihat dalam konteks yang lebih luas, yakni pemahaman tentang ibadah dan doa dalam Islam. Al-Quran sendiri mengajarkan pentingnya berdoa kepada Allah SWT. Firman Allah SWT dalam Surah Ghafir ayat 60, yang berbunyi: "Tuhanmu berfirman, ‘Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Aku perkenankan bagimu (apa yang kamu harapkan). Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri tidak mau beribadah kepada-Ku akan masuk (neraka) Jahanam dalam keadaan hina dina’," merupakan bukti nyata akan keterbukaan Allah SWT untuk menerima doa hamba-Nya kapan pun dan di mana pun. Ayat ini menekankan pentingnya hubungan langsung antara manusia dengan Tuhannya melalui doa, tanpa dibatasi oleh waktu atau bentuk tertentu.
Namun, penting untuk membedakan antara doa secara umum dan doa khusus untuk momen-momen tertentu yang tidak memiliki dasar yang jelas dalam ajaran Islam. Pendapat Ulama terkemuka, seperti Buya Yahya, pengasuh LPD Al-Bahjah Cirebon, memberikan pencerahan mengenai hal ini. Beliau menegaskan bahwa tidak ada dalil yang mewajibkan membaca doa atau dzikir tertentu pada pergantian tahun Hijriah. Doa awal dan akhir tahun, menurut Buya Yahya, bukan ajaran Nabi Muhammad SAW dan tidak pernah dipraktikkan oleh para sahabat.
Meskipun demikian, Buya Yahya menekankan bahwa melakukan doa di awal tahun, asalkan tidak diklaim sebagai ajaran Nabi SAW dan tidak menyimpang dari ajaran Islam, bukanlah bid’ah. Beliau membedakan antara inovasi dalam ibadah yang telah ditetapkan syariat (yang merupakan bid’ah) dan inovasi dalam hal-hal yang tidak terikat secara spesifik dalam syariat. Buya Yahya menjelaskan, "Inovasi pada ibadah yang sudah ditentukan bentuknya, itu nggak boleh. Biarpun Anda jago senam, gak boleh rukuknya ditambah dengan model senam. Tapi ada ibadah yang dibebaskan Allah, tidak diikat. Maka Anda boleh memilih di situ. Misalnya perbanyak zikir dan Allah tidak batasi waktunya, maka zikirlah apa saja, subhanallah atau allahuakbar, dan itu bebas waktunya."

Pernyataan Buya Yahya ini perlu dipahami dengan seksama. Beliau tidak melarang umat Islam untuk berdoa di awal tahun baru Hijriah. Sebaliknya, beliau justru mendorong perbanyak doa sebagai bentuk ibadah yang dianjurkan. Yang perlu dihindari adalah menetapkan doa tertentu sebagai doa wajib atau lebih utama daripada doa-doa yang diajarkan Nabi Muhammad SAW. Doa, menurut Buya Yahya, merupakan ibadah yang sifatnya bebas. Umat Islam diperbolehkan untuk memanjatkan doa sesuai dengan kebutuhan dan keinginan masing-masing, dengan tetap berpedoman pada ajaran Islam. Doa-doa yang diajarkan Nabi SAW tentu lebih utama, namun doa-doa yang dipanjatkan dengan niat yang tulus dan ikhlas juga akan diterima Allah SWT.
Pergantian tahun Hijriah, sebagaimana dijelaskan Buya Yahya, merupakan momen yang tepat untuk melakukan introspeksi diri dan merenungkan perjalanan spiritual di tahun yang telah berlalu. Memanfaatkan momen ini untuk memperbanyak doa dan memohon ampunan atas dosa-dosa yang telah diperbuat merupakan suatu hal yang positif dan dianjurkan. Hal ini sejalan dengan ajaran Islam yang menekankan pentingnya bertaubat dan memohon ampunan kepada Allah SWT.
Meskipun tidak ada doa khusus yang diajarkan untuk awal tahun Hijriah, beberapa buku rujukan keagamaan menyajikan contoh-contoh doa yang dapat dipanjatkan. Contohnya, doa awal dan akhir tahun yang dikutip dari buku "Majmu’ Ad-Da’awaat: Kumpulan Doa-Doa Pilihan" karya Ust. Risky Aviv Nugroho, M.Pd. Doa-doa tersebut hanya sebagai contoh dan tidak bersifat wajib untuk dibacakan. Umat Islam tetap diberikan kebebasan untuk memanjatkan doa dengan kata-kata sendiri, asalkan doa tersebut berisi permohonan kepada Allah SWT dan tidak bertentangan dengan ajaran Islam.
Sebagai penutup, perlu ditekankan bahwa perayaan Tahun Baru Islam hendaknya dimaknai sebagai momentum untuk meningkatkan ketaqwaan kepada Allah SWT. Introspeksi diri, perbanyak ibadah, dan memperbanyak doa merupakan amalan-amalan yang dianjurkan. Membaca doa khusus di awal tahun boleh dilakukan sebagai bentuk ibadah tambahan, asalkan tidak diklaim sebagai suatu kewajiban atau lebih utama daripada doa-doa yang diajarkan Nabi Muhammad SAW. Yang terpenting adalah niat dan keikhlasan dalam beribadah kepada Allah SWT. Perdebatan seputar doa awal tahun ini sebaiknya dihindari, dan fokus utama adalah pada penghayatan makna spiritual dari pergantian tahun Hijriah sebagai kesempatan untuk memperbaiki diri dan menjalani kehidupan yang lebih baik di tahun yang akan datang. Dengan demikian, perayaan Tahun Baru Islam akan menjadi momen yang penuh berkah dan meningkatkan keimanan umat Muslim.



