Bulan Muharram, salah satu dari empat bulan haram dalam kalender Islam, kembali menyapa umat Muslim di seluruh dunia. Di tengah kesibukan aktivitas sehari-hari, momentum ini menjadi kesempatan istimewa untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT melalui amalan sunnah yang sarat dengan keutamaan, yaitu puasa Tasua dan Asyura. Puasa Tasua jatuh pada tanggal 9 Muharram, sementara Asyura dijalankan pada tanggal 10 Muharram. Meskipun bersifat sunnah, keutamaan yang dijanjikan bagi yang melaksanakannya begitu besar sehingga sayang untuk dilewatkan. Tahun 2025 M bertepatan dengan 1447 H, jadwal pelaksanaan kedua puasa ini perlu diperhatikan agar umat Muslim dapat mempersiapkan diri secara optimal.
Menilik Kalender Hijriah dan Hikmah Bulan Muharram
Kementerian Agama Republik Indonesia (Kemenag RI) telah menerbitkan kalender Hijriah 1447 H/2025 M. Jadwal pasti puasa Tasua dan Asyura akan tercantum di dalamnya, memberikan panduan bagi umat Muslim untuk menentukan tanggal pelaksanaan. Penting untuk merujuk pada kalender resmi Kemenag RI atau lembaga-lembaga terpercaya lainnya untuk memastikan keakuratan tanggal. Ketepatan penentuan tanggal ini sangat penting karena berkaitan dengan pelaksanaan ibadah.
Bulan Muharram sendiri memiliki kedudukan yang mulia dalam Islam. Rasulullah SAW bersabda, "Zaman berputar seperti hari Allah menciptakan langit dan bumi. Satu tahun itu terdiri dari 12 bulan, di antaranya 4 bulan Haram, tiga bulan berurutan, Dzulqaidah, Dzulhijjah, dan Muharram. Adapun Rajab yang juga merupakan bulannya kaum Mudhr, berada di antara Jumadil Akhir dan Sya’ban." (HR Bukhari Muslim). Hadits ini menegaskan kemuliaan bulan Muharram sebagai salah satu bulan haram, di mana amalan kebaikan di dalamnya akan dilipatgandakan pahalanya. Lebih lanjut, berdasarkan hadits Nabi Muhammad SAW yang diriwayatkan Abu Dawud, Tirmidzi, Nasa’i, Ibnu Majah dan Ahmad, puasa di bulan Muharram menempati posisi kedua setelah puasa Ramadan, menunjukkan keutamaan yang luar biasa dari ibadah ini. Beliau bersabda, "Sebaik-baik puasa setelah bulan Ramadan adalah puasa bulan Muharram dan sebaik-baik salat setelah salat wajib adalah salat malam."
Hukum dan Dalil Puasa Tasua dan Asyura

Puasa Tasua, yang dijalankan pada tanggal 9 Muharram, hukumnya sunnah. Hadits dari Ibnu Abbas RA menyebutkan, Rasulullah SAW bersabda, "Seandainya aku masih hidup sampai tahun depan, niscaya aku akan berpuasa pada tanggal 9 Muharram." (HR Muslim). Puasa ini memiliki makna penting sebagai pembeda dengan amalan puasa yang dilakukan oleh kaum Yahudi yang hanya berpuasa pada tanggal 10 Muharram (Asyura).
Sementara itu, puasa Asyura, yang dijalankan pada tanggal 10 Muharram, hukumnya sunnah muakkad, artinya sangat dianjurkan. Hadits dari Ibnu Abbas RA yang diriwayatkan secara mutafaq ‘alaih (disepakati oleh Bukhari dan Muslim) menjelaskan, "Rasulullah SAW berpuasa pada hari Asyura dan menyuruh untuk berpuasa pada hari itu." Hal ini menunjukkan anjuran yang kuat dari Rasulullah SAW untuk melaksanakan puasa Asyura. Lebih jauh, Syarah Riyadhus Shalihin Imam Nawawi yang disyarah Musthafa Dib al Bugha menjelaskan bahwa puasa Tasua dimaksudkan sebagai pembeda dengan bangsa Yahudi yang hanya berpuasa pada hari Asyura.
Niat Puasa Tasua dan Asyura: Kunci Penerimaan Amalan
Sebelum melaksanakan puasa Tasua dan Asyura, niat merupakan hal yang sangat penting. Niat ini dibaca pada malam hari sebelum memulai puasa, sebaiknya setelah salat Isya. Berikut bacaan niat puasa Tasua dan Asyura:
-
Niat Puasa Tasua: "Nawaitu shauma yauma tasu’ata sunnatan lillahi ta’ala." (Artinya: Saya berniat puasa Tasu’a sunnah karena Allah Ta’ala.)
-
Niat Puasa Asyura: "Nawaitu shauma yauma ‘asyura sunnatan lillahi ta’ala." (Artinya: Saya berniat puasa Asyura sunnah karena Allah Ta’ala.)
Meskipun puasa Tasua dan Asyura termasuk puasa sunnah, membaca niat sebelum terbit fajar tetap dianjurkan untuk lebih mengoptimalkan ibadah. Namun, jika niat terlupakan dan baru dibaca setelah matahari terbit, puasa tetap sah, karena hukumnya sunnah.
Tata Cara Puasa Tasua dan Asyura: Mengikuti Sunnah Rasulullah SAW
Tata cara puasa Tasua dan Asyura sama dengan puasa-puasa sunnah lainnya. Umat Muslim diwajibkan menahan diri dari makan, minum, dan segala hal yang membatalkan puasa dari terbit fajar hingga terbenam matahari. Setelah adzan Maghrib berkumandang, puasa dapat dibatalkan dengan berbuka. Penting untuk menjaga kesucian hati dan niat yang ikhlas dalam menjalankan puasa ini.
Keutamaan Puasa Tasua dan Asyura: Pahala yang Melimpah Ruah
Puasa Tasua dan Asyura memiliki keutamaan yang luar biasa, seperti yang dijelaskan dalam berbagai hadits dan kitab-kitab hadits. Beberapa keutamaan tersebut antara lain:
-
Penghapus Dosa: Hadits Rasulullah SAW menyebutkan, "Puasa Arafah menghapus dosa dua tahun yang lalu dan yang akan datang, sementara puasa Asyura menghapus dosa setahun yang lalu." (HR Muslim). Keutamaan ini menunjukkan betapa besarnya ampunan yang diberikan Allah SWT kepada hamba-Nya yang menjalankan puasa Asyura.
-
Pembeda dengan Puasa Yahudi: Puasa Tasua menjadi pembeda dengan puasa yang dijalankan oleh kaum Yahudi yang hanya berpuasa pada hari Asyura. Hadits dari Ibnu Abbas RA menjelaskan, "Nabi SAW datang di Madinah, tiba-tiba beliau mendapati orang-orang Yahudi pada berpuasa Asyura (10 Muharram). Mereka berkata, ‘Ini adalah hari kemenangan Musa terhadap Firaun.’ Lalu Nabi SAW bersabda kepada sahabat-sahabatnya, "Kamu adalah lebih berhak atas Musa daripada mereka, oleh sebab itu berpuasalah!’" (HR Bukhari). Hal ini menunjukkan pentingnya puasa Tasua sebagai bentuk pembeda dan pengukuhan keimanan.
-
Puasa Terbaik Setelah Ramadan: Puasa Tasua dan Asyura termasuk puasa terbaik setelah Ramadan. Hadits dari Abu Hurairah RA menyebutkan, "Salat manakah yang lebih utama setelah salat fardhu?", kemudian Rasulullah menjawab, "Yaitu salat di tengah malam." Lalu ada lagi yang bertanya kepadanya, "Puasa manakah yang lebih utama setelah puasa Ramadhan?", dan Rasulullah bersabda, "Puasa pada bulan Allah yang kamu namakan bulan Muharram." (HR Ahmad, Muslim, dan Abu Daud). Hal ini menunjukkan keutamaan bulan Muharram sebagai bulan yang penuh berkah.
-
Pahala yang Luar Biasa: Dalam Fadha ‘Ilul Quqat (Edisi Indonesia) oleh Imam Baihaqi terjemahan Muflih Kamil, disebutkan bahwa pahala puasa Asyura setara dengan pahala 10.000 orang pergi haji. Hadits dari Ibnu Abbas RA menyebutkan berbagai keutamaan lain, seperti pahala ibadah selama 60 tahun, pahala 10.000 malaikat, dan pahala memberi makan seluruh fakir miskin umat Muhammad SAW. Keutamaan ini menunjukkan betapa besarnya ganjaran yang akan diterima oleh orang yang menjalankan puasa Asyura dengan ikhlas.
Puasa Tasua dan Asyura merupakan kesempatan berharga untuk meningkatkan ketakwaan dan mendekatkan diri kepada Allah SWT. Dengan memahami hukum, niat, tata cara, dan keutamaannya, umat Muslim dapat menjalankan ibadah ini dengan penuh kesadaran dan meraih pahala yang melimpah. Semoga Allah SWT menerima amal ibadah kita semua.



