Musim haji 1446 H telah berlalu. Ribuan jamaah haji, para dhuyuf al-Rahman, telah kembali ke tanah air, membawa lebih dari sekadar oleh-oleh dan kenangan indah dari Tanah Suci. Mereka membawa pulang jejak spiritual yang mendalam, sebuah harapan besar yang terpatri dalam setiap langkah tawaf, setiap buih keringat di Arafah, setiap lantunan takbir di Mina: menjadi haji yang mabrur. Namun, bagaimana menjaga dan merawat kemabruran ini setelah kembali ke rutinitas kehidupan sehari-hari? Bagaimana pula bagi mereka yang belum berkesempatan menunaikan ibadah haji? Pertanyaan-pertanyaan ini menjadi renungan penting bagi seluruh umat Islam.
Dalam ajaran Islam, haji bukan sekadar rangkaian ritual fisik di Mekah dan Madinah. Ibadah ini merupakan puncak perjalanan spiritual, sebuah pelatihan jiwa yang mendalam, yang menanamkan nilai-nilai ketulusan, pengorbanan, dan ketundukan mutlak kepada Allah SWT. Rasulullah SAW bersabda, "Al-Hajju al-mabruru laysa lahu jaza’un illa al-jannah," haji mabrur, balasannya tiada lain kecuali surga (HR. Bukhari dan Muslim). Oleh karena itu, menjaga dan merawat kemabruran haji menjadi ikhtiar yang sangat mulia dan menjadi tanggung jawab setiap jamaah yang telah kembali dari Tanah Suci.
Cermin Kemabruran: Beyond the Rituals
Kemabruran haji bukanlah sertifikat yang diberikan setelah menyelesaikan seluruh rangkaian ritual. Ujian sesungguhnya justru dimulai setelah jamaah kembali ke kampung halaman. Seperti ungkapan bijak para ulama, "Madha hajju al-bayti wa baqiya Rabb al-bayt," haji mungkin telah usai, tetapi Allah SWT, Tuhan dari Baitullah, tetap ada, tetap dekat, bahkan lebih dekat dari urat leher kita (Khumays al-Naqib, 2023). Hakikat taqarrub ila Allah tidak mengenal batas geografis. Kedekatan dengan Tuhan bukan hanya terwujud di Tanah Haram, tetapi di mana pun kita berada.
Kain ihram, simbol kesederhanaan, kesucian, dan kerendahan diri di hadapan Allah, telah dilepas. Namun, nilai-nilai yang diwakilinya harus tetap melekat dalam kehidupan sehari-hari. Tawaf di sekitar Kakbah, pengalaman spiritual yang tak terlupakan, kini harus diterjemahkan menjadi "tawaf" di sekitar kita, dengan uluran tangan kepada kaum duafa dan anak yatim. Sai antara Shafa dan Marwah, refleksi perjuangan Bunda Hajar, harus dimaknai sebagai perjuangan untuk menegakkan keadilan dan menolak kemungkaran, sebuah perjuangan tanpa henti.

Ciuman kepada Hajar Aswad, simbol kerinduan dan penyerahan diri, telah berlalu. Namun, kita masih memiliki "Hajar Aswad" lain yang jauh lebih berharga: tangan orang tua yang keriput, kening ibu yang menua, yang jika dicium dengan cinta dan bakti, akan lebih bernilai di sisi Allah SWT. Lempar jumrah, simbol perlawanan terhadap godaan setan, harus diteruskan dalam kehidupan sehari-hari sebagai perlawanan terhadap bisikan hati yang mengajak pada kesombongan, kemunafikan, dan maksiat.
Bagi mereka yang belum berkesempatan menunaikan ibadah haji, semangat kemabruran tetap dapat dihidupkan. Haji bukanlah monopoli kelompok mampu secara materi. Setiap Muslim dapat belajar dari makna dan pesan spiritualnya, dari keikhlasan para jamaah haji, dari doa-doa yang dipanjatkan, dan dari pengorbanan meninggalkan kenyamanan dunia untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT.
Merawat Momentum Perubahan: Kemabruran sebagai Transformasi Jiwa
Kemabruran adalah gambaran kondisi jiwa yang berubah. Imam al-Hasan al-Bashri, seperti dikutip al-Qurthubi, menyebutkan bahwa tanda haji mabrur adalah perubahan nyata dalam kehidupan seseorang: lebih zuhud terhadap dunia, lebih rindu kepada akhirat, lebih tekun dalam ibadah, dan akhlak yang mulia terhadap sesama. Imam Ahmad Zarruq al-Fasi menambahkan bahwa haji mabrur adalah haji yang dijalankan tanpa maksiat sejak awal hingga akhir. Imam al-Nawawi menekankan bahwa tanda diterimanya haji adalah kembalinya seseorang dalam keadaan lebih baik dari sebelumnya dan tidak mengulangi perbuatan maksiat.
Merawat kemabruran berarti menjaga momentum perubahan ini. Kuncinya adalah muraqabah, kesadaran bahwa hidup selalu berada dalam pengawasan Allah SWT. Ini adalah ketakwaan hati yang hakiki, sebagaimana firman Allah SWT, "Wa man yu’azhzhim sha’a’ir Allah fa innaha min taqwa al-qulub," Barang siapa mengagungkan syiar-syiar Allah, maka sesungguhnya itu lahir dari ketakwaan hati (QS. al-Hajj: 32).
Menjaga kemabruran juga berarti menjaga misi haji sebagai momentum perbaikan diri: mengendalikan nafsu, menyuburkan kejujuran, dan menebar rahmat dalam kehidupan sosial. Semangat kemabruran menjadi rem spiritual di tengah derasnya arus kehidupan yang sering melenakan. Perjalanan spiritual ke Tanah Suci bukanlah tujuan akhir, melainkan awal dari perjalanan panjang menuju Allah SWT. Kain ihram, secara metaforis, harus membungkus jati diri kita dengan kesederhanaan, kerendahan hati, dan keikhlasan.
Haji: Ruh yang Menggerakkan Kebaikan
Mari kita jadikan haji bukan sekadar ibadah tahunan atau capaian prestisius, tetapi sebagai ruh yang menggerakkan kebaikan. Bagi yang telah menunaikannya, semoga semakin memperteguh langkah dalam mewujudkan kesalehan yang hakiki. Bagi yang belum berhaji, semoga Allah SWT membukakan jalan dan kesiapan lahir batin untuk menunaikan ibadah suci ini. Amin ya Rabb al-‘Alamin.
(Prof. Dr. Ahmad Thilabi Kharlie)
(Disarikan dari Khutbah Jumat, Prof. Dr. Ahmad Tholabi Kharlie, 20 Juni 2025. Penulis adalah Guru Besar UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Artikel ini merupakan kiriman pembaca detikcom. Seluruh isi artikel menjadi tanggung jawab penulis.)




