Bulan Muharram, salah satu dari empat bulan mulia dalam kalender Islam, tiba kembali. Sebagai bulan yang diagungkan, Muharram menjadi momentum bagi umat Muslim untuk meningkatkan kualitas ibadah dan memperbanyak amal saleh. Landasan keagungan bulan ini termaktub dalam firman Allah SWT dalam surat At-Taubah ayat 36:
"Sesungguhnya bilangan bulan di sisi Allah ialah dua belas bulan, (sebagaimana) ketetapan Allah (di Lauhul Mahfuz) pada waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya ada empat bulan haram. Itulah (ketetapan) agama yang lurus, maka janganlah kamu menzalimi dirimu padanya (empat bulan itu), dan perangilah orang-orang musyrik semuanya sebagaimana mereka pun memerangi kamu semuanya. Ketahuilah bahwa sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang bertakwa."
Ayat tersebut menegaskan kedudukan Muharram sebagai bulan mulia di mana amal kebaikan dianjurkan dan perbuatan maksiat dihindari. Momentum ini hendaknya dimanfaatkan sebaik mungkin untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT. Berbagai amalan sunnah dapat dilakukan untuk memperkaya ibadah di bulan Muharram, seperti yang dirangkum berikut ini berdasarkan rujukan buku "Kalender Ibadah Sepanjang Tahun" karya Ustadz Abdullah Faqih Ahmad Abdul Wahid dan sumber-sumber terpercaya lainnya:
1. Puasa Penghujung Dzulhijjah dan Awal Muharram:
Amalan pertama yang dianjurkan adalah berpuasa di penghujung bulan Dzulhijjah dan hari pertama Muharram. Puasa ini menjadi sarana refleksi diri dan permohonan ampunan atas dosa-dosa masa lalu. Hadits riwayat Ibnu Abbas RA menyebutkan keutamaan puasa ini:

"Barangsiapa yang berpuasa pada hari terakhir bulan Dzulhijjah dan hari pertama bulan Muharram, maka Allah akan mengampuni segala dosanya, meskipun ia telah berdosa selama lima puluh tahun."
Meskipun hadits ini dinilai dhaif (lemah) oleh sebagian ulama, namun semangat untuk memperbanyak amal ibadah di masa pergantian tahun Hijriah tetaplah dianjurkan. Puasa ini menjadi simbol penyucian diri dan memulai lembaran baru dengan niat yang lebih baik.
2. Membaca Doa Akhir Tahun:
Pergantian tahun Hijriah merupakan waktu yang tepat untuk bermuhasabah diri. Setelah melaksanakan shalat Ashar atau sebelum Maghrib, umat Muslim dianjurkan untuk membaca doa akhir tahun sebagai bentuk permohonan ampun atas segala khilaf dan dosa yang telah diperbuat sepanjang tahun yang telah berlalu. Berikut contoh doa akhir tahun yang dikutip dari "Majmu’ Ad-Da’awaat: Kumpulan Doa-Doa Pilihan" karya Ust. Risky Aviv Nugroho, M.Pd. (Doa dalam teks asli berupa tulisan Arab dan latin, perlu diterjemahkan secara akurat dan kontekstual ke dalam bahasa Indonesia yang lugas dan mudah dipahami). (Catatan: Sebaiknya doa tersebut ditampilkan dalam bentuk terjemahan bahasa Indonesia yang baik dan benar).
3. Membaca Doa Awal Tahun:
Setelah berdoa memohon ampunan di penghujung tahun, umat Muslim dianjurkan untuk membaca doa awal tahun pada malam 1 Muharram. Doa ini dibaca sebanyak tiga kali setelah shalat Maghrib. Beberapa ulama berpendapat bahwa mengamalkan doa ini akan mendatangkan perlindungan dari godaan setan sepanjang tahun. (Catatan: Sebaiknya doa tersebut ditampilkan dalam bentuk terjemahan bahasa Indonesia yang baik dan benar). Doa ini dapat diamalkan dengan berbagai cara, seperti membaca langsung setelah shalat, didahului shalat sunnah dua rakaat, atau bahkan diiringi sujud syukur. Amalan selama sepuluh hari berturut-turut juga diperbolehkan.
4. Menghidupkan Malam Pertama Muharram dengan Qiyamul Lail:
Malam pertama Muharram hendaknya dipenuhi dengan berbagai ibadah. Qiyamul lail (shalat malam) menjadi amalan utama yang dianjurkan. Selain shalat malam, membaca Al-Qur’an, berdzikir, dan berdoa merupakan amalan-amalan yang sangat dianjurkan untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT dan memohon keberkahan di tahun baru Hijriah.
5. Amalan Setelah Shalat Subuh:
Sebagian ulama menganjurkan amalan khusus setelah shalat Subuh di bulan Muharram. Membaca basmalah dan ayat Kursi masing-masing sebanyak 360 kali diyakini dapat mendatangkan kelapangan rezeki, perlindungan dari musibah, dan keselamatan dalam kehidupan. Amalan ini menekankan pentingnya memulai hari dengan dzikir dan doa untuk memohon pertolongan Allah SWT.
6. Berpuasa di Hari Pertama Muharram:
Selain puasa di akhir Dzulhijjah, berpuasa di hari pertama Muharram juga memiliki keutamaan tersendiri. Hadits riwayat Muslim dari Abu Hurairah RA menyebutkan:
"Puasa yang paling utama setelah puasa Ramadhan adalah puasa di bulan Muharram, dan shalat yang paling utama setelah shalat fardhu adalah shalat malam."
Hadits ini menunjukkan keutamaan puasa di bulan Muharram, khususnya di hari pertamanya. Memulai tahun baru dengan puasa menjadi wujud kesungguhan dalam beribadah dan memohon ridho Allah SWT.
7. Puasa Tasu’ah (9 Muharram):
Puasa Tasu’ah, yang dijalankan pada tanggal 9 Muharram, juga memiliki keutamaan. Riwayat Ibnu Abbas RA menceritakan bahwa Rasulullah SAW bermaksud untuk membedakan puasa umat Islam dengan puasa kaum Yahudi yang jatuh pada tanggal 10 Muharram. (Catatan: Sebaiknya niat puasa Tasu’ah dalam bahasa Arab dan latin disertai terjemahan bahasa Indonesia yang akurat).
8. Puasa Asyura (10 Muharram):
Puasa Asyura, yang dijalankan pada tanggal 10 Muharram, memiliki keutamaan yang sangat besar. Hadits riwayat Ibnu Abbas RA menyebutkan pahala yang luar biasa bagi yang menjalankannya (Hadits perlu ditampilkan secara lengkap dan akurat, jika memungkinkan dengan berbagai riwayat yang ada). (Catatan: Sebaiknya niat puasa Asyura dalam bahasa Arab dan latin disertai terjemahan bahasa Indonesia yang akurat).
9. Amalan Kebaikan di Hari Asyura:
Hari Asyura bukan hanya tentang puasa. Berbagai amalan kebaikan lainnya juga dianjurkan, seperti bersedekah, membantu sesama, mengunjungi kerabat, dan mempererat silaturahmi. Amalan-amalan ini mencerminkan semangat berbagi dan kepedulian sosial yang diajarkan oleh Islam.
10. Membaca Doa Asyura:
Doa Asyura biasanya dibaca setelah shalat Maghrib. Beberapa ulama menganjurkan untuk mendahuluinya dengan shalat sunnah empat rakaat. (Catatan: Doa Asyura dalam bahasa Arab dan latin perlu ditampilkan, disertai terjemahan bahasa Indonesia yang akurat dan mudah dipahami). Membaca doa ini dengan khusyuk dan penuh harap akan meningkatkan kualitas ibadah di hari Asyura.
11. Puasa 11 Muharram:
Untuk membedakan puasa umat Islam dengan puasa Yahudi, Ibnu Qayyim al-Jauziyah dan ulama lain menganjurkan puasa pada tanggal 11 Muharram. Hal ini didasarkan pada hadits riwayat Ibnu Abbas RA yang menyebutkan anjuran berpuasa sehari sebelum dan sesudah Asyura.
12. Puasa Ayyamul Bidh (13, 14, dan 15 Muharram):
Puasa Ayyamul Bidh, yang jatuh pada tanggal 13, 14, dan 15 Muharram, merupakan amalan sunnah yang dianjurkan setiap bulan dalam kalender Hijriah. Puasa ini memiliki keutamaan tersendiri dan menjadi bagian dari ibadah rutin yang dianjurkan.
Kesimpulannya, bulan Muharram menawarkan kesempatan emas bagi umat Muslim untuk meningkatkan kualitas spiritualitas. Dengan mengamalkan amalan-amalan sunnah di atas, diharapkan kita dapat meraih keberkahan dan ampunan dari Allah SWT di bulan mulia ini. Semoga uraian ini dapat menjadi panduan bagi umat Muslim dalam menyambut dan mengisi bulan Muharram dengan penuh makna dan keberkahan. (inf/erd)



