Mekkah, Arab Saudi – Di tengah hiruk-pikuk ibadah haji yang mencapai puncaknya di Arafah dan Mina, sebuah tradisi unik dan sarat makna spiritual bersemi di tengah jemaah haji asal Embarkasi Makassar, Sulawesi Selatan. Tradisi Mappatoppo, atau yang dikenal sebagai "wisuda haji," menjadi bukti nyata bagaimana nilai-nilai budaya dan agama berpadu harmonis dalam merayakan keberhasilan menunaikan rukun Islam kelima. Lebih dari sekadar seremonial, Mappatoppo merupakan ungkapan syukur yang mendalam dan pengukuhan simbolik atas gelar kehormatan "Haji" yang kini melekat pada para jemaah.
Tradisi ini, yang kental dengan identitas masyarakat Bugis-Makassar, tidak hanya menjadi ciri khas dalam menyambut kepulangan para haji, tetapi juga mencerminkan kearifan lokal yang mampu bertahan dan beradaptasi di tengah dinamika zaman. Mappatoppo bukan sekadar ritual, melainkan sebuah prosesi sakral yang menyatukan spiritualitas dan kebudayaan dalam satu ikatan yang kuat.
Musriadi, Pembimbing Ibadah Kloter 6 UPG Embarkasi Makassar, mengungkapkan makna mendalam di balik tradisi Mappatoppo. Baginya, prosesi ini bukan semata-mata pertunjukan seremonial, melainkan ekspresi kekhusyukan dan rasa syukur yang tulus kepada Allah SWT atas kesempatan yang diberikan untuk menunaikan ibadah haji dengan selamat dan lancar. "Tradisi ini adalah wujud rasa syukur atas nikmat Allah SWT. Kita telah menyelesaikan rukun Islam kelima, dan Mappatoppo menjadi lambang keberhasilan spiritual itu," tegas Musriadi, mengungkapkan betapa Mappatoppo merupakan titik kulminasi dari perjalanan spiritual yang panjang dan penuh pengorbanan.
Pelaksanaan Mappatoppo sendiri dilakukan di dalam tenda jemaah, biasanya setelah para jemaah menyelesaikan lempar jumrah aqabah di Mina. Suasana khidmat menyelimuti prosesi ini. Para jemaah, mengenakan pakaian putih yang bersih dan rapi, menunggu giliran untuk menerima pengukuhan simbolik gelar "Haji". Satu per satu, seorang perwakilan akan menyematkan jilbab atau sorban di kepala jemaah, sebuah tindakan yang lebih dari sekadar pemberian aksesori. Ini adalah sebuah penghormatan dan pengakuan resmi atas status baru mereka sebagai Haji dan Hajjah.
Lantunan shalawat dan doa bersama mengiringi setiap prosesi Mappatoppo, menciptakan suasana yang sakral dan mengharukan. Doa-doa dipanjatkan tidak hanya untuk keselamatan dan kesehatan para jemaah, tetapi juga untuk keberkahan dan kebaikan di masa yang akan datang. Dalam kesederhanaan prosesi ini, terkandung nilai-nilai spiritual yang mendalam dan menginspirasi.

Lebih dari sekadar ritual individu, Mappatoppo juga berperan penting dalam memperkuat solidaritas antarjemaah. Para jemaah yang telah bersama-sama menjalani perjalanan panjang dan penuh tantangan di Tanah Suci, kini bersatu dalam suatu ikatan persaudaraan yang kuat. Mappatoppo menjadi momentum untuk mengingat dan menghargai pengalaman bersama, serta menumbuhkan rasa syukur atas kesempatan yang telah diberikan Allah SWT.
Musriadi mengungkapkan kebanggaannya melihat semangat dan kebersamaan para jemaah dalam mempertahankan tradisi Mappatoppo. "Kami sebagai ketua kloter sangat bangga melihat semangat dan kebersamaan para jemaah. Ini adalah momen yang memperkuat ukhuwah Islamiyah," ujarnya, menekankan betapa tradisi ini mampu menyatukan jemaah dari berbagai latar belakang dan menciptakan ikatan persaudaraan yang kuat.
Menariknya, meski berada jauh dari tanah kelahirannya, di tengah lingkungan yang berbeda budaya dan bahasa, para jemaah tetap konsisten memelihara dan melestarikan tradisi Mappatoppo. Hal ini menunjukkan komitmen yang kuat terhadap nilai-nilai budaya dan spiritual yang mereka warisi. Mappatoppo bukan hanya sebuah tradisi, melainkan juga sebuah bentuk identitas yang membanggakan dan patut dijaga kelestariannya.
Di balik suasana keakraban dan kegembiraan Mappatoppo, terdapat harapan yang lebih besar. Gelar "Haji" bukan hanya sebuah gelar kehormatan, tetapi juga sebuah amanah dan tanggung jawab yang besar. Para jemaah diharapkan mampu membawa pulang semangat spiritual yang membekas dalam perilaku dan keteladanan mereka sehari-hari.
Mappatoppo menandai bukan hanya akhir dari perjalanan fisik di Tanah Suci, tetapi juga awal dari perjalanan spiritual yang baru. Para jemaah diharapkan mampu menjadi teladan bagi lingkungan sekitarnya, menunjukkan sikap yang lebih taat, rendah hati, dan bersyukur atas segala nikmat yang telah diberikan Allah SWT.
Musriadi menutup pernyataannya dengan harapan agar tradisi Mappatoppo terus dilestarikan dan menjadi inspirasi bagi generasi mendatang. "Kami berharap tradisi ini terus dilestarikan dan menjadi inspirasi, agar para jemaah pulang membawa nilai-nilai haji yang mabrur dalam kehidupan sehari-hari," tuturnya, menegaskan pentingnya menjaga dan mewariskan tradisi yang sarat makna ini kepada generasi berikutnya. Mappatoppo bukan hanya sebuah tradisi, melainkan sebuah warisan berharga yang harus terus dijaga dan dikembangkan untuk menjaga kelangsungan nilai-nilai spiritual dan budaya bangsa. Semoga tradisi ini terus berkembang dan menjadi inspirasi bagi jemaah haji di masa yang akan datang. Semoga nilai-nilai yang dikandung dalam Mappatoppo mampu menginspirasi dan membawa perubahan positif bagi masyarakat luas.




