Kairo, Republika.co.id – Ketegangan di Timur Tengah kembali memanas setelah Israel mengeluarkan kebijakan kontroversial yang melarang Badan PBB untuk Pengungsi Palestina (UNRWA) beroperasi di wilayah Palestina. Menanggapi kebijakan tersebut, Liga Arab mengumumkan akan mengadakan pertemuan darurat pada Kamis (31/10/2024) untuk membahas langkah tegas terhadap Israel.
Permintaan resmi untuk pertemuan darurat ini diajukan oleh Yordania pada Selasa (29/10/2024), setelah Knesset, parlemen Israel, mengesahkan undang-undang yang melarang UNRWA beroperasi di wilayah Palestina. Undang-undang ini dijadwalkan akan berlaku dalam 90 hari ke depan, dan akan berdampak langsung terhadap kegiatan UNRWA di Gaza, wilayah pendudukan Tepi Barat, dan Yerusalem Timur.
Dalam sebuah pernyataan resmi, Liga Arab menyatakan bahwa sesi darurat ini akan dipimpin oleh Yaman dan akan mengumpulkan perwakilan tetap Liga di kantor pusatnya di Kairo. Tujuan utama dari pertemuan ini adalah untuk merumuskan respons kolektif terhadap larangan Israel terhadap UNRWA dan mencari solusi bersama untuk mengatasi situasi yang semakin memanas ini.
"Liga Arab memandang serius tindakan Israel yang secara sepihak melarang UNRWA beroperasi di wilayah Palestina. Langkah ini merupakan pelanggaran terhadap hukum internasional dan hak-hak dasar rakyat Palestina," tegas pernyataan Liga Arab.
Israel sendiri berdalih bahwa larangan ini dikeluarkan sebagai bentuk protes terhadap dugaan keterlibatan beberapa pegawai UNRWA dalam serangan lintas perbatasan oleh Hamas pada 7 Oktober 2023. Israel juga menuduh bahwa program pendidikan lembaga ini mempromosikan terorisme dan kebencian.

Namun, tuduhan ini dibantah keras oleh UNRWA dan komunitas internasional. Banyak pihak yang menilai bahwa larangan ini merupakan upaya Israel untuk menghambat bantuan kemanusiaan bagi pengungsi Palestina dan untuk memperkuat kontrolnya atas wilayah Palestina.
"Larangan ini merupakan serangan terhadap upaya kemanusiaan dan upaya untuk meringankan penderitaan pengungsi Palestina. Ini adalah tindakan yang tidak bertanggung jawab dan tidak manusiawi," ujar seorang diplomat dari negara Arab yang enggan disebutkan namanya.
Pertemuan darurat Liga Arab ini diharapkan akan menghasilkan langkah-langkah konkret untuk menekan Israel agar mencabut larangan terhadap UNRWA. Beberapa kemungkinan langkah yang bisa diambil oleh Liga Arab antara lain:
- Menerbitkan pernyataan keras yang mengecam tindakan Israel.
- Mendesak Dewan Keamanan PBB untuk mengambil tindakan terhadap Israel.
- Menerapkan sanksi ekonomi terhadap Israel.
- Meminta negara-negara anggota Liga Arab untuk menarik duta besar mereka dari Israel.

"Kami berharap pertemuan ini akan menghasilkan keputusan yang tegas dan efektif untuk melindungi hak-hak rakyat Palestina dan untuk memastikan bahwa UNRWA dapat terus menjalankan tugasnya dalam memberikan bantuan kemanusiaan bagi pengungsi Palestina," ujar seorang diplomat dari negara Arab yang enggan disebutkan namanya.
Pertemuan Liga Arab ini menjadi bukti nyata tentang keprihatinan internasional terhadap kebijakan Israel yang semakin agresif terhadap rakyat Palestina. Pertemuan ini juga menjadi momentum penting bagi negara-negara Arab untuk menunjukkan solidaritas dan dukungannya terhadap perjuangan rakyat Palestina.
Dampak Larangan Terhadap UNRWA
Larangan Israel terhadap UNRWA berpotensi menimbulkan dampak yang sangat besar bagi rakyat Palestina, terutama bagi pengungsi Palestina yang menggantungkan hidupnya pada bantuan UNRWA.
UNRWA merupakan organisasi internasional yang didirikan oleh PBB pada tahun 1949 untuk memberikan bantuan kemanusiaan bagi pengungsi Palestina yang terlantar akibat perang Arab-Israel tahun 1948. UNRWA menyediakan berbagai macam bantuan, seperti pendidikan, kesehatan, dan bantuan sosial bagi pengungsi Palestina di wilayah Palestina, Yordania, Lebanon, Suriah, dan Mesir.



