Yogyakarta, Republika.co.id – Pemerintah Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) menetapkan target ambisius untuk menurunkan prevalensi stunting hingga 14 persen pada akhir tahun 2024, sejalan dengan target nasional. Wakil Gubernur DIY, KGPAA Paku Alam X, mengakui bahwa mencapai target ini merupakan tantangan besar yang membutuhkan respons cepat dan tepat dari seluruh pihak.
"Upaya untuk mencapai target prevalensi stunting 14 persen merupakan tantangan besar yang membutuhkan respons cepat dan tepat. Seluruh pihak harus bersinergi untuk mewujudkan target ini," tegas Wagub Paku Alam X dalam pertemuan Tim Percepatan Penurunan Stunting (TPPS) DIY di Kabupaten Bantul, Rabu (30/10/2024).
Paku Alam X menekankan pentingnya kolaborasi lintas sektor dalam upaya percepatan penurunan stunting. Melalui Peraturan Presiden Nomor 72 Tahun 2021, Forum Koordinasi Percepatan Penurunan Stunting (FKPPS) DIY telah merumuskan berbagai strategi dan langkah kolaboratif untuk mencapai target tersebut.
"Tugas pencegahan stunting menjadi pemikiran kita bersama. Generasi kita harus lebih baik dari kita dan tentu, Pemda DIY tidak bisa sendirian. Dengan adanya penguatan kolaborasi pentahelix untuk percepatan penurunan stunting, mari berkolaborasi demi tujuan bersama," imbau Wagub.
Strategi Menyeluruh untuk Tekan Stunting

Wagub Paku Alam X memaparkan sejumlah langkah strategis yang akan dijalankan untuk menangani stunting di DIY. Prioritas utama adalah penguatan kelembagaan dan koordinasi lintas sektor, yang menurutnya sangat penting selain pemanfaatan data dan teknologi informasi.
"Penguatan kelembagaan dan koordinasi lintas sektor menjadi kunci keberhasilan dalam penanganan stunting. Pemanfaatan data dan teknologi informasi juga akan sangat membantu dalam memetakan dan memantau perkembangan stunting di DIY," jelasnya.
Langkah strategis lainnya yang akan dilakukan adalah perubahan perilaku dan pendampingan keluarga. Wagub Paku Alam X menekankan pentingnya perubahan pola asuh dan konsumsi makanan bagi anak-anak.
"Jangan membiasakan anak-anak makan sesuatu yang mereka mau, tetapi merugikan tubuh kecilnya. Tinggalkan prinsip yang penting tidak rewel, tidak nangis, padahal secara hitung-hitungan mungkin protein dan lain sebagainya di bawah standar," tegas Wagub.
"Perubahan perilaku sekaligus pendampingan keluarga juga menjadi hal yang penting dilakukan. Tidak perlu strategi yang muluk-muluk, yang penting dimengerti dan dipahami masyarakat sehingga tumbuh kesadarannya," lanjutnya.

Kolaborasi Pentahelix: Kunci Percepatan Penurunan Stunting
Kepala BKKBN DIY, Mohamad Iqbal Apriansyah, menegaskan bahwa pertemuan TPPS DIY kali ini mengangkat tema "Penguatan Kolaborasi Pentahelix untuk Percepatan Penurunan Stunting". Tujuannya adalah untuk mewujudkan kehadiran pemerintah dalam meningkatkan kualitas keluarga di DIY.
Iqbal berharap pertemuan ini dapat melahirkan upaya kolaborasi yang melibatkan seluruh lintas sektor pentahelix, termasuk pemerintah, akademisi, dunia usaha, media, dan masyarakat. Kolaborasi ini, menurutnya, perlu dilakukan secara terintegrasi, kolaboratif, dan komprehensif.
"Seluruh kabupaten dan kota di DIY sudah melakukan audit kasus stunting, baik itu siklus satu maupun siklus kedua. Kabupaten Bantul, Kabupaten Gunungkidul, Kabupaten Kulon Progo sudah selesai untuk siklus 1, sampai dengan tahap evaluasi," ungkap Iqbal.
Aplikasi Elsimil dan Program Bapak/Bunda Asuh: Upaya Pendampingan dan Dukungan
Iqbal menambahkan bahwa langkah selanjutnya adalah pemanfaatan aplikasi pendampingan melalui aplikasi elektronik Siap Nikah Siap Hamil (Elsimil) bagi calon pengantin, ibu hamil, ibu pasca salin, dan ibu yang memiliki bayi dua tahun. Selain itu, mini lokakarya kecamatan melalui forum pertemuan di tingkat kabupaten juga akan dilaksanakan untuk memantau kondisi di wilayah masing-masing.
"DIY juga memiliki program yang digalakkan yaitu bapak asuh dan bunda asuh anak stunting. Di DIY sudah ada 21 mitra pemberi manfaat kepada sasaran penerima sejumlah 1.433 keluarga berisiko stunting," ungkap Iqbal.
Tantangan dan Harapan
Penurunan prevalensi stunting di DIY menghadapi sejumlah tantangan, seperti akses terhadap layanan kesehatan yang masih belum merata, kurangnya pengetahuan dan kesadaran masyarakat tentang stunting, serta faktor kemiskinan.




