• Tentang Kami
  • Berita
  • Inspirasi
  • Harmoni
  • Wisata Halal
  • Warga Net
  • Tim Redaksi
No Result
View All Result
Era Madani
  • Bali
  • Berita
  • Kabar
  • Featured
  • Inspirasi
  • Harmoni
  • Budaya
  • Pariwisata
  • Sejarah
  • Gagasan
  • Warga Net
  • Wisata Halal
Era Madani
  • Tentang Kami
  • Berita
  • Inspirasi
  • Harmoni
  • Wisata Halal
  • Warga Net
  • Tim Redaksi
    animate
No Result
View All Result
Era Madani
No Result
View All Result
Kakao

Ekspor Kakao. - (Foto: indonesia.go.id)

Gubernur Bali Lepas Ekspor Kakao Fermentasi ke Jepang

benlaris by benlaris
in Bali, Berita, Kabar
0 0
0
342
SHARES
2k
VIEWS
Share on FacebookShare on Twitter

ERAMADANI.COM, JEMBRANA – Kamis (20/08/2020), Gubernur Bali Wayan Koster melepas ekspor kakao fermentasi sebanyak 10 ton ke Osaka, Jepang, yang dihasilkan para petani kakao dari Subak Abian Dwi Mekar, Desa Poh Santen, Kabupaten Jembrana.

“Pelepasan ekspor biji kakao fermentasi Bali khas Jembrana ini ke Jepang adalah salah satu implementasi dari lima bidang prioritas,” yjarnya.

“Terutama dalam Pola Pembangunan Semesta Berencana Menuju Bali Era Baru dalam visi Nangun Sat Kerthi Loka Bali,” imbuhnya.

Ia juga mengatakan saat ini sedang diprioritaskan dalam pemulihan perekonomian di masa pandemi Covid-19 yang salah satunya di bidang pangan.

Selain bidang kesehatan dan pendidikan, bidang jaminan sosial dan ketenagakerjaan, maupun pariwisata dan sebagainya.

Acara pelapasan ini juga dihadiri oleh Wagub Bali Tjokorda Oka Artha Ardhana Sukawati, anggota DPR Komisi IV Made Urip, serta Bupati Jembrana I Putu Artha dan Wabup Jembrana I Made Kembabf Hartawab.

“Dengan ekspor biji kakao fermentasi itu, artinya pertanian Bali masih menjadi primadona dan komoditas ekspor yang didambakan dunia di tengah pandemi Covid-19,” ujarnya.

Kakao dari Jembrana, Bali

Untuk menjaga potensi tanaman ini tetap lestari dan memberikan manfaat secara ekonomi kepada petani.

Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi Bali pada 2020 ini telah mengalokasikan bantuan pohon kakao sebanyak 100.000 pohon dengan luas 100 hektarer.

Melansir dari Republika.co.id, sebanyak 10.000 pohon diantaranya dialokasikan di Subak Abian Dwi Mekar, Desa Poh Santen. Kemudian ada juga bantuan bibit kelapa gajah 12.000 pohon dengan luas 100 hektare yang tersebar di beberapa subak abian.

Ada juga bantuan alat pasca-panen kakao yang berlokasi di Unit Pengolahan Hasil Amerta Urip.

Subak Abian Dwi Mekar, Desa Poh Santen berupa bangunan pengolah hasil, unit pengering solar drayer, dan kotak fermentasi serta timbangan duduk.

“Dulu waktu saya menjadi Calon Gubernur Bali, sempat berkunjung ke perkebunan kakao ini, saya lihat kualitasnya bagus, dan sudah saya prediksi waktu itu potensinya di Bali khas Jembrana ini luar biasa,” ujarnya.

Oleh karena itu, sehingga dulu dirinya berpikir perlu didukung perkebunan ini dari hulu dan hilir.

“Ternyata hilirnya sudah bergerak sendiri sampai ke Eropa, sehingga sekarang yang perlu kita tingkatkan adalah produksinya, dan lahannya diperluas,” ucapnya.

Subak abian ini diharapkan dapat membentuk koperasi-koperasi pengolahan dan pemasaran hasil seperti Koperasi Kertha Semaya Semaniya di Desa Nusasari, Kecamatan Melaya.

Nantinya, mampu memproduksi kakao olahan dan telah berhasil menembus pasar dunia, seperti Prancis, Finlandia, dan Jepang.

Koordinasi Pembinaan Melalui Koperasi

Dengan membentuk wadah koperasi, Koster meyakini akan memudahkan para petani untuk koordinasi dan untuk pembinaan, serta dapat menggerakan anggota dalam kerjasama dalam pengelolaan dan pemasaran hasil

Sementara itu, Kadis Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi Bali Ida Bagus Wisnuardhana mengatakan di Kabupaten Jembrana memiliki potensi yang sangat besar

Untuk pengembangan komoditas perkebunan, yang diantaranya seperti komoditas kelapa, kakao, cengkeh, dan vanili.

Ia mengatakan Jembrana merupakan kabupaten dengan luasan kebun kakao terbesar di Bali

Mencapai 43,25 persen, sekaligus merupakan kabupaten yang memiliki fokus untuk mewujudkan kakao fermentasi di Bali.

Kakao Jembrana harganya sangat spesifik berkisar antara Rp 58.000 sampai 60.000 per kilogram dan mungkin ini harga termahal di Indonesia.

Dari total produksi mencapai sekitar 4.849 ton, target biji yang diolah menjadi kakao fermentasi pada tahun ini sekitar 1.00 ton.

Ini akan dipenuhi sekurangnya 600 ton dari Kabupaten Jembrana untuk kebutuhan pasar ekspor ke Osaka Jepang.

“Gambaran ekspor kakao fermentasi membuka mata kita bahwa sektor pertanian, khususnya sub sektor perkebunan masih tetap eksis,” ujarnya. (MYR)

Tags: BaliEkspor KakaoGubernur BaliInfo DenpasarInfo SarbagitaInformasiInformasi COVID-19Informasi Terkini!Jepangpemerintah provinsi baliPemprov Bali
Previous Post

Uang Rupiah 75 Ribu Diluncurkan Bertepatan dengan 75 Tahun Indonesia Merdeka

Next Post

Kini! Pelaku Wisata Bali Beralih Profesi Jadi Petani Rumput Laut

benlaris

benlaris

Next Post
Rumput Laut

Kini! Pelaku Wisata Bali Beralih Profesi Jadi Petani Rumput Laut

ribu

Uang Edisi Rp 75 Ribu Bisa Dibelanjakan, Peminatnya Capai Puluhan Ribu

positif

Klaster Baru Ditemukan, Positif Covid-19 di Banyuwangi Meningkat

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Facebook Twitter Youtube Vimeo Instagram

Category

  • Bali
  • Berita
  • Budaya
  • Featured
  • Gagasan
  • Geopolitik, Kepemimpinan, Kaderisasi, Strategi Partai, Identitas Keumatan, Jaringan Global, Pemberdayaan Sumber Daya Manusia
  • Harmoni
  • Headline
  • Inspirasi
  • Kabar
  • Keamanan
  • Kesehatan
  • Keuangan
  • Mancanegara
  • Olahraga
  • Opini
  • Pariwisata
  • Pendidikan
  • Peristiwa
  • Politik
  • Sejarah
  • Sponsored
  • Teknologi
  • Uncategorized
  • Warga Net
  • Wisata Halal

© 2020 EraMadani - Harmoni dan Inspirasi.

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • TENTANG KAMI
  • BERITA
  • BALI
  • KABAR
  • FEATURED
  • TIM REDAKSI

© 2020 EraMadani - Harmoni dan Inspirasi.