ERAMADANI.COM, DENPASAR – Kematian babi di Bali, yang diduga oleh virus flu babi, membuat Wakil Ketua DPRD Kota Denpasar, Bali Made Muliawan Arya mengharapkan masyarakat mewaspadai dan mengurangi konsumsi daging babi.
Karena, wabah virus demam babi afrika (African Swine Fever/ASF) akhir-akhir ini menyebar di sejumlah wilayah di Bali.
Dengan Begitu, DPRD Kota Denpasar berharap kepada mayarakat agar mengurangi mengkomsumsi babi, karena dikhawtirkan akan berdampak tidak baik.
“Saya mengharapkan masyarakat, khususnya di Kota Denpasar menjaga kesehatan karena telah terjadi wabah virus demam babi afrika,” tutur Muliawan Arya menyikapi terjadinya wabah virus tersebut di Denpasar, Sabtu (08/02/2020).
Imbauan Untuk Masyarakat Bali Kurangi Konsumsi Babi

“Warga diimbau mengurangi konsumsi daging tersebut untuk sementara waktu, sembari menunggu informasi lebih lanjut dari dinas peternakan setempat,” tambahnya.
Dilansir dari Republika.co.id, ia meminta Dinas Peternakan dan Pertanian Denpasar terus memantau ke lapangan atau ke peternak babi langsung agar dapat melihat apa yang terjadi dilapangan.
“Dengan langkah tersebut para peternak dan masyarakat akan lebih mengetahui gejala-gejala terjadinya serangan virus demam babi afrika,” paparnya.
“Untuk itu kami juga meminta kepada instansi pemerintah menyampaikan informasi terkait penyakit itu,” ujar Muliawan.
Baginya dengan adanya informasi secara resmi dari pemerintah (Dinas Peternakan dan Pertanian) maka warga akan mengetahui tentang virus yang menyerang babi.
Terlebih di Bali menjelang Hari Raya Galungan dan Kuningan, biasanya masyarakat memotong babi, untuk itu masyarakat harus kurangi konsumsi babi.
“Menjelang Hari Raya Gulungan dan Kuningan sebagian masyarakat di Pulau Dewata melakukan tradisi pemotongan babi,” ucapnya.
“Karena informasi itu sangat diperlukan, dengan adanya informasi mengenai kesehatan ternak babi maka masyarakat akan lebih waspada,” ucapnya.
Hal yang sama juga dikatakan Wakil Ketua DPRD Provinsi Bali Nyoman Suyasa. Ia juga meminta Dinas Peternakan setempat terus melakukan pemantauan ke masyarakat atau peternak babi.
“Saya mengharapkan Dinas Peternakan dan Pertanian agar terus melakukan pemantauan di lapangan, karena semakin merebak wabah demam babi afrika,” kata Nyoman Suyasa.
Ia mengharapkan gerakan pemantauan ke lapangan sangat penting, jika hanya menunggu laporan masyarakat akan lambat penanganannya.
Saat ini para peternak babi di Bali sudah mengalami kekhawatiran dengan adanya wabah virus ASF, sehingga perlu untuk ditikdaklanjuti. (MYR)




