Jakarta, 2 Juni 2025 – Niat awal hanya untuk menunaikan ibadah umrah, justru berbuah manis bagi Prof. Dr. Tatang Muttaqin, Direktur Jenderal Pendidikan Vokasi, Pendidikan Khusus, dan Layanan Khusus Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek). Sebuah perjalanan tak terduga membawanya menunaikan ibadah haji di tahun 2015 tanpa harus melalui antrean panjang yang lazim di Indonesia, bahkan tanpa manasik haji konvensional. Kisah ini bermula dari keinginannya untuk mengunjungi Tanah Suci, sebuah hasrat yang terpendam selama lima tahun masa studinya di Belanda.
"Saya memang berencana umrah. Lima tahun di Eropa, saya sudah menjelajahi berbagai negara, tetapi belum pernah menjejakkan kaki ke Tanah Suci," ungkap Tatang saat ditemui detikHikmah di kantornya. Saat itu, ia tengah menempuh pendidikan doktoral (S3) Sosiologi di University of Groningen, Belanda, bersama istri dan tiga anaknya. Berbagai destinasi wisata Eropa telah dijelajahi, namun kerinduan untuk menunaikan ibadah umrah tetap membayangi.
Perubahan Tak Terduga: Dari Umrah ke Haji
Perjalanan menuju Tanah Suci mengambil alur yang tak terduga. Saat mencari paket umrah, Tatang justru mendapatkan tawaran menarik dari sebuah biro perjalanan milik komunitas Turki, Milli Gorus. Tawaran ini mengubah rencana umrahnya menjadi sebuah perjalanan haji yang tak terbayangkan sebelumnya.
"Saya mendaftar dan membayar sekitar €1.250 untuk umrah. Namun, mereka justru bertanya, ‘Anda belum pernah menunaikan haji, kami masih memiliki kuota jemaah haji, apakah Anda berminat?’" kenang Tatang. Rasa ragu sempat menggelayut di hatinya, mengingat antrean haji di Indonesia yang bisa mencapai puluhan tahun.

"Saya katakan, ‘Haji kan harus antre,’ mereka menjawab, ‘Di sini tidak ada antrean. Daftar hari ini, Anda bisa berangkat pada musim haji mendatang’," lanjut Tatang. Tawaran tersebut begitu menggiurkan. Ia pun memutuskan untuk membayar uang muka sekitar €2.000, kemudian melunasi sisanya setelah Lebaran. Total biaya haji saat itu mencapai sekitar €2.400 atau sekitar Rp 45 juta (kurs saat itu). Meskipun lebih mahal daripada haji reguler di Indonesia yang disubsidi pemerintah, prosesnya jauh lebih sederhana dan tanpa antrean panjang.
"Saya tidak memberitahu siapa pun, takut batal. Saya biasa menjadi khatib di sana, akan malu jika sudah mengumumkan keberangkatan tetapi kemudian batal. Jadi, saya pergi diam-diam," ujarnya sambil tertawa.
Tantangan Mengurus Anak dan Kendala Bahasa
Keberangkatan Tatang ke Tanah Suci bukan tanpa tantangan. Ia harus menitipkan ketiga anaknya kepada seorang ibu Indonesia yang menikah dengan warga Belanda. Keputusan ini diambil setelah mempertimbangkan berbagai faktor, termasuk kendala bahasa dan keterbatasan bantuan dari keluarga di Indonesia.
"Kami sempat bingung, ingin meminta bantuan orang tua, tetapi mereka tidak mengerti bahasa Belanda. Akhirnya, kami menitipkan anak-anak kepada teman yang biasa mengasuh anak-anak lain juga," jelas Tatang. Sistem sosial di Belanda yang memungkinkan warga negara ikut program sukarelawan (mandatory volunteer), termasuk membantu komunitas atau saling menjaga anak, menjadi solusi atas permasalahan ini. "Tidak enak juga jika meminta bantuan guru, karena gurunya semua orang Belanda," tambahnya.
Perjalanan haji Tatang juga diwarnai dengan kendala bahasa. Ia berangkat bersama sekitar 80-100 jemaah muslim Turki dari Belanda dalam kloter yang dikelola oleh jaringan biro perjalanan besar asal Turki. Jaringan ini memiliki layanan terintegrasi, mulai dari hotel, pesawat, hingga jaringan ke berbagai negara seperti Australia, Amerika, dan Inggris.
"Mereka memiliki hotel dan pesawat sendiri," kata Tatang. Selama di Tanah Suci, ia menginap di Aziziyah, lokasi yang tidak jauh berbeda dengan penginapan jemaah haji reguler Indonesia. Namun, terdapat perbedaan signifikan, yaitu tidak adanya istilah haji plus. "Semua sama. Mau dua minggu atau empat minggu, harganya sama," ujarnya. Kendala bahasa menjadi tantangan tersendiri, terutama saat mengikuti ceramah yang disampaikan dalam bahasa Turki. "Ceramahnya pakai bahasa Turki. Ya sudah, saya dengarkan sebisa mungkin," katanya sambil tersenyum.
Ibadah Haji Tanpa Manasik dan Rombongan Indonesia
Keunikan perjalanan haji Tatang terletak pada absennya manasik haji dan rombongan Indonesia. Ia menjalankan ibadah haji dengan mengikuti alur yang ada, bergabung dengan rombongan lain jika terpisah. "Saya ikut saja alurnya. Jika ketinggalan rombongan, ya bergabung dengan rombongan lain. Ibadah haji banyak yang berupa ibadah fisik. Yang penting kuat jalan," ujarnya santai. Meskipun ada dua pembimbing yang mendampingi, Tatang mengaku banyak menjalani ibadah haji dengan intuisi dan mengikuti jemaah lain. "Bismillah saja. Yang penting niat," ucapnya mantap.
Refleksi dan Kesimpulan: Sebuah Peluang yang Tak Terduga
Sepuluh tahun telah berlalu sejak keberangkatan haji dari Belanda. Tatang merasa pengalaman tersebut sudah cukup. Ia menyadari bahwa masih banyak orang yang mengantre untuk menunaikan ibadah haji di Indonesia. "Saya pikir ya sekali seumur hidup saja. Yang lain masih banyak yang antre. Di Indonesia saya sudah hopeless, daftar di Depok 30 tahun. Berarti berangkat umur 65, itu juga belum tentu," ujarnya.
Bagi Tatang, berhaji dari luar negeri bukanlah soal kemewahan atau eksklusivitas, melainkan sebuah peluang yang terbuka lebar dan ia tidak menyia-nyiakannya. "Yang penting kita siap. Fisik, niat, dan tanggung jawab. Karena panggilan itu bisa datang kapan saja," tutupnya. Kisah Tatang Muttaqin menjadi sebuah pengingat bahwa jalan menuju Baitullah bisa datang dalam berbagai bentuk dan cara, bahkan di luar ekspektasi awal. Keberanian untuk mengambil peluang dan keteguhan niat menjadi kunci utama dalam perjalanan spiritualnya yang tak terduga ini.



