• Tentang Kami
  • Berita
  • Inspirasi
  • Harmoni
  • Wisata Halal
  • Warga Net
  • Tim Redaksi
No Result
View All Result
Era Madani
  • Bali
  • Berita
  • Kabar
  • Featured
  • Inspirasi
  • Harmoni
  • Budaya
  • Pariwisata
  • Sejarah
  • Gagasan
  • Warga Net
  • Wisata Halal
Era Madani
  • Tentang Kami
  • Berita
  • Inspirasi
  • Harmoni
  • Wisata Halal
  • Warga Net
  • Tim Redaksi
    animate
No Result
View All Result
Era Madani
No Result
View All Result
Mandi dan Puasa Tarwiyah-Arafah:  Suci lahir batin menyambut Hari Arafah

Mandi dan Puasa Tarwiyah-Arafah: Suci lahir batin menyambut Hari Arafah

fatkur rohman by fatkur rohman
in Inspirasi
0 0
0
332
SHARES
2k
VIEWS
Share on FacebookShare on Twitter

Jakarta, [Tanggal Publikasi] – Menjelang puncak ibadah haji, yaitu Hari Arafah, umat Islam dianjurkan untuk melaksanakan puasa sunnah Tarwiyah dan Arafah. Praktik yang tak kalah penting dan dianjurkan sebelum berpuasa adalah mandi besar atau mandi keramas, sebagai bentuk penyucian diri lahir dan batin untuk menyambut momen spiritual yang agung ini. Meskipun tidak terdapat dalil spesifik dalam Al-Qur’an atau Hadits yang secara eksplisit menganjurkan mandi keramas sebelum puasa sunnah Tarwiyah dan Arafah, namun praktik ini selaras dengan tuntunan Islam untuk menjaga kesucian diri sebelum menunaikan ibadah, khususnya salat. Keutamaan mandi sebelum ibadah ini sejalan dengan ajaran Islam yang menekankan kebersihan sebagai bagian integral dari keimanan.

Secara umum, mandi keramas sebelum berpuasa, terutama bagi mereka yang berniat menjalankan puasa Tarwiyah dan Arafah, bertujuan untuk mensucikan diri dari hadas besar. Hadas besar mencakup kondisi junub (pasca-jima’), haid, nifas, dan wiladah (melahirkan). Dengan membersihkan diri dari hadas besar, seorang muslim berada dalam kondisi suci dan siap untuk menjalankan ibadah puasa dengan khusyuk dan penuh ketaatan. Kondisi suci ini merupakan prasyarat penting untuk menunaikan salat, yang dianjurkan untuk dilakukan sebelum dan sesudah berpuasa.

Landasan syariat untuk mandi besar sebagai penyucian diri dari hadas besar dapat ditelusuri dalam Al-Qur’an surah Al-Maidah ayat 6. Ayat ini, yang seringkali diinterpretasikan sebagai panduan tentang wudhu dan mandi, berbunyi:

“[….] Wahai orang-orang yang beriman, apabila kamu berdiri hendak melaksanakan salat, maka basuhlah wajahmu dan tanganmu sampai ke siku serta usaplah kepalamu dan (basuh) kedua kakimu sampai kedua mata kaki. Jika kamu dalam keadaan junub, mandilah. Jika kamu sakit, dalam perjalanan, kembali dari tempat buang air (kakus), atau menyentuh perempuan, lalu tidak memperoleh air, bertayamumlah dengan debu yang baik (suci); usaplah wajahmu dan tanganmu dengan (debu) itu. Allah tidak ingin menjadikan bagimu sedikit pun kesulitan, tetapi Dia hendak membersihkan kamu dan menyempurnakan nikmat-Nya bagimu agar kamu bersyukur.”

Tafsir Kementerian Agama Republik Indonesia menjelaskan bahwa ayat ini secara komprehensif menjelaskan tata cara wudhu dan kondisi-kondisi yang mewajibkan mandi besar. Selain kondisi-kondisi yang telah disebutkan di atas, kematian juga termasuk kondisi yang mewajibkan dimandikan jenazahnya. Oleh karena itu, mandi besar bukan sekadar praktik kebersihan fisik, melainkan juga ritual spiritual yang penting dalam ajaran Islam.

Mandi dan Puasa Tarwiyah-Arafah:  Suci lahir batin menyambut Hari Arafah

Niat Mandi Besar: Mengukuhkan Kesucian Batin

Sebelum memulai mandi besar, niat merupakan elemen penting yang mengukuhkan kesucian batin. Niat ini bukan sekadar ucapan lisan, melainkan tekad dalam hati untuk mensucikan diri di hadapan Allah SWT. Buku "Panduan Muslim Kaffah Sehari-hari dari Kandungan hingga Kematian" karya Muh. Hambali menyebutkan lafal niat mandi besar sebagai berikut:

" Nawaitul ghusla liraf’il hadatsil akbari fardhal lillaahi ta’aala. "

Artinya: "Aku berniat mandi besar untuk menghilangkan hadas besar fardu karena Allah Ta’ala."

Lafal niat ini dibaca seraya memulai basuhan pertama pada tubuh. Penting untuk diingat bahwa niat ini diucapkan dengan penuh kesadaran dan keikhlasan, mengingat bahwa ibadah ini dilakukan semata-mata untuk mencari ridha Allah SWT.

Doa Setelah Mandi: Menyempurnakan Ibadah

Selain niat, membaca doa setelah mandi juga dianjurkan sebagai bagian dari kesempurnaan ibadah. Imam an-Nawawi dalam kitab Al-Adzkar, yang diterjemahkan oleh Arif Hidayat, menyebutkan bahwa membaca doa setelah mandi sunnah, mirip dengan doa-doa yang dibaca setelah wudhu. Beliau juga menambahkan bahwa membaca basmalah sebelum memulai mandi sunnah, namun tidak boleh diniatkan sebagai bacaan Al-Qur’an.

Salah satu doa yang dapat dibaca setelah mandi besar adalah:

“[….] Asyhadu an la ilaha illallah wahdahu la syarika lah, wa asyhadu anna Muhammadan abduhu wa rasuluh. Allahummamaj’alni minat tawwabina, waj’alni minal mutathahhirina. Subhanakallahumma wa bi hamdika asyhadu an la ilaha illa anta, astaghfiruka, wa atubu ilayka.”

Artinya: "Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah yang Maha Esa tiada sekutu bagi-Nya dan saya bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba Allah dan Rasul-Nya. Ya Allah jadikanlah saya termasuk golongan orang-orang yang bertobat. Dan jadikanlah saya termasuk golongan orang-orang yang suci. Maha Suci Engkau Ya Allah, segala pujian untuk-Mu, aku bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Engkau dan aku meminta ampunan dan bertaubat pada-Mu."

Doa ini mengandung ungkapan pengakuan keesaan Allah, pengakuan kenabian Muhammad SAW, permohonan untuk termasuk golongan orang-orang yang bertaubat dan suci, serta ungkapan pujian dan permohonan ampun kepada Allah SWT. Membaca doa ini diharapkan dapat memperkuat niat suci dan meningkatkan kedekatan diri dengan Sang Pencipta.

Kesimpulan:

Mandi keramas sebelum puasa Tarwiyah dan Arafah merupakan praktik yang dianjurkan untuk mensucikan diri lahir dan batin sebelum menjalankan ibadah puasa sunnah yang penuh berkah ini. Praktik ini dilandasi oleh ajaran Islam yang menekankan kebersihan dan kesucian sebagai bagian penting dari keimanan. Dengan niat yang tulus dan doa yang khusyuk, seorang muslim dapat menyambut Hari Arafah dengan hati yang bersih dan jiwa yang tenang, siap untuk menghadap Allah SWT dan memohon ampunan serta rahmat-Nya. Semoga amal ibadah kita diterima oleh Allah SWT. Semoga ibadah haji kita dilimpahkan keberkahan dan kemudahan. Semoga tulisan ini bermanfaat bagi para pembaca.

Previous Post

Melihat Langsung Proses Sakral Pembuatan Kiswah Ka’bah: Sebuah Reportase dari Makkah

Next Post

Puasa Tarwiyah dan Arafah 2025: Panduan Lengkap Waktu, Niat, dan Tata Cara

fatkur rohman

fatkur rohman

Next Post
Puasa Tarwiyah dan Arafah 2025: Panduan Lengkap Waktu, Niat, dan Tata Cara

Puasa Tarwiyah dan Arafah 2025: Panduan Lengkap Waktu, Niat, dan Tata Cara

Sensasi Mencuci Pakaian di Tanah Suci: Kisah Para Jemaah Haji 2025 yang Menemukan Keunikan di Tengah Ibadah

Sensasi Mencuci Pakaian di Tanah Suci: Kisah Para Jemaah Haji 2025 yang Menemukan Keunikan di Tengah Ibadah

Puasa Tarwiyah: Keutamaan, Tata Cara, dan Kontroversi Klaim "Lebih Utama dari Jihad"

Puasa Tarwiyah: Keutamaan, Tata Cara, dan Kontroversi Klaim "Lebih Utama dari Jihad"

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Facebook Twitter Youtube Vimeo Instagram

Category

  • Bali
  • Berita
  • Budaya
  • Featured
  • Gagasan
  • Geopolitik, Kepemimpinan, Kaderisasi, Strategi Partai, Identitas Keumatan, Jaringan Global, Pemberdayaan Sumber Daya Manusia
  • Harmoni
  • Headline
  • Inspirasi
  • Kabar
  • Keamanan
  • Kesehatan
  • Keuangan
  • Mancanegara
  • Olahraga
  • Opini
  • Pariwisata
  • Pendidikan
  • Peristiwa
  • Politik
  • Sejarah
  • Sponsored
  • Teknologi
  • Uncategorized
  • Warga Net
  • Wisata Halal

© 2020 EraMadani - Harmoni dan Inspirasi.

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • TENTANG KAMI
  • BERITA
  • BALI
  • KABAR
  • FEATURED
  • TIM REDAKSI

© 2020 EraMadani - Harmoni dan Inspirasi.