ERAMADANI.COM, BULELENG – Desa Adat Banyupoh, Gerokgak, Buleleng melaksanakan tradisi Wanara Laba di Pura Agung Pulaki. Tradisi Wanara Laba ini sebagai perayaan hari suci Purnama Wuku Kapat, Kamis (1/10/20).
Biasanya pelaksanaan Pujawali Pura Agung Pulaki itu selama 7 hari, tetapi pada tahun ini hanya berlangsung selama 3 hari, lantaran masih adanya pandemi Covid-19, yakni mulai 1-3 Oktober 2020.
Arti Upacara Wanara Laba ialah sebagai tradisi memberi makanan bagi populasi kera itu. Masyarakat mempersembahkan upacara tersebut kepada Ida Bhatara Lingsir.
Pura Pulaki tidak pernah absen melaksankan tradisi ini.
Tradisi setiap Purnama Kapat ini mampu mengundang banyak kera untuk turun.
Masyarakat memberi makanan melimpah pada kera tepat pada Pujawali, mulai dari pisang, telur ayam, maupun bunga genitir.
Pemberian makanan kepada kera inilah yang menjadi makna dari tradisi Wanara Laba. Persembahyangan oleh pengempin merupakan awal dari tradisi ini.
Adapun pemangku Pura Pulaki memimpin langsung persembahyangan, kemudian pemberian ribuan pisang, telur, dan buah-buahan lainnya setelah persembahyangan usai.
Rupanya, pemberian makanan ini membuat para kera menjadi semakin jinak.
Masyarakat meyakini bahwa populasi kera itu ialah Druen (milik) Ida Bhatara Lingsir. Hingga kini, masyarakat masih memelihara kera-kera itu dengan baik.
Menurut Kelian Ageng Pengempon Pura Agung Pulaki, Jro Nyman Bagiarta, menyampaikan bahwa tradisi ini bermakna sebagai ucapan rasa syukur atas anugerah kesejahteraan yang diberikan kepada umat manusia.
Tradisi Wanara Laba dari Sisi Sejarah
Bagiarta menyampaikan bahwa keberadaan populasi kera ada hubungannya dengan kedatangan Dang Hyang Nirartha pada masa lalu.
Kala itu Dang Hyang Nirartha melakukan perjalanan spiritualnya dari Jawa sampai Bali sekitar tahun 1411 Caka.
Saat memasuki hutan Pura Purancak, Jembrana untuk menuju Gelgel, Dang Hyang Nirartha kebingungan mencari arah mata angin.
Lantas ia bertemu dengan sekelompok kera, kelompok kera itulah yang memberikan Dang Hyang Nirartha petunjuk arah.
Atas petunjuk itu, ia mambuat sebuah perjanjian dengan sekelompok kera itu.
Perjanjiannya yakni semua keturunan Dang Hyang Nirartha tidak akan menyakiti kera.
Sebaliknya, kera-kera juga berjanji untuk setia mendampingi Dang Hyang Nirartha melinggih.
Pada puncak pujawali tersebut, Bupati Buleleng, Putu Agung Suradnyana, turut serta melaksanakan persembahyangan.
Pihaknya mengajak umat Hindu untuk melestarikan tradisi Wanara Laba dengan hati yang tulus ikhlas, menghaturkan makanan kera dengan memanfaatkan hasil bumi.
Sebagai catatan, dana pembelian makanan bagi para kera berasal dari pemedek.
Artinya, berdana punia (donasi) secara ikhlas untuk menghaturkan buah-buahan bagi para kawanan kera. (LWI)




