ERAMADANI.COM, JAKARTA – Indonesia memasuki periode musim hujan pada akhir Oktober 2020. Puncaknya diprediksi antara Januari hingga Februari 2021. Salah satu yang harus diwaspadai masyarakat ialah bencana banjir. Namun, kala pandemi seperti saat ini, hal buruk lainnya juga turut mengintai, yakni peningkatan penularan Covid-19.
Pada September ini banjir telah melanda beberapa kawasan di Indonesia, termasuk Jakarta yang saat ini sebagai daerah tertinggi Covid-19.
Di tengah pandemi Covid-19 yang belum berakhir, bencana banjir yang dihadapi saat ini lebih membahayakan kesehatan.
Menurut seorang ahli virus dari perusahaan air minum Eau De Paris, Sebastian Wurtzer menyampaikan bahwa ada konsentrasi virus Corona di air limbah.
Dilansir dari news.detik.com, sebelumnya ia telah melakukan riset tentang kandungan virus Corona pada air limbah saat wabah Covid-19 merebak.
Dalam kondisi air tergenang dengan waktu yang lama, saluran air tidak mengalir lancar bahkan jamban pun bisa meluap.
Air banjir bisa saja mengandung urine warga dan tentu sangat mungkin mengandung droplet air ludah maupun cairan ingus warga.
“Got-got menyediakan data wabah dalam waktu yang sebenarnya (real-time), karena mereka mengumpulkan tinja dan urine secara konstan dan dapat mengandung virus Corona yang telah menginfeksi manusia,” kata Wutrzer, dilansir dari Science Magazine.
Penanganan Banjir Juga Dapat Tingkatkan Penularan Covid-19
Selain penularannya terjadi pada air got, penularan juga dapat terjadi pada proses penangan banjir tersebut.
Penularan tersebut mudah terjadi lewat interaksi seperti proses evakuasi, pengungsian, pembagian logistik, hingga kondisi WC umum yang digunakan secara bergantian.
Pernyataan tersebut juga didukung oleh seorang ahli epidemolog dari Universitas Padjadjaran yang kini menjadi kandidat doktoral di Universitas Griffth.
“Banjir punya potensi meninggikan risiko terjadinya penularan, namun penyebabnya tidak secara langsung,” kata epidemiolog Dicky.
Bukan karena air banjirnya yang membawa virus, melainkan karena orang terpaksa berinteraksi lebih dekat dan sering,” sambungnya.
Selama penanganan banjir dilakukan, protokol kesehatan pencegahan Covid-19 harus tetap ketat diterapkan.
Bahkan dalam keadaan musim hujan pun masyarakat wajib menggunakan masker, menjaga jarak, dan mencuci tangan dengan sabun, serta mengusahakan tetap menjaga kondisi saat banjir melanda.
Namun, terkadang kaidah tersebut dalam situasi banjir sulit diterapkan, terutama saat petugas melakukan evakuasi warga yang terdampak banjir.
Selain lewat kontak fisik saat evakuasi, air banjir yang tercemar ludah, dan tinja atau ingus manusia, kondisi pengungsian yang sesak lebih tinggi dapat meningkatkan penularan Covid-19.
Kondisi yang sempit, sesak, dan kumuh bisa menggagalkan imbauan pemerintah, yakni prinsip jaga jarak.
Pada situasi banjir, jaga jarak tidak bisa diterapkan, mengingat masyarakat dihadapkan pada kondisi bencana.
Tentu hal yang pertama diperhatikan adalah aspek keselamatan.
Dicky menyarankan agar lokasi pengungsian tidak terlalu jauh dari lokasi asal warga.
Pasalnya, perpindahan banyak orang dari satu lokasi ke lokasi lain dapat ikut menyebarkan virus Corona di lokasi dengan prevalensi Covid-19 yang tinggi, ke lokasi yang semula mempunyai prevalensi yang rendah.
“Bila mengungsi, pengungsi jangan jauh-jauh dari RW itu juga, karena masing-masing RW prevalensinya beda,” jelas Dicky.
“Jangan jauh-jauh dari zona dia, supaya meminimalkan juga interaksi dengan wilayah lain yang berbeda zona,” imbuhnya. (LWI)




