ERAMADANI.COM, NUSA LEMBONGAN – Pandemi Covid-19 membawa dampak yang sangat besar terhadap berbagai sektor, salah satunya adalah sektor pariwisata di Bali. Pariwisata Bali yang saat ini masih berangsur-angsur dipulihkan, tidak memberi banyak kesempatan bagi orang-orang bertahan di sektor ini. Hal itu tampak di Nusa Lembongan, warga yang dulu berkecimpung di sektor pariwisata lantas kini kembali andalkan rumput laut.
Bali telah lama beristirahat dari gemerlapnya dunia pariwisata akibat pandemi Covid-19 ini, sekitar 6 bulan pariwisata di Bali tidak dibuka bagi wisatawan mancanegara.
Meski demikian, saat ini sedikit demi sedikit pariwisata di Bali mulai dilakukan penataan lagi, dengan memanfaatkan sektor–sektor lainnya seperti sektor pertanian. Salah satunya ada di Nusa Lembongan.
Nusa Lembongan merupakan salah satu destinasi wisata dunia yang terkenal hingga mancanegara, pulau kecil ini terkenal dengan pantai pasir putih yang sangat eksotis.

Akan tetapi, akibat pandemi Covid-19 jumlah wisatawan yang berkunjung ke sana semakin menurun.
Hal tersebut berdampak pada pendapatan masyarakat yang mulai kehilangan pekerjaan akibat destinasi wisatanya ditutup.
Di saat pariwisata di Bali sedang merosot, masyarakat pesisir Nusa Lembongan mengandalkan rumput laut sebagai sumber penghasilan.
Rumput laut merupakan salah satu komoditas andalan masyarakat Nusa Lembongan untuk keperluan sehari-hari.
Sejak 2008, Banyak Orang Memilih Sektor Pariwisata
Sejak pariwisata di sana maju sekitar tahun 2008, masyarakat beralih profesi ke sektor pariwisata, karena dunia pariwisata dinilai lebih menjanjikan.
I Nyoman Sulitra, salah satu perintis pariwisata di Nusa Lembongan adalah saksinya.
“Mulai 2008 masyarakat lokal membangun vila. Orang-orang Lembongan berduyun-duyun bikin vila. Kalau punya uang, pasti bikin vila,” kata Sulitra, dilansir dari bbc.com.
Melejitnya pariwisata di Nusa Lembongan membawa kerugian yang mendalam bagi petani rumput laut.
Saat itu harga rumput laut hanya berkisar Rp 3000 – Rp 4000 saja, sehingga masyarakat lebih memilih bekerja di sektor pariwisata.
Sulitra yang merupakan mantan pembantu juru masak ini juga yang termasuk pulang ke Nusa Lembongan untuk membuka usaha di bidang pariwisata.
Selain vila yang dikelola bersama keluarganya, Sulitra mengelola restoran dan vila bersama teman karibnya yang kini menjadi pemodal.
Mengandalkan tamu dari Eropa terutama Belanda, uang mengalir lancar ke rekening Sulitra dan para pemilik usaha pariwisata lainnya di Nusa Lembongan.
Namun, ketika pandemi Covid-19 menghantam Bali, aliran pendapatan mereka menjadi terhenti.
Mulai dari 0, Kembali Andalkan Rumput Laut
Sulitra yang sebelum pandemi bisa mendulang pendapatan sampai ratusan juta rupiah per bulan itu pun kembali membudidayakan rumput laut.
Padahal dia sudah meninggalkan komoditas ini lebih dari 20 tahun sejak memilih fokus bekerja di pariwisata.
“Saya tidak malu. Penghasilan sekarang nol. Akan nol sama sekali kalau tidak ada rumput laut. Untungnya ada rumput laut,” ujarnya.
Dengan modal Rp15 juta, dia membeli 450 tali bibit rumput laut dan patok.
Bersama istri dan buruh, ia terjun ke laut menanam, merawat, dan memanen rumput laut jenis katoni (Kappaphycus alvarezii) dan sakul (Eucheuma spinosum).
Sulitra pun sudah merasakan sekali panen dengan hasil Rp 3,3 juta.
Sebelum Bali mengandalkan sektor pariwisata, hasil pertanian merupakan komoditas utama yang dihasilkan masyarakat sebagai sumber pendapatan terbesar.
Para nelayan mengandalkan lautan sebagai sumber pendapatan, para petani di gunung mengandalkan persawahan sebagai sumber pendapatan.
Semuanya bersinergi dalam menjaga keharmonisan Bali dengan tetap menjaga kelestarian alam serta potensi–potensi yang ada. (LWI)




