Ramadhan, bulan penuh berkah, menjadi momen sakral bagi umat Muslim di seluruh dunia. Di antara rangkaian ibadah yang dijalankan, puasa Ramadhan menempati posisi sentral, menuntut kesabaran, keikhlasan, dan ketahanan spiritual yang tinggi. Puncak dari ibadah puasa ini bukanlah sekadar menahan lapar dan dahaga, melainkan juga memanfaatkan momentumnya untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT, salah satunya melalui doa. Waktu berbuka puasa, khususnya di hari Arafah, diyakini sebagai salah satu waktu mustajab, waktu di mana doa-doa dipanjatkan dengan peluang besar untuk dikabulkan.
Keutamaan doa saat berbuka puasa telah ditegaskan dalam berbagai hadits Nabi Muhammad SAW. Salah satu hadits yang sering dikutip adalah riwayat Imam Tirmidzi nomor 3598, yang dinilai hasan oleh Al-Albani. Hadits tersebut menyebutkan tiga golongan yang doanya tidak akan ditolak Allah SWT, yaitu: orang yang berpuasa hingga berbuka, pemimpin yang adil, dan orang yang teraniaya. Keberadaan orang yang berpuasa hingga berbuka dalam daftar ini menegaskan keistimewaan waktu berbuka sebagai momen yang sangat dianjurkan untuk bermunajat kepada Sang Khalik.
Hadits ini bukan hanya sekadar menyinggung keutamaan doa saat berbuka, melainkan juga menekankan pentingnya memanfaatkan waktu tersebut secara optimal. Menahan lapar dan dahaga seharian merupakan bentuk pengorbanan dan ketaatan yang besar. Akan sangat disayangkan jika kesempatan emas ini dilewatkan begitu saja tanpa diiringi dengan doa-doa yang tulus dan penuh harap. Momentum ini seharusnya dimaknai sebagai kesempatan untuk menyampaikan segala permohonan, baik untuk diri sendiri, keluarga, maupun umat Islam secara keseluruhan.
Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah, ulama besar Islam, juga menegaskan keistimewaan waktu sahur dan berbuka puasa sebagai waktu mustajab untuk berdoa. Pernyataan ini semakin memperkuat keyakinan akan keutamaan berdoa di saat-saat tersebut. Tidak hanya mustajab, doa-doa yang dipanjatkan di waktu-waktu tersebut juga diyakini memiliki kekuatan dan keistimewaan tersendiri dalam mendekatkan diri kepada Allah SWT.
Nabi Muhammad SAW sendiri telah memberikan contoh doa yang dapat dipanjatkan saat berbuka puasa. Doa ini, meskipun sederhana, sarat makna dan menjadi amalan sunnah yang dianjurkan bagi seluruh umat Islam. Berbagai referensi kitab, seperti buku "Doa-Doa Mustajaban" karya Abu Qablina, menyajikan beberapa versi doa berbuka puasa yang dapat diamalkan. Perlu diingat, meskipun terdapat beberapa versi, inti dari doa-doa tersebut tetap sama, yaitu ungkapan syukur atas nikmat yang telah diberikan Allah SWT dan permohonan ampunan serta keberkahan.

Berikut beberapa versi doa berbuka puasa yang populer di kalangan masyarakat, beserta transliterasi latin dan artinya:
1. Doa Buka Puasa Sesuai Sunnah:
- Arab: ذَهَبَ الظَّمَأُ وَابْتَلَّتِ الْعُرُوقُ وَثَبَتَ الأَجْرُ إِنْ شَاءَ اللَّهُ
- Latin: Dzahabazh zhoma’u wabtallatil ‘uruuqu wa tsabatal ajru insyaa-allah.
- Arti: "Telah hilang dahaga, telah basah kerongkongan, semoga telah tetap pahala, jika Allah menghendaki."
Doa ini merupakan doa yang diajarkan langsung oleh Rasulullah SAW, merupakan doa yang ringkas, padat, dan lugas, menunjukkan rasa syukur atas terhilangnya dahaga dan kelelahan setelah seharian berpuasa, serta harapan akan terkabulnya pahala atas ibadah puasa yang telah dijalankan. Kesederhanaan doa ini justru menunjukkan keikhlasan dan ketulusan hati dalam bermunajat kepada Allah SWT.
2. Doa Buka Puasa Versi Kedua:
- Arab: اللَّهُمَّ لَكَ صُمْتُ وَبِكَ آمَنْتُ وَعَلَى رِزْقِكَ أَفْطَرْتُ بِرَحْمَتِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِينَ
- Latin: Allahumma laka shumtu wabika amantu wa ‘ala rizqika afthartu birahmatika yaa arhamar rahimin.
- Arti: "Ya Allah, untuk-Mu aku berpuasa, dan kepada-Mu aku beriman, dan dengan rezeki-Mu aku berbuka, dengan rahmat-Mu, wahai Tuhan Yang Maha Penyayang."
Versi doa ini lebih panjang dan lebih eksplisit dalam menyatakan keimanan dan ketaatan kepada Allah SWT. Doa ini tidak hanya mengungkapkan rasa syukur atas terputusnya dahaga, tetapi juga menegaskan keikhlasan dalam menjalankan ibadah puasa semata-mata karena Allah SWT. Ungkapan "birahmatika yaa arhamar rahimin" menunjukkan kerendahan hati dan permohonan rahmat dari Allah SWT. Meskipun populer di masyarakat, Al-Mulla Ali Al-Qaari dalam kitab Mirqatul Mafatih Syarh Misykatul Mashabih menyebutkan bahwa tambahan "wabika amantu" tidak ditemukan dalam riwayat yang sahih.
3. Doa Buka Puasa Versi Ketiga:
- Arab: اللَّهُمَّ لَكَ صُمْتُ وَبِكَ آمَنْتُ وَعَلَى رِزْقِكَ أَفْطَرْتُ ذَهَبَ الظَّمَأُ وَابْتَلَّتِ الْعُرُوقُ وَثَبَتَ الأَجْرُ إِنْ شَاءَ اللَّهُ
- Latin: Allahumma laka shumtu wabika amantu wa ‘ala rizqika afthartu dzahabazh-zhama’u wabtallatil-‘uruqu wa tsabatal-ajru insyaa-allah.
- Arti: "Ya Allah, untuk-Mu aku berpuasa dan hanya kepada-Mu aku beriman dan atas rezeki-Mu aku berbuka, hilanglah dahaga dan pulihkanlah kembali semua otot serta tetaplah pahala, jika Allah menghendaki."
Versi ini menggabungkan dua doa sebelumnya, mengkombinasikan ungkapan keimanan dan syukur dengan doa sunnah Rasulullah SAW. Penggabungan ini menunjukkan keutamaan dan keluasan dalam berdoa, menyatukan esensi rasa syukur dan pengakuan keesaan Allah SWT. Doa ini lebih komprehensif dalam mengungkapkan perasaan dan harapan seorang hamba kepada Tuhannya.
Hari Arafah, tanggal 9 Dzulhijjah, memiliki keistimewaan tersendiri dalam Islam. Hari ini merupakan hari yang sangat mulia, di mana Allah SWT menurunkan rahmat dan ampunan-Nya kepada hamba-Nya yang bertaubat. Berbuka puasa di hari Arafah maka menjadi momen yang sangat istimewa untuk berdoa, memperkuat kesempatan untuk mendapatkan kabul doa yang dipanjatkan. Momentum ini seharusnya dimaksimalkan dengan doa-doa yang tulus, khusyuk, dan diiringi dengan permohonan ampun dan rahmat dari Allah SWT.
Kesimpulannya, berbuka puasa, khususnya di hari Arafah, merupakan waktu yang sangat mustajab untuk berdoa. Umat Islam dianjurkan untuk memanfaatkan waktu ini dengan sebaik-baiknya untuk bermunajat kepada Allah SWT, mengungkapkan rasa syukur, memohon ampunan, dan meminta segala kebaikan dunia dan akhirat. Dengan keikhlasan dan ketulusan hati, doa-doa yang dipanjatkan di waktu mustajab ini diharapkan akan diijabah oleh Allah SWT. Semoga kita semua diberikan kemampuan untuk selalu mengingat Allah SWT dan memanfaatkan setiap waktu yang mustajab untuk mendekatkan diri kepada-Nya.




