ERAMADANI.COM – Denpasar, 1 November 2023 – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengeluarkan peringatan dini kekeringan di Pulau Dewata. Berdasarkan data BMKG, hingga 31 Oktober 2023, terdapat 87 daerah di Bali yang sudah tidak hujan berturut-turut selama lebih dari 30 hari.
Daerah-daerah tersebut tersebar di delapan kabupaten dan kota di Bali, yaitu Kabupaten Buleleng, Jembrana, Tabanan, Bangli, Karangasem, Badung, Klungkung, dan Gianyar.
Dari 87 daerah tersebut, tiga daerah yang memiliki hari tanpa hujan paling banyak adalah:
- Kabupaten Karangasem, 121 hari (Kubu)
- Kabupaten Buleleng, 120 hari (Kubutambahan)
- Kabupaten Buleleng, 115 hari (Gerokgak)
Dampak kekeringan di Bali diprediksi akan dirasakan oleh masyarakat secara luas, terutama di sektor pertanian, perkebunan, peternakan, dan perikanan.
Petani dan peternak di daerah yang mengalami kekeringan akan kesulitan untuk mendapatkan air untuk mengairi tanaman dan ternaknya. Akibatnya, produktivitas pertanian dan peternakan akan menurun.
Selain itu, kekeringan juga dapat menyebabkan krisis air bersih bagi masyarakat. Beberapa daerah di Bali sudah mulai mengalami kekurangan air bersih.
Kekurangan air bersih dapat berdampak pada kesehatan masyarakat. Masyarakat di daerah yang mengalami kekeringan rentan terserang penyakit diare, dehidrasi, dan penyakit kulit.
Di samping itu, kekeringan juga dapat menyebabkan kebakaran hutan dan lahan. Hal ini karena kekeringan menyebabkan lahan menjadi kering dan mudah terbakar.
BMKG mengimbau masyarakat di Bali untuk mewaspadai kekeringan. Masyarakat diimbau untuk menghemat penggunaan air dan menjaga kebersihan lingkungan.
Hubungan kekeringan dengan musim sakit
Kekurangan air bersih dapat menyebabkan masyarakat rentan terserang penyakit diare, dehidrasi, dan penyakit kulit. Hal ini karena air yang digunakan untuk minum, mandi, dan mencuci tidak bersih dan mengandung bakteri atau virus.
Selain itu, kekeringan juga dapat menyebabkan kebakaran hutan dan lahan. Kebakaran hutan dan lahan dapat menyebabkan polusi udara dan menurunkan kualitas udara. Polusi udara dapat menyebabkan berbagai penyakit pernapasan, seperti asma, bronkitis, dan pneumonia.
Oleh karena itu, kekeringan dapat meningkatkan risiko masyarakat terserang penyakit.




