• Tentang Kami
  • Berita
  • Inspirasi
  • Harmoni
  • Wisata Halal
  • Warga Net
  • Tim Redaksi
No Result
View All Result
Era Madani
  • Bali
  • Berita
  • Kabar
  • Featured
  • Inspirasi
  • Harmoni
  • Budaya
  • Pariwisata
  • Sejarah
  • Gagasan
  • Warga Net
  • Wisata Halal
Era Madani
  • Tentang Kami
  • Berita
  • Inspirasi
  • Harmoni
  • Wisata Halal
  • Warga Net
  • Tim Redaksi
    animate
No Result
View All Result
Era Madani
No Result
View All Result
Pendidikan

Potret Pendidikan Indonesia. - ERAMADANI.COM

Opini: Pendidikan Berkemajuan

benlaris by benlaris
in Budaya, Gagasan, Opini, Sejarah
0 0
0
339
SHARES
2k
VIEWS
Share on FacebookShare on Twitter

Opini berjudul “Pendidikan Berkemajuan”
Oleh: M Afnan Hadikusumo
(Senator DPD RI 2019-2024, Ketua Umum PP Tapak Suci)

ERAMADANI.COM, YOGYAKARTA – Pendidikan formal atau berkemajuan bagi pribumi pada masa pemerintahan kolonial sangat dibatasi. Langkah yang dilakukan dengan mengenakan biaya yang mahal. Boleh dikata, yang bisa bersekolah di sekolah-sekolah resmi hanyalah anak-anak orang Eropa dan anak pribumi kaya.

Kala itu mayoritas penduduk belajar di pesantren dimana metode yang digunakan dengan cara, pertama metode Sorogan (Layanan Individual), Yaitu bentuk belajar mengajar dimana Kiyai hanya menghadapi seorang santri.

Kedua metode Wetonan dan Bandongan yakni metode pembelajaran dengan sistem ceramah Kiyai.Ketiga metode Musyawarah Adalah belajar dalam bentuk seminar (diskusi) untuk membahas setiap masalah yang berhubungan dengan materi pelajaran santri.

Menurut pengamatan Karel A Steenbrink, kurikulum di pesantren sejak akhir abad ke-19 mayoritas menggunakan kitab-kitab yang berasal dari zaman pertengahan dunia Islam, yang berisi pelajaran tentang fikih dan tata bahasa Arab, meskipun ada juga studi tentang tasawuf, ilmu alat, pembinaan iman, dan akhlak.

Sistem Pendidikan Berkemajuan

Munculnya KHA Dahlan dengan niat untuk memberantas “kemiskinan, kebodohan dan keterbelakangan” pada tahun 1912 telah ikut merubah peta pendidikan di Indonesia. Menurut pemikiran KH Ahmad Dahlan bahwa Islam hendaknya didekati serta dikaji melalui kacamata modern sesuai dengan panggilan dan tuntutan zaman, bukan secara tradisional.

Ia melihat bahwa tiga penyakit masyarakat di atas disebabkan karena kitab suci Al Qur’an beserta tafsirnya baru sebatas dipelajari namun isi di dalamnya belum dipraktekan.

Maka secara radikal, ia merubah sistem lama dan menggunakan sistem pendidikan berkemajuan dengan menambahkan berbagai macam ketrampilan serta pengetahuan umum. Tekanannya lebih diutamakan pada praktek pengamalan kandungan isi Al-Qur’an.

Tanggapan sebagian masyarakat sinis dan skeptis karena dianggap keluar dari pakem pendidikan pesantren. Tapi tidak bagi orang-orang yang mempunyai semangat perubahan, mereka sangat mendukung dan menyokong agar rakyat Indonesia bisa segera keluar dari siksaan kaum penjajah. Hal inilah yang mendorong Bung Karno tertarik untuk belajar pada KHA Dahlan.

Gelombang pertama pendidikan berkemajuan KHA Dahlan yang kemudian menyokong untuk mendirikan organisasi bernama Muhammadiyah terbukti menghasilkan kader-kader militan dan memiliki ide-ide cemerlang untuk mensejahterakan rakyat Indonesia.

Mereka menyampaikan ide sekaligus mengeksekusi ide tersebut. Misalnya gagasan tentang perlunya keberadaan kementerian agama, perlunya pengkoordinasian umat yang akan berhaji dengan mendirikan Bagian Penolong Haji, pentingnya kepanitiaan pengumpulan Zakat, Infak, dan Shadaqah, serta kepanitiaan pemotongan hewan kurban, juga pentingnya pemberdayaan perempuan melalui pendidikan yang dilakukan bu Nyai A. Dahlan, Dll.

Munculnya Madrasah Modern

Dengan munculnya madrasah modern atau pendidikan berkemajuan tersebut, membuat pemerintah Belanda khawatir. Mereka memandang kemungkinan infltrasi pengaruh agama di sekolah-sekolah swasta lainnya akan menumbuhkan keberanian masyarakat untuk melawan pemerintah kolonial.

Atas dasar itulah pemerintah Belanda melakukan pengawasan dengan mengeluarkan ordonansi tanggal 28 Maret 1923 Lembaran Negara no 136 dan 260. Dimana isinya berupa pembatasan kebebasan mengajar bagi guru-guru sekolah swasta.

Semua sekolah atau pendidikan berkemajuan yang tidak dibangun pemerintah atau tidak memperoleh subsidi dari pemerintah, diharuskan minta izin terlebih dahulu, sebelum sekolah itu didirikan. Meski begitu, Muhammadiyah tetap selamat dan tetap berdiri dengan tegak.

Zaman semakin berkembang, di era “Game of Thrones” saat ini dimana perkembangan teknologi informasi sangat pesat, tantangan pendidikan makin kompleks.

Sistem belajar mengajar tidak harus face to face (tatap muka) dapat melalui teleconference. Bahkan buku-buku rujukan pun tidak harus bertumpuk-tumpuk cukup melalui layanan internet sudah tersedia.

Saat ini mayoritas sekolah dan Perguruan Tinggi Muhammadiyah/Aisyiyah dengan segala keterbatasannya pendidikan berkemajuan sudah dapat mengakses internet sebagai pendukung proses belajar mengajar.

Saat inilah tugas kita untuk meneruskan semangat pembaharuan KHA Dahlan, tidak terkecuali generasi millennial Muhammadiyah. Jadilah orang yang mandiri, banyak membaca, banyak menulis, jaga integritas, dan jangan tergiur dana 5,6 Triliun yang ‘katanya’ untuk pelatihan. (HAD)

Selamat Hari Pendidikan Nasional

Tags: Fakta Unik SejarahGaleri sejarahJelajahi SejarahOpinipendidikanpendidikan anakPendidikan BerkemajuanPendidikan di Tengah Covid-19Pendidikan IndonesiaPendidikan IslamPeningalan SejarahPotret PendidikanSejarahSejarah BaruSejarah DuniaSejarah IndonesiaSejarah IslamSejarah LokalSejarah Pergerakan IndonesiaYogyakarta
Previous Post

AJI: Penahanan Eks Pemred Banjarhits Tidak Berdasar

Next Post

Gubernur Koster Resmikan Dua Lab Pemeriksaan PCR

benlaris

benlaris

Next Post
Lab Pemerikasaan

Gubernur Koster Resmikan Dua Lab Pemeriksaan PCR

Buleleng

Terbaru! 17 Warga Buleleng Dinyatakan Sembuh Covid-19

Kejati

Kabupeten Bangli Terima Paket Sembako dari Kejati Bali

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Facebook Twitter Youtube Vimeo Instagram

Category

  • Bali
  • Berita
  • Budaya
  • Featured
  • Gagasan
  • Geopolitik, Kepemimpinan, Kaderisasi, Strategi Partai, Identitas Keumatan, Jaringan Global, Pemberdayaan Sumber Daya Manusia
  • Harmoni
  • Headline
  • Inspirasi
  • Kabar
  • Keamanan
  • Kesehatan
  • Keuangan
  • Mancanegara
  • Olahraga
  • Opini
  • Pariwisata
  • Pendidikan
  • Peristiwa
  • Politik
  • Sejarah
  • Sponsored
  • Teknologi
  • Uncategorized
  • Warga Net
  • Wisata Halal

© 2020 EraMadani - Harmoni dan Inspirasi.

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • TENTANG KAMI
  • BERITA
  • BALI
  • KABAR
  • FEATURED
  • TIM REDAKSI

© 2020 EraMadani - Harmoni dan Inspirasi.