ERAMADANI.COM, DENPASAR – Perhelatan Musyawarah Nasional (munas) Majelis Ulama Indonesia (MUI) tinggal dua pekan lagi. Dalam rangka mendengar aspirasi serta merumuskan program, MUI Provinsi Bali menggelar sarasehan bersama ormas dan tokoh umat muslim se-Bali pada Sabtu (7/11/20).
Pada munas yang akan datang nanti, MUI akan melakukan pembahasan beberapa isu yang terkerucutkan menjadi tiga bidang.
Ketiga bidang itu ialah bidang sosial budaya, ibadah, dan ekonomi syariah.
Melansir dari denpasarupdate.pikiran-rakyat.com, Ketua MUI Provinsi Bali, H. Taufik Asy’adi menekankan akan pentingnya menemukan solusi masalah keumatan, khususnya pada lingkup umat muslim Bali.
“Kita bersyukur kepada Allah karena pada hari ini kita bisa bersilaturrahim dengan semua ormas Islam di Bali.
Menyampaikan pikiran dan gagasan kita untuk memberi solusi keumatan di Bali.”
Ketua MUI Provinsi Bali, H. Taufik Asy’adi
Ketua MUI Bali yang juga akan segera mengakhiri masa jabatannya itu menilai bahwa Indonesia memiliki potensi yang besar jika terkelola dengan maksimal.
Tidak hanya pada alamnya saja, potensi sumber daya manusianya pun dapat menjadi landasan membangun Indonesia, dengan potensi pada masing-masing daerahnya.
“Kita punya budaya agraris, bersama-sama mengerjakan tanah sawahnya.
Umat Islam juga punya budaya cari ikan di lautan, kita harus bisa mengelola potensi besar ini.
Kita hampir lupa, karena terpukau oleh pariwisata.”
Ketua MUI Provinsi Bali, H. Taufik Asy’adi
Sementara itu, Senator DPD RI Dapil Bali, H. Bambang Santoso berkesempatan memberikan sambutan pada acara itu.
Dalam sambutannya, ia menekankan bahwa kita harus berkontribusi memperjuangkan daerah sebagai contoh langkah untuk menjadi solusi persoalan umat.
Terkait sistem kedepannya nanti, bisa mengambil dari diskusi-diskusi pada sarasehan ini.
Senator DPD RI Dapil Bali itu juga menyatakan bahwa masyarakat Islam Bali kedepan dapat merespons tantangan.
Sementara acara sarasehan ini menghadirkan dua narasumber, yakni KH. Mustafid Amna dan Ketua Komisi Ekonomi MUI Bali, H. Mardi Soemitro, dengan H. Oktan Hidayat bertindak sebagai moderator. (ERK)




