Bulan Muharram, bulan pertama dalam kalender Hijriah, memiliki kedudukan istimewa dalam Islam. Bukan hanya sebagai penanda tahun baru, bulan ini juga sarat dengan peristiwa-peristiwa penting dalam sejarah Islam, terutama tragedi Asyura yang menandai wafatnya cucu Rasulullah SAW, Imam Hussein bin Ali. Namun, di tengah euforia menyambut tahun baru Islam, penting bagi umat Muslim untuk memahami larangan dan anjuran yang dianjurkan dalam bulan Muharram, agar ibadah dan perayaan tetap berjalan sesuai dengan tuntunan agama. Kekeliruan dalam memahami dan mengamalkan ajaran agama dapat berdampak negatif, baik secara individu maupun komunitas. Oleh karena itu, pemahaman yang komprehensif mengenai hal ini menjadi sangat krusial.
Bukan Sekadar Perayaan, Melainkan Refleksi Diri
Bulan Muharram bukanlah sekadar momen perayaan tahun baru. Lebih dari itu, bulan ini menjadi momentum refleksi diri, evaluasi perjalanan spiritual, dan penguatan keimanan. Peristiwa Asyura, misalnya, menjadi pengingat akan pentingnya memperjuangkan kebenaran, melawan kezaliman, dan menegakkan keadilan, sebagaimana yang dilakukan oleh Imam Hussein. Namun, penting untuk diingat bahwa memperingati Asyura bukan hanya sebatas bersedih hati atau melakukan ritual-ritual yang tidak berlandaskan dalil yang sahih. Peringatan Asyura yang ideal adalah dengan mengambil hikmah dari peristiwa tersebut dan mengaplikasikan nilai-nilai luhur yang terkandung di dalamnya dalam kehidupan sehari-hari.
Menyingkap Kesalahpahaman dan Mispersepsi
Sayangnya, dalam praktiknya, seringkali terdapat kesalahpahaman dan mispersepsi mengenai larangan dan anjuran di bulan Muharram. Beberapa praktik yang berkembang di masyarakat, meskipun dilakukan dengan niat baik, belum tentu sesuai dengan tuntunan agama. Bahkan, beberapa di antaranya dapat dikategorikan sebagai bid’ah (inovasi dalam agama) yang perlu dihindari. Oleh karena itu, penting untuk merujuk pada sumber-sumber ajaran Islam yang sahih, seperti Al-Quran dan Hadits yang shahih, serta pendapat para ulama yang terpercaya, untuk menghindari kesesatan.

Larangan yang Perlu Diperhatikan:
Meskipun tidak ada larangan spesifik yang secara eksplisit disebutkan dalam Al-Quran atau Hadits shahih mengenai aktivitas tertentu di bulan Muharram, namun terdapat beberapa hal yang perlu diperhatikan dan dihindari agar ibadah kita tetap terjaga kesuciannya:
-
Menghindari perbuatan maksiat: Bulan Muharram, seperti bulan-bulan lainnya, tetap menjadi waktu yang tepat untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT. Oleh karena itu, perbuatan maksiat seperti berbohong, mencuri, berzina, mengonsumsi minuman keras, dan perbuatan tercela lainnya harus dihindari. Bulan Muharram seharusnya menjadi momentum untuk meningkatkan kualitas keimanan dan ketakwaan.
-
Menjauhi bid’ah: Beberapa praktik yang dilakukan oleh sebagian masyarakat dalam rangka memperingati Asyura, seperti melakukan ritual-ritual tertentu yang tidak memiliki dasar dalam Al-Quran dan Hadits shahih, termasuk dalam kategori bid’ah. Bid’ah, meskipun dilakukan dengan niat baik, dapat menyesatkan dan menjauhkan kita dari ajaran Islam yang benar. Oleh karena itu, penting untuk berhati-hati dan selektif dalam memilih praktik keagamaan. Perlu diteliti keabsahannya berdasarkan sumber-sumber agama yang terpercaya.
-
Menghindari sikap berlebihan dalam berduka: Meskipun peristiwa Asyura merupakan tragedi yang menyedihkan, bersedih hati secara berlebihan dan berlarut-larut tidak dianjurkan. Islam mengajarkan kita untuk menerima takdir Allah SWT dengan lapang dada dan tetap tegar dalam menghadapi cobaan. Bersedih hati yang berlebihan dapat berdampak negatif terhadap kesehatan mental dan spiritual. Lebih baik kita mengambil hikmah dari peristiwa tersebut dan mengaplikasikan nilai-nilai luhur yang terkandung di dalamnya dalam kehidupan sehari-hari.
-
Menghindari sikap takabbur dan riya: Dalam menjalankan ibadah dan amal kebaikan di bulan Muharram, penting untuk menghindari sikap takabbur (sombong) dan riya (pamer). Amalan yang dilakukan semata-mata untuk mencari pujian manusia tidak akan mendapatkan pahala di sisi Allah SWT. Amalan yang ikhlas dan hanya diniatkan untuk mencari ridho Allah SWT akan lebih bernilai.
-
Menghindari perselisihan dan permusuhan: Bulan Muharram seharusnya menjadi momentum untuk mempererat ukhuwah Islamiyah (persaudaraan sesama muslim). Perselisihan dan permusuhan di antara sesama muslim harus dihindari. Kita harus saling menghormati dan menghargai perbedaan pendapat, serta selalu mengedepankan sikap toleransi dan saling pengertian.
Anjuran di Bulan Muharram:
Selain menghindari hal-hal yang dilarang, terdapat beberapa anjuran yang dapat dilakukan di bulan Muharram untuk meningkatkan kualitas ibadah dan keimanan:
-
Berpuasa Asyura: Puasa Asyura, yaitu puasa pada tanggal 10 Muharram, merupakan puasa sunnah yang sangat dianjurkan. Rasulullah SAW menganjurkan untuk berpuasa pada tanggal 10 Muharram. Puasa ini memiliki keutamaan yang besar dan dapat menghapus dosa-dosa kita.
-
Meningkatkan ibadah: Bulan Muharram merupakan waktu yang tepat untuk meningkatkan kualitas ibadah, seperti sholat, membaca Al-Quran, berdzikir, dan berdoa. Dengan meningkatkan ibadah, kita dapat mendekatkan diri kepada Allah SWT dan memperoleh keberkahan di bulan yang mulia ini.
-
Bersedekah dan berbagi: Bersedekah dan berbagi kepada sesama merupakan amalan yang sangat dianjurkan dalam Islam. Di bulan Muharram, kita dapat meningkatkan sedekah dan berbagi kepada orang-orang yang membutuhkan, baik berupa materi maupun non-materi. Dengan berbagi, kita dapat merasakan kebahagiaan dan memperoleh pahala dari Allah SWT.
-
Meningkatkan silaturahmi: Mempererat tali silaturahmi dengan keluarga, kerabat, dan teman merupakan amalan yang sangat dianjurkan dalam Islam. Di bulan Muharram, kita dapat meningkatkan silaturahmi dengan mengunjungi keluarga dan kerabat, serta menjalin hubungan yang baik dengan sesama muslim.
-
Mempelajari sejarah Islam: Mempelajari sejarah Islam, khususnya peristiwa Asyura, dapat meningkatkan pemahaman kita tentang ajaran Islam dan memperkuat keimanan kita. Dengan memahami sejarah, kita dapat mengambil hikmah dan pelajaran berharga untuk diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.
Kesimpulan:
Bulan Muharram merupakan bulan yang istimewa bagi umat Muslim. Namun, penting untuk memahami larangan dan anjuran yang dianjurkan agar ibadah dan perayaan tetap berjalan sesuai dengan tuntunan agama. Dengan menghindari perbuatan maksiat dan bid’ah, serta meningkatkan amal ibadah dan ketaatan kepada Allah SWT, kita dapat meraih keberkahan dan pahala di bulan Muharram. Semoga pemahaman yang komprehensif ini dapat menjadi panduan bagi kita semua dalam menyambut dan menjalani bulan Muharram dengan penuh hikmah dan keberkahan. Ingatlah selalu firman Allah SWT dalam QS Al-Mujadalah ayat 10 sebagai pengingat untuk senantiasa berhati-hati dalam ucapan dan perbuatan, dan senantiasa bertawakal kepada-Nya. Semoga Allah SWT senantiasa membimbing kita ke jalan yang lurus.



