Madinah, 31 Mei 2025 – Ribuan jemaah haji Indonesia telah bertolak dari Madinah menuju Makkah untuk mempersiapkan rangkaian ibadah puncak haji di Arafah, Muzdalifah, dan Mina. Namun, sejumlah jemaah masih menjalani perawatan di Klinik Kesehatan Haji Indonesia (KKHI) Madinah, mengungkapkan kebutuhan mendesak akan peningkatan layanan kesehatan bagi para jamaah. Menanggapi hal ini, Tim Pengawas (Timwas) Haji Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia (DPR RI) dengan tegas mendorong pemerintah untuk membangun rumah sakit haji dan umrah di Arab Saudi. Langkah ini dinilai krusial untuk menjamin layanan kesehatan yang prima dan optimal bagi jemaah, tidak hanya selama musim haji, tetapi juga sepanjang tahun untuk jemaah umrah.
Kunjungan Timwas Haji DPR RI ke KKHI Madinah pada tanggal 29 Mei 2025 tidak hanya berfokus pada pengawasan layanan kesehatan, tetapi juga mencakup pengawasan terhadap pelayanan transportasi dan akomodasi jemaah. Dalam kunjungan tersebut, Timwas melakukan peninjauan fasilitas KKHI dan melepas sejumlah jemaah yang telah dinyatakan pulih untuk melanjutkan perjalanan ke Makkah.
Sri Meliyana, anggota Timwas Haji DPR RI, menyatakan harapannya agar pemerintah segera mewujudkan pembangunan rumah sakit tersebut. "Kami berharap pemerintah Indonesia mendirikan rumah sakit di Arab Saudi untuk kepentingan jemaah haji dan umrah yang berlangsung sepanjang tahun," tegasnya. "Harapan ini telah disampaikan langsung kepada Kementerian Kesehatan, dengan harapan perencanaan yang matang terkait bangunan, tenaga kesehatan, dan peralatan medis dapat segera direalisasikan untuk mendukung ibadah haji dan umrah di masa mendatang."
Pendapat serupa disampaikan oleh Abdul Wachid, Wakil Ketua Komisi VIII DPR RI yang juga anggota Timwas Haji DPR RI. Beliau menekankan potensi pengembangan KKHI Madinah, khususnya mengingat wacana pembangunan "Kampung Haji Indonesia" di Arab Saudi oleh Presiden Prabowo. "Tempat ini sudah cukup bagus, tetapi melihat jumlah jemaah haji yang cukup besar, kapasitas dan fasilitas KKHI saat ini sangat kurang," ujar Wachid saat ditemui di Madinah pada 30 Mei 2025. "Fasilitas perlu ditingkatkan secara signifikan."
Wachid menyorot kondisi ambulan yang beroperasi di KKHI Madinah. "Komisi IX DPR RI dapat memperjuangkan agar rencana pembangunan ‘Kampung Haji Indonesia’ juga mencakup pembangunan rumah sakit milik Indonesia, baik di Makkah maupun Madinah," tambahnya. "Tidak hanya sebagai tempat penampungan jemaah, tetapi juga sebagai pusat layanan kesehatan yang terintegrasi dan memadai."

Pembangunan rumah sakit Indonesia di Arab Saudi, menurut Wachid, sangat penting untuk meningkatkan kenyamanan dan kepuasan jemaah. Pengalaman dirawat di rumah sakit lokal Arab Saudi seringkali menimbulkan kendala komunikasi dan budaya yang dapat mempengaruhi proses penyembuhan. "Kesembuhan bukan hanya bergantung pada obat, tetapi juga ketenangan jiwa," jelas politisi Fraksi Gerindra ini. "Jika jemaah dapat berkomunikasi dengan lancar dengan perawat dan dokter, proses penyembuhan akan lebih optimal. Sebaliknya, hambatan komunikasi dapat menjadi beban tambahan dan justru memperparah kondisi kesehatan mereka."
Wachid juga menyampaikan harapannya agar pemerintah mengalokasikan anggaran untuk pembaruan armada ambulan pada tahun 2026. "Kondisi ambulan yang ada saat ini telah mendapat kritik dari Pemerintah Arab Saudi karena dinilai tidak layak untuk mengantar jemaah antar kota, misalnya dari Madinah ke Makkah," ungkapnya. "Oleh karena itu, perlu ada perhatian serius terhadap anggaran untuk pengadaan ambulan baru, setidaknya untuk tahun 2026."
Analisis dan Implikasi:
Dorongan DPR RI untuk membangun rumah sakit haji dan umrah di Arab Saudi merupakan langkah strategis yang menjawab kebutuhan layanan kesehatan yang lebih komprehensif dan berkualitas bagi jemaah Indonesia. Keberadaan klinik kesehatan haji yang ada saat ini, meskipun telah memberikan layanan, terbatas dalam kapasitas dan jangkauan pelayanannya. Rumah sakit yang dikelola langsung oleh Indonesia akan menjamin ketersediaan tenaga medis yang memahami budaya dan bahasa Indonesia, serta memudahkan komunikasi dan koordinasi antara tim medis dengan jemaah dan keluarga mereka.
Pembangunan rumah sakit ini juga memiliki implikasi positif dalam peningkatan citra dan kepercayaan publik terhadap penyelenggaraan haji dan umrah. Layanan kesehatan yang prima akan meningkatkan rasa aman dan nyaman bagi jemaah, sehingga mereka dapat berkonsentrasi pada ibadah tanpa khawatir akan kondisi kesehatan mereka.
Namun, proyek ambisius ini juga menuntut perencanaan yang matang dan komprehensif. Aspek keuangan, perizinan, rekrutmen tenaga medis, pengadaan peralatan medis, dan koordinasi dengan pemerintah Arab Saudi merupakan tantangan yang harus dipersiapkan dengan baik. Transparansi dan akuntabilitas dalam pengelolaan anggaran juga sangat penting untuk mencegah potensi korupsi dan penyelewengan.
Selain itu, pemerintah juga perlu mempertimbangkan aspek keberlanjutan dari operasional rumah sakit tersebut. Model pengelolaan yang efisien dan berkelanjutan harus dirancang untuk menjamin operasional rumah sakit dalam jangka panjang. Kerjasama dengan lembaga kesehatan Arab Saudi juga dapat dipertimbangkan untuk memperkuat kapasitas dan kualitas pelayanan.
Kesimpulannya, dorongan DPR RI untuk membangun rumah sakit haji dan umrah di Arab Saudi merupakan langkah yang sangat diapresiasi. Proyek ini berpotensi untuk meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan bagi jemaah Indonesia dan memperkuat citra Indonesia di mata dunia internasional. Namun, kesuksesan proyek ini tergantung pada perencanaan yang matang, pengelolaan yang transparan dan akuntabel, serta koordinasi yang efektif antara berbagai pihak yang terkait. Perhatian terhadap aspek keberlanjutan juga sangat penting untuk menjamin operasional rumah sakit dalam jangka panjang dan memberikan manfaat maksimal bagi jemaah Indonesia.



