• Tentang Kami
  • Berita
  • Inspirasi
  • Harmoni
  • Wisata Halal
  • Warga Net
  • Tim Redaksi
No Result
View All Result
Era Madani
  • Bali
  • Berita
  • Kabar
  • Featured
  • Inspirasi
  • Harmoni
  • Budaya
  • Pariwisata
  • Sejarah
  • Gagasan
  • Warga Net
  • Wisata Halal
Era Madani
  • Tentang Kami
  • Berita
  • Inspirasi
  • Harmoni
  • Wisata Halal
  • Warga Net
  • Tim Redaksi
    animate
No Result
View All Result
Era Madani
No Result
View All Result
Dedikasi Seorang Bidan di Tanah Suci: Merawat Jemaah Lansia dengan Cinta dan Pengorbanan

Dedikasi Seorang Bidan di Tanah Suci: Merawat Jemaah Lansia dengan Cinta dan Pengorbanan

fatkur rohman by fatkur rohman
in Inspirasi
0 0
0
332
SHARES
2k
VIEWS
Share on FacebookShare on Twitter

Makkah, kota suci yang berdenyut dengan jutaan jemaah dari penjuru dunia, menyaksikan sebuah kisah inspiratif di tengah hiruk-pikuk ibadah haji tahun 2025. Di balik terik matahari dan keramaian, Yuni Puspita Sari, seorang bidan dan dosen Fakultas Kedokteran Universitas Pertahanan, menorehkan tinta emas pengabdiannya. Bukan sebagai jemaah, melainkan sebagai bagian dari 120 petugas safari wukuf, ia memilih untuk mengabdikan diri merawat para jemaah lanjut usia (lansia) dan jemaah berkebutuhan khusus selama sepuluh hari penuh, periode puncak ibadah haji yang berlangsung dari 1 hingga 10 Juni.

"Saya bukan diminta, tapi meminta untuk menjadi petugas safari wukuf," ujar Yuni kepada tim Media Center Haji (MCH) pada Jumat, 13 Juni 2025, seperti dikutip dari situs resmi Kementerian Agama. Keputusan ini bukan tanpa pertimbangan. Kesadaran akan beratnya tugas dan tuntutan fisik yang tinggi tak menghalangi langkahnya. Panggilan nurani dan keahlian profesionalnya sebagai bidan menjadi pendorong utama bagi Yuni untuk menghadapi tantangan ini. Ia menyadari bahwa di balik setiap langkah kaki yang lelah, terdapat makna ibadah dan pengabdian yang tak ternilai.

Sepuluh Hari di Tengah Haru dan Tawa: Lebih dari Sekedar Perawatan Medis

Sepuluh hari berlalu bagai kilatan cahaya, diwarnai kisah haru dan tawa yang tak terlupakan. Yuni dan timnya bertanggung jawab atas 477 jemaah lansia dan berkebutuhan khusus. Tugas mereka bukan sekadar perawatan medis, melainkan juga menjadi pendengar setia, penghibur, dan bahkan "keluarga" bagi para jemaah yang jauh dari keluarga mereka. Di tengah kesibukan, terungkaplah beragam kisah unik dan menyentuh yang menunjukkan betapa kaya dan bermakna kehidupan manusia.

Salah satu kisah yang membekas adalah cerita tentang Nenek Rosidah, yang akrab disapa "Nenek Rudi". Usia Nenek Rosidah yang telah melewati 70 tahun, ditambah dengan kondisi demensia yang dialaminya, tak mengurangi keceriaan dan keunikannya. Meskipun seringkali mengambil barang atau kunci milik jemaah lain dan membuangnya ke tempat sampah – terkadang dibantu oleh Nenek Maria, seorang jemaah lain dengan kondisi serupa – Nenek Rosidah tetaplah sosok yang penuh warna. "Akibat usilnya, kami harus mencari barang yang dibuang di tempat sampah tersebut dan dikembalikan ke pemiliknya," kenang Yuni dengan senyum simpul. Yang menarik, Nenek Rosidah selalu menunjukkan sikap positif dan menerima teguran dengan gembira. "Kalau kami tegur, ia tidak marah, happy aja," tambahnya.

Dedikasi Seorang Bidan di Tanah Suci: Merawat Jemaah Lansia dengan Cinta dan Pengorbanan

Kisah lain datang dari seorang jemaah pria yang hobi berpidato, diduga mantan guru, dan seorang petani yang ternyata seorang hafidz Al-Qur’an, yang mampu melantunkan ayat-ayat suci dengan fasih. Setiap jemaah membawa cerita dan latar belakang hidup yang berbeda-beda, membuat pengalaman Yuni dan timnya terasa seperti membaca lembaran demi lembaran buku kehidupan yang sarat makna. Mereka bukan hanya merawat tubuh, tetapi juga jiwa para jemaah.

Pengabdian 24 Jam: Merawat Layaknya Orang Tua Sendiri

Sebagai petugas safari wukuf, waktu bagi Yuni dan timnya seakan berhenti. Mereka bekerja selama 24 jam penuh, tanpa mengenal lelah. Tugas mereka meliputi berbagai hal, mulai dari menyuapi makanan, membantu buang air, mengganti popok, menggendong, memapah, hingga mencuci pakaian para jemaah. "Menjadi petugas haji adalah harapan semua orang. Selain bisa beribadah, yang paling utama adalah melayani jemaah, kalau haji itu bonus," kata Yuni dengan rendah hati.

Demi menjaga kebugaran para lansia, Yuni juga mengajak mereka senam ringan setiap pagi. Hasilnya pun luar biasa. Beberapa jemaah yang awalnya hanya mampu duduk, perlahan-lahan mampu berjalan kembali. Perhatian kecil pun tak luput dari perhatian Yuni dan timnya. Mereka berusaha memenuhi setiap permintaan jemaah, dari yang sederhana seperti rempeyek, bubur, hingga buah anggur. Kerja sama yang baik dengan dapur logistik memastikan setiap permintaan terpenuhi, sebuah bukti nyata kepedulian mereka terhadap para lansia.

"Ada yang minta anggur, ada yang minta bubur, ada yang minta rempeyek. Untungnya dari dapur sigap, sehingga semua permintaan itu terpenuhi," jelas Yuni. Malam hari pun tak lepas dari sentuhan kasih sayang. Para jemaah yang datang tanpa pendamping sering merasa sepi dan rindu keluarga. Yuni dan timnya menjadi jembatan penghubung, menjadi telinga yang siap mendengar keluh kesah, dan bahkan membantu menghubungi anak atau cucu mereka di rumah. "Kami curahkan semua kemampuan kami, kami rawat mereka layaknya orang tua sendiri. Sehingga keadaan mereka menjadi lebih baik," tuturnya.

Wukuf di Arafah: Air Mata di Padang Rahmat

Puncak ibadah haji tiba. Yuni dan tim mendampingi jemaah menuju Arafah dengan bus. Di sana, mereka membantu memandikan, memakaikan pakaian ihram, memberikan vitamin, dan membimbing doa selama kurang lebih satu jam. Saat pembimbing ibadah mulai melantunkan doa-doa di Padang Arafah, tempat yang dianggap paling mustajab, tangis haru memenuhi udara. Para jemaah menengadahkan wajah, memohon ampun, merenungi dosa-dosa masa lalu, dan mensyukuri kesempatan untuk berada di tempat yang begitu mulia.

"Ketika petugas bimbingan ibadah memandu doa di Arafah dan mengatakan Arafah adalah doa yang mustajab, mereka sontak berdoa dengan menangis, merenungi dosa dan mensyukuri nikmat Allah. Di sini kita merasa sangat terharu," ungkap Yuni, menggambarkan suasana penuh hikmat tersebut.

Setelah wukuf, perjalanan berlanjut ke Muzdalifah untuk mengambil batu kerikil (murur), lalu kembali ke hotel. Pengabdian Yuni dan tim tak berhenti sampai di situ. Mereka juga diberi amanah untuk mewakilkan lontar jumrah dan membantu tawaf ifadah bagi para jemaah yang membutuhkan. "Setiap dari kita bertugas mewakilkan lontar jumrah 4-5 jemaah. Kita merasa senang sekali diberikan kepercayaan melayani mereka," ujarnya dengan penuh syukur.

Anugerah, Bukan Beban: Harapan untuk Masa Depan

Sepuluh hari yang penuh peluh dan air mata itu tak dianggap Yuni sebagai beban, melainkan anugerah. Pengalaman ini telah memperkaya hidupnya dengan makna dan kepuasan batin yang tak tergantikan. Namun, di balik semua itu, terdapat satu harapan yang ia sampaikan: "Semakin sedikit jemaah safari wukuf, akan semakin berhasil penyelenggaraan haji, karena lansia yang berhaji dalam keadaan sehat." Harapan sederhana ini mencerminkan tujuan utama pengabdiannya: agar para lansia dapat menunaikan ibadah haji dengan nyaman dan sehat, sehingga perjalanan spiritual mereka di Tanah Suci dipenuhi dengan kedamaian dan keberkahan. Kisah Yuni Puspita Sari menjadi bukti nyata bahwa pengabdian sejati tak mengenal batas, dan bahwa kecilnya tindakan dapat menciptakan dampak yang besar bagi kehidupan orang lain.

Previous Post

Guruku, Pahlawanku: Ucapan Terima Kasih dan Doa di Hari Perpisahan Sekolah

Next Post

Eskalasi Konflik Iran-Israel: Seruan Doa Perdamaian dari Muslimat NU di Tengah Ketegangan Global

fatkur rohman

fatkur rohman

Next Post
Eskalasi Konflik Iran-Israel: Seruan Doa Perdamaian dari Muslimat NU di Tengah Ketegangan Global

Eskalasi Konflik Iran-Israel: Seruan Doa Perdamaian dari Muslimat NU di Tengah Ketegangan Global

Jejak Investasi Nabi Muhammad SAW:  Sukses Dunia Akhirat Melalui Prinsip Amanah dan Berkah

Jejak Investasi Nabi Muhammad SAW: Sukses Dunia Akhirat Melalui Prinsip Amanah dan Berkah

Dinamika Kuota Haji Indonesia: Dari Pembatasan hingga Kepastian 2026

Dinamika Kuota Haji Indonesia: Dari Pembatasan hingga Kepastian 2026

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Facebook Twitter Youtube Vimeo Instagram

Category

  • Bali
  • Berita
  • Budaya
  • Featured
  • Gagasan
  • Geopolitik, Kepemimpinan, Kaderisasi, Strategi Partai, Identitas Keumatan, Jaringan Global, Pemberdayaan Sumber Daya Manusia
  • Harmoni
  • Headline
  • Inspirasi
  • Kabar
  • Keamanan
  • Kesehatan
  • Keuangan
  • Mancanegara
  • Olahraga
  • Opini
  • Pariwisata
  • Pendidikan
  • Peristiwa
  • Politik
  • Sejarah
  • Sponsored
  • Teknologi
  • Uncategorized
  • Warga Net
  • Wisata Halal

© 2020 EraMadani - Harmoni dan Inspirasi.

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • TENTANG KAMI
  • BERITA
  • BALI
  • KABAR
  • FEATURED
  • TIM REDAKSI

© 2020 EraMadani - Harmoni dan Inspirasi.