ERAMADANI.COM – Godaan setan bisa datang kapan saja dan di mana saja, di saat kita tengah merasa dekat dengan Allah SWT atau pun saat merasa juah dari-Nya.
Terkait hal itu, Imam Ibnu Hazm Az-Zhahiri menyampaikan beberapa cara yang bisa kita lakukan sebagai seorang muslim agar terhindar dari godaan-godaan setan.
Sebagaimana mengutip dari Kitab Rasail Ibnu Hazm al-Andalusi‘ dan melansir dari Mawdoo melalui republika.co.id, penjelasan cara-cara yang dapat kita tempuh itu ada empat.
Empat Cara agar Terhindar dari Godaan Setan Berdasarkan Kitab Rasail Ibnu Hazm al-Andalusi‘
Pertama, seorang muslim harus cermat memahami kekuasaan Allah SWT dan memperhatikan berbagai keajaiban yang ada pada makhluk ciptaan-Nya, baik di Bumi maupun di Langit.
Khususnya terkait bagaimana penciptaan manusia dengan berbagai kekhususan dari sisi penggambarannya dan pembentukannya.
Kedua, menahan diri untuk tidak memikirkan hal-hal yang tidak dapat dibayangkan pikiran seperti bagaimana wujud Allah SWT dan soal keberadaan-Nya.
Cukup bagi setiap muslim mengamati apa yang Allah SWT ciptakan dan tampakkan sebagai suatu fakta yang dapat manusia lihat.
Hal itu juga sekaligus mengonfirmasi keberadaan Allah SWT dan kekuasaan-Nya.
Seorang baduwi sendiri memberikan jawaban yang luar biasa saat ditanya ihwal bagaimana dirinya mengenal Allah SWT. Dia mengatakan, “Jejak menunjukkan jalan, unta menunjukkan unta, maka langit tanda adanya menara, dan lautan tanda adanya ombak. Lalu bukankah ini semua dapat dilihat dan didengar?”
Ketiga, Ibnu Hazm mengingatkan bahwa keasyikan dengan ilmu teoretis tentang akidah yang menyerukan pada filsafat, terutama pada kalangan orang awam dapat menyebabkan kekeliruan, karena mereka tidak memahami ilmu-ilmu itu.
Oleh karena itu, lebih baik umat Islam menyibukkan pada aturan syariat yang sudah jelas ada dan mengabdi untuk beribadah.
Sebagaimana yang telah Islam ajarkan agar hati dan pikiran terhindar dari godaan setan.
Keempat, memahami bahwa apa yang Allah SWT berikan kepada manusia itu merupakan kehendak-Nya dengan kebijaksanaan dan kekuasaan-Nya.
Setiap muslim tidak memiliki kekuatan, pengaruh, dan pengetahuan yang absolut atas apa yang telah ia capai.
Kitab Rasail Ibnu Hazm al-Andalusi‘
(ITM)




