Bulan Muharram, khususnya tanggal 9 (Tasu’a) dan 10 (Asyura), menjadi momentum istimewa bagi umat Muslim untuk menjalankan puasa sunnah. Namun, realita seringkali menghadirkan dilema bagi mereka yang masih memiliki kewajiban qadha puasa Ramadhan. Pertanyaan krusial pun muncul: Bolehkah menggabungkan niat puasa qadha dengan puasa sunnah Tasu’a atau Asyura? Permasalahan ini memerlukan pemahaman mendalam terhadap hukum Islam terkait puasa wajib dan sunnah, serta penafsiran ayat Al-Qur’an yang relevan.
Ayat Al-Baqarah ayat 184 menjadi rujukan utama dalam membahas kewajiban qadha puasa Ramadhan. Ayat tersebut berbunyi:
(Arab): AyyÄÂmam ma’dÅ«dÄÂt(in), faman kÄÂna minkum marÄ«á¸Âan au ‘alÄ safarin fa ‘iddatum min ayyÄÂmin ukhar(a), wa ‘alal-lażīna yuá¹ÂÄ«qÅ«nahÅ« fidyatun á¹Âa’ÄÂmu miskÄ«n(in), faman taá¹Âawwa’a khairan fahuwa khairul lah(Å«), wa an taṣūmÅ« khairul lakum in kuntum ta’lamÅ«n(a).
(Latin): Ayyāma ma’dūdata(in), faman kāna minkum marīḍan aw ‘alā safarin fa ‘iddatun min ayyāmin ukhār(a), wa ‘alal-lażīna yuṭīqūna fidyatun ‘a’mu miskīn(in), faman taṭawwa’a khairan fa huwa khairul lah(u), wa an taṣūmu khairul lakum in kuntum ta’lamūn(a).
(Terjemahan): "(Yaitu) beberapa hari tertentu. Maka, siapa di antara kamu sakit atau dalam perjalanan (lalu tidak berpuasa), (wajib mengganti) sebanyak hari (yang dia tidak berpuasa itu) pada hari-hari yang lain. Bagi orang yang berat menjalankannya, wajib membayar fidyah, (yaitu) memberi makan seorang miskin. Siapa dengan kerelaan hati mengerjakan kebajikan, itu lebih baik baginya dan berpuasa itu lebih baik bagimu jika kamu mengetahui."

Ayat ini secara tegas menekankan kewajiban mengganti puasa Ramadhan yang ditinggalkan karena alasan tertentu. Namun, ayat ini tidak secara eksplisit membahas penggabungan niat qadha dengan puasa sunnah. Oleh karena itu, diperlukan penafsiran lebih lanjut berdasarkan hadis dan pendapat para ulama.
Pendapat Ulama dan Hukum Puasa Sunnah bagi yang Memiliki Utang Puasa
Hukum menjalankan puasa sunnah bagi yang masih memiliki utang puasa Ramadhan menjadi perdebatan yang cukup kompleks. Pendapat Buya Yahya, seorang ulama yang cukup berpengaruh, memberikan pencerahan yang penting dalam hal ini. Beliau menjelaskan bahwa hukumnya bergantung pada sebab seseorang meninggalkan puasa Ramadhan.
Jika seseorang sengaja meninggalkan puasa Ramadhan tanpa uzur syar’i (alasan yang dibenarkan syariat), maka ia tidak diperbolehkan melaksanakan puasa sunnah sebelum melunasi utang puasanya. Puasa wajib Ramadhan harus diprioritaskan dan dibayar secara langsung (kontan). Ini didasarkan pada prinsip bahwa kewajiban mendahului sunnah.
Sebaliknya, jika puasa Ramadhan ditinggalkan karena uzur syar’i seperti haid, nifas, sakit berat, perjalanan jauh, atau kondisi yang membahayakan jiwa, maka seseorang tetap diperbolehkan menjalankan puasa sunnah. Puasa sunnah tetap sah meskipun qadha puasa Ramadhan belum dilakukan, selama masih ada kesempatan untuk mengqadhanya di kemudian hari. Hal ini menunjukkan fleksibilitas syariat Islam dalam menghadapi kondisi darurat atau keadaan yang di luar kendali manusia.
Penggabungan Niat Puasa Qadha dan Sunnah: Ikhtilaf Pendapat
Perihal penggabungan niat antara puasa qadha dan puasa sunnah, Buya Yahya menjelaskan bahwa niat qadha tidak boleh digabung dengan niat puasa sunnah, meskipun waktunya bertepatan dengan hari-hari yang dianjurkan untuk berpuasa sunnah, seperti Tasu’a dan Asyura. Jika digabung, maka puasa qadha tersebut tidak sah.
Namun, beliau juga menawarkan solusi yang disebut "bayar satu dapat dua". Seseorang yang memiliki utang puasa Ramadhan dapat mengqadhanya pada tanggal 9, 10, atau 11 Muharram. Karena bertepatan dengan hari-hari puasa sunnah, ia tetap mendapatkan pahala puasa sunnah, selama niatnya khusus untuk membayar utang puasa Ramadhan. Dengan kata lain, niat harus dikhususkan untuk qadha, bukan digabung dengan niat puasa sunnah.
Sebaliknya, dalam puasa sunnah yang tidak bersifat wajib, penggabungan niat diperbolehkan. Misalnya, jika puasa Tasu’a bertepatan dengan hari Senin, seseorang boleh berniat puasa Senin dan puasa Tasu’a sekaligus. Hal ini berlaku untuk semua jenis puasa sunnah lainnya. Prinsip ini menekankan pentingnya kejelasan niat dalam ibadah.
Bacaan Niat Puasa Tasu’a, Asyura, dan Qadha Ramadhan
Kejelasan niat menjadi kunci kesempurnaan ibadah. Berikut bacaan niat untuk masing-masing puasa:
- Niat Puasa Tasu’a (9 Muharram):
(Arab): Nawaitu shauma tasu’aa sunnatan lillāhi ta’ālā.
(Latin): Nawaitu shauma tasu’aa sunnatan lillāhi ta’ālā.
(Terjemahan): Saya berniat puasa sunnah Tasu’a karena Allah Ta’ala.
- Niat Puasa Asyura (10 Muharram):
(Arab): Nawaitu shauma ‘asyūrā’a sunnatan lillāhi ta’ālā.
(Latin): Nawaitu shauma ‘asyūrā’a sunnatan lillāhi ta’ālā.
(Terjemahan): Saya berniat puasa sunnah Asyura karena Allah Ta’ala.
- Niat Qadha Puasa Ramadhan:
(Arab): Nawaitu shauma ghadin ‘an qadhā’i fardhi syahri Ramaḍāna lillāhi ta’ālā.
(Latin): Nawaitu shauma ghadin ‘an qadhā’i fardhi syahri Ramaḍāna lillāhi ta’ālā.
(Terjemahan): Aku berniat puasa esok hari untuk mengqadha puasa wajib bulan Ramadhan karena Allah SWT.
Kesimpulan
Hukum menggabungkan niat puasa qadha Ramadhan dengan puasa sunnah Tasu’a atau Asyura perlu dipahami secara cermat. Meskipun bertepatan waktunya, niat harus dikhususkan. Menggabungkan niat qadha dengan sunnah akan membatalkan sahnya puasa qadha. Prioritas utama adalah melunasi kewajiban qadha puasa Ramadhan terlebih dahulu, terutama jika ditinggalkan tanpa uzur syar’i. Namun, bagi yang memiliki uzur syar’i, menjalankan puasa sunnah tetap diperbolehkan. Kejelasan niat dan pemahaman mendalam terhadap hukum Islam menjadi kunci dalam menjalankan ibadah puasa dengan benar dan mendapatkan pahala yang maksimal. Konsultasi dengan ulama atau tokoh agama yang terpercaya juga sangat dianjurkan untuk mendapatkan pemahaman yang lebih komprehensif dan sesuai dengan konteks masing-masing individu.



