Jakarta, [Tanggal Publikasi] – Tahun Baru Hijriah 1445 H bukan sekadar pergantian angka dalam kalender Islam. Bagi umat Muslim, momentum ini sarat makna sebagai waktu yang tepat untuk melakukan introspeksi diri, mengevaluasi perjalanan spiritual setahun yang lalu, dan memperbaharui komitmen untuk meningkatkan ketakwaan kepada Allah SWT. Khutbah Jumat pada awal tahun baru ini pun secara khusus menekankan pentingnya evaluasi iman dan peneguhan tekad untuk menjadi pribadi yang lebih baik di masa mendatang. Hal ini sejalan dengan firman Allah SWT dalam Surah Al-Hasyr ayat 18:
“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah dikerjakannya untuk hari esok (akhirat); dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Teliti terhadap apa yang kamu kerjakan.”
Ayat ini menjadi landasan utama khutbah, mengajak jamaah untuk merenungkan amal perbuatan selama setahun terakhir. Bukan sekadar pencapaian duniawi yang menjadi fokus, melainkan kualitas keimanan dan kedekatan dengan Sang Khalik yang menjadi ukuran keberhasilan sejati. Khutbah tersebut secara sistematis membedah dua hal utama: pertama, mengawali tahun baru dengan meneladani puasa Asyura, dan kedua, mengenai keistimewaan bulan Muharram sebagai bulan yang dimuliakan Allah SWT.
Puasa Asyura: Syukur, Perjuangan, dan Penghapus Dosa
Khutbah pertama berfokus pada puasa Asyura, yang jatuh pada tanggal 10 Muharram. Riwayat dari Ibnu Abbas RA menjelaskan bahwa Nabi Muhammad SAW, setelah tiba di Madinah, melihat orang-orang Yahudi berpuasa pada hari Asyura. Mereka menjelaskan bahwa hari tersebut merupakan hari yang mulia, karena Allah SWT telah menyelamatkan Nabi Musa AS dari kejaran Fir’aun dan menenggelamkan Fir’aun beserta tentaranya di Laut Merah. Nabi Musa AS pun berpuasa sebagai tanda syukur atas penyelamatan tersebut.

Rasulullah SAW kemudian bersabda, “Aku lebih berhak atas Musa daripada mereka.” Beliau pun berpuasa pada hari Asyura dan menganjurkan umatnya untuk melakukan hal yang sama. Dari sini, khutbah menarik beberapa poin penting:
-
Mensyukuri Nikmat Allah: Khutbah menekankan pentingnya mensyukuri nikmat Allah SWT, meski nikmat tersebut terjadi berabad-abad lalu. Peristiwa penyelamatan Nabi Musa AS, yang terjadi ribuan tahun silam, tetap relevan dan menjadi contoh bagaimana kita seharusnya bersyukur atas segala karunia yang telah diberikan Allah SWT. Puasa Asyura menjadi wujud nyata rasa syukur tersebut, mengingatkan kita untuk selalu mengingat dan menghargai anugerah Ilahi.
-
Meneladani Perjuangan Nabi Musa AS: Kisah Nabi Musa AS dan Fir’aun bukan hanya sekadar cerita sejarah. Khutbah menggarisbawahi perjuangan Nabi Musa AS dalam membebaskan Bani Israil dari penindasan Fir’aun sebagai simbol perjuangan melawan kezaliman. Fir’aun, yang namanya lebih sering disebut dalam Al-Qur’an dibandingkan Nabi Muhammad SAW, dijadikan sebagai contoh nyata tentang keangkuhan, kesombongan, dan kekejaman yang harus dihindari. Kisah ini relevan dengan kondisi saat ini, di mana masih banyak bentuk kezaliman dan penindasan yang terjadi di dunia.
-
Puasa Asyura sebagai Penghapus Dosa: Khutbah menjelaskan keutamaan puasa Asyura, yang menurut sabda Rasulullah SAW, dapat menghapus dosa-dosa kecil setahun yang lalu. Namun, khutbah juga menekankan bahwa hal ini tidak berarti dosa-dosa besar seperti pengingkaran hak orang lain, kezaliman, dan hutang dapat dihapus begitu saja. Puasa Asyura harus diiringi dengan upaya memperbaiki diri, mengembalikan hak yang terambil, dan melunasi hutang. Istighfar dan shalat taubat pun perlu diimbangi dengan amal nyata sebagai bentuk penyesalan dan perbaikan diri.
-
Keutamaan Mengikuti Sunnah Nabi Muhammad SAW: Khutbah menegaskan bahwa kita mengikuti sunnah Nabi Muhammad SAW, bukan karena mengikuti syariat-syariat sebelum Islam. Meskipun beberapa amalan nabi terdahulu dibenarkan dan diteruskan dalam Islam, kebenaran dan keselamatan hanya dapat diraih dengan mengikuti ajaran Nabi Muhammad SAW sebagai penutup para nabi. Cinta kepada Allah SWT harus diwujudkan dengan meneladani Rasulullah SAW dalam segala hal.
Keistimewaan Bulan Muharram: Bulan yang Dimuliakan Allah SWT
Khutbah kedua beralih pada keistimewaan bulan Muharram secara umum. Bulan Muharram, yang disebut sebagai Syahrullah (bulan Allah), merupakan bulan yang dimuliakan Allah SWT. Khutbah menjelaskan bahwa di dalam bulan Muharram, khususnya pada tanggal 10 Muharram (Asyura), terjadi berbagai peristiwa penting dalam sejarah kenabian:
-
Nabi Nuh AS: Keselamatan Nabi Nuh AS dan pengikutnya dari banjir besar yang menghancurkan kaumnya yang ingkar. Peristiwa ini menjadi pengingat akan pentingnya keimanan dan ketaatan kepada Allah SWT.
-
Nabi Ibrahim AS: Keselamatan Nabi Ibrahim AS dari api yang menyala-nyala atas perintah Allah SWT, menunjukkan kekuasaan dan perlindungan Allah SWT bagi hamba-Nya yang beriman.
-
Nabi Musa AS: Penyelamatan Nabi Musa AS dan Bani Israil dari kejaran Fir’aun, dan penenggelaman Fir’aun beserta tentaranya. Peristiwa ini kembali ditekankan sebagai simbol perjuangan melawan kezaliman dan pentingnya bersyukur atas pertolongan Allah SWT.
-
Nabi Adam AS: Penerimaan taubat Nabi Adam AS setelah memakan buah yang dilarang. Ini menjadi bukti kasih sayang dan pengampunan Allah SWT yang tak terbatas.
-
Nabi Yunus AS: Keselamatan Nabi Yunus AS setelah dikeluarkan dari perut ikan nun, menunjukkan keajaiban dan pertolongan Allah SWT yang selalu ada bagi hamba-Nya yang bertaubat.
-
Nabi Sulaiman AS: Pengembalian kerajaan Nabi Sulaiman AS, menunjukkan kekuasaan Allah SWT dalam mengatur alam semesta dan memberikan nikmat kepada siapa yang dikehendaki-Nya.
Semua peristiwa tersebut, yang terjadi pada tanggal 10 Muharram atau di bulan Muharram, menunjukkan kemuliaan bulan ini dan pentingnya memperbanyak amal ibadah di dalamnya. Khutbah mengajak jamaah untuk memanfaatkan momentum Tahun Baru Hijriah dan bulan Muharram untuk meningkatkan ketakwaan, memperbanyak amal saleh, dan melakukan introspeksi diri. Puasa Asyura, sebagai salah satu amalan sunnah yang dianjurkan, menjadi sarana untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT dan memohon ampunan atas dosa-dosa yang telah diperbuat.
Khutbah ditutup dengan seruan untuk senantiasa bertawakal kepada Allah SWT, memohon ampunan dan rahmat-Nya, serta bertekad untuk menjadi pribadi yang lebih baik di tahun baru Hijriah. Pesan utama khutbah adalah pentingnya evaluasi diri bukan hanya secara fisik dan materi, tetapi terutama secara spiritual, dengan fokus pada peningkatan keimanan dan ketakwaan kepada Allah SWT. Tahun baru menjadi momentum untuk memperbaiki diri dan mempersiapkan diri menghadapi hari akhir.



