Makkah, Arab Saudi – Kecemasan menyelimuti Petugas Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) Arab Saudi menyusul hilangnya tiga jemaah haji lansia asal Indonesia. Ketiganya, yang masing-masing memiliki riwayat demensia, terpisah dari rombongan kloternya dan hingga kini belum ditemukan. Upaya pencarian intensif terus dilakukan oleh PPIH dengan melibatkan berbagai pihak, namun hingga saat ini belum membuahkan hasil.
Ketiga jemaah yang hilang tersebut adalah Nurimah (80 tahun) dari Kloter 19 Embarkasi Palembang, Sukardi (67 tahun) dari Kloter 79 Embarkasi Surabaya, dan Hasbullah (73 tahun) dari Kloter 07 Embarkasi Banjarmasin. Hilangnya mereka menimbulkan keprihatinan mendalam, mengingat kondisi kesehatan dan usia mereka yang rentan.
Kepala Bidang Perlindungan Jemaah PPIH Arab Saudi, Kolonel Laut Harun Arrasyid, dalam keterangan resminya kepada media, menyatakan bahwa pencarian terus dilakukan secara maksimal. “Kami masih berusaha mencari ketiga jemaah tersebut dengan segala upaya yang ada,” tegas Harun. Ia menambahkan bahwa koordinasi intensif dilakukan dengan berbagai pihak, baik internal PPIH maupun eksternal, termasuk pihak berwenang di Arab Saudi.
Kronologi hilangnya masing-masing jemaah, menurut keterangan Harun, berbeda-beda, namun semuanya menunjukkan adanya keterkaitan dengan kondisi demensia yang mereka alami.
Nurimah (80 tahun) – Kloter 19 Embarkasi Palembang: Nurimah, yang menginap di Hotel 614 Makkah, dilaporkan hilang pada 28 Mei 2025, dua hari setelah tiba di Makkah. “Beliau meninggalkan rombongan tanpa diketahui jejaknya hingga saat ini,” ungkap Harun. Kehilangan Nurimah menjadi titik awal kekhawatiran akan potensi hilangnya jemaah lansia lainnya.

Sukardi (67 tahun) – Kloter 79 Embarkasi Surabaya: Sukardi, penghuni Hotel 813 (Sektor 8) Makkah, terpisah dari rombongannya pada 29 Mei 2025. Laporan dari pembimbing ibadah kloternya kepada PPIH menjadi dasar pencarian intensif terhadap jemaah ini. “Sampai saat ini, upaya pencarian Sukardi belum membuahkan hasil,” tambah Harun.
Hasbullah (73 tahun) – Kloter 07 Embarkasi Banjarmasin: Kasus Hasbullah sedikit berbeda. Ia dilaporkan hilang pada 17 Juni 2025, setelah meninggalkan Hotel 709 (Sektor 7) Makkah sekitar pukul 03.00 WAS. Menurut keterangan putri Hasbullah yang saat ini berada di Madinah, ayahnya memang memiliki riwayat demensia dan pernah beberapa kali terpisah dari rombongan, namun selalu berhasil ditemukan kembali. Namun, kejadian pada dini hari 17 Juni lalu berbeda. “Hasbullah keluar hotel tanpa pengawasan keluarga dan kemungkinan besar tersesat,” jelas Harun, menuturkan cerita dari pihak keluarga.
Upaya Pencarian yang Dilakukan PPIH:
PPIH telah mengerahkan seluruh sumber daya dan menjalin kerjasama dengan berbagai pihak dalam upaya pencarian ketiga jemaah tersebut. Strategi pencarian dilakukan secara multi-faceted, meliputi:
-
Koordinasi dengan Pihak Berwenang: PPIH telah berkoordinasi intensif dengan syarikah (perusahaan penyelenggara haji), Konsulat Jenderal Republik Indonesia (KJRI) Jeddah, dan Konsultan Haji di Jeddah. Laporan resmi juga telah disampaikan kepada Kepolisian Arab Saudi di Makkah untuk membantu proses pencarian.
-
Penyisiran Rumah Sakit: PPIH, bekerjasama dengan Klinik Kesehatan Haji Indonesia (KKHI) Makkah, telah melakukan penyisiran ke berbagai rumah sakit di Makkah dan Jeddah. Upaya ini bertujuan untuk memastikan ketiga jemaah tidak mengalami kecelakaan atau sakit dan dirawat di rumah sakit tanpa identitas yang jelas.
-
Pencarian di Wilayah Mu’aisyim: Wilayah Mu’aisyim, yang berdekatan dengan Makkah, juga menjadi target pencarian, terutama untuk kasus Hasbullah. Tim pencarian telah membawa data lengkap ketiga jemaah untuk mempermudah identifikasi. Namun, hingga saat ini belum ada titik terang.
-
Penyisiran Hotel-Hotel Sekitar Makkah: Pencarian juga dilakukan di hotel-hotel sekitar Makkah, termasuk hotel-hotel yang telah ditinggalkan jemaah lain yang telah pulang atau melanjutkan perjalanan ke Madinah. Upaya ini bertujuan untuk memastikan ketiga jemaah tidak tertinggal atau tersesat di hotel-hotel tersebut.
-
Pemanfaatan Teknologi: Meskipun berita tidak secara spesifik menyebutkan, diperkirakan PPIH juga memanfaatkan teknologi informasi dan komunikasi, seperti pengumuman melalui media sosial dan kerjasama dengan operator seluler untuk melacak keberadaan jemaah melalui nomor telepon mereka.
Imbauan dan Doa:
Harun mengimbau seluruh jemaah haji Indonesia untuk turut mendoakan agar ketiga jemaah yang hilang segera ditemukan dalam keadaan selamat. Ia juga mengingatkan pentingnya kewaspadaan dan kehati-hatian bagi seluruh jemaah, khususnya para lansia, agar selalu bersama pendamping dan tidak bepergian sendiri.
Pentingnya menghafal rute bus Shalawat juga ditekankan Harun. Bus Shalawat merupakan moda transportasi utama bagi jemaah untuk menuju Masjidil Haram. Mengetahui rute ini akan sangat membantu jika jemaah terpisah dari rombongan. Harun juga mengingatkan keberadaan pos-pos bantuan petugas haji Indonesia di titik-titik strategis Masjidil Haram dan Masjid Nabawi.
Kejadian ini menjadi pengingat akan pentingnya antisipasi dan persiapan yang matang dalam penyelenggaraan ibadah haji, khususnya bagi jemaah lansia yang memiliki kondisi kesehatan khusus. Peran keluarga dan pembimbing ibadah dalam mengawasi dan memastikan keselamatan jemaah sangat krusial. PPIH, dengan segala keterbatasannya, terus berupaya maksimal dalam pencarian ini, dan berharap dukungan dan doa dari seluruh pihak agar ketiga jemaah haji lansia tersebut segera ditemukan dalam keadaan selamat. Semoga Allah SWT memberikan perlindungan dan petunjuk bagi mereka.




