Jakarta, 6 Juli 2025 – Hari Asyura, yang jatuh pada tanggal 10 Muharram dalam kalender Hijriah, kembali diperingati umat Islam di seluruh dunia. Tahun ini, Hari Asyura bertepatan dengan tanggal 6 Juli 2025 Masehi. Lebih dari sekadar tanggal dalam kalender, Asyura menyimpan makna historis dan spiritual yang mendalam bagi umat Islam, dikaitkan dengan peristiwa-peristiwa penting dalam sejarah Nabi Musa AS dan Nabi Muhammad SAW, serta dipenuhi dengan anjuran untuk berpuasa dan beribadah.
Sejarah Asyura dalam Perspektif Islam:
Hari Asyura bukanlah sekadar hari biasa dalam kalender Islam. Ia memiliki akar sejarah yang kuat, terpatri dalam peristiwa-peristiwa monumental yang diabadikan dalam Al-Qur’an dan Hadits. Salah satu peristiwa yang paling signifikan adalah penyelamatan Bani Israil dari kejaran Firaun yang kejam. Allah SWT menyelamatkan Nabi Musa AS dan kaumnya dari cengkeraman Firaun dengan membelah lautan, menenggelamkan Firaun dan tentaranya. Peristiwa ini menjadi momentum penting yang dirayakan umat Islam hingga kini.
Hadits riwayat Bukhari menjelaskan bagaimana Nabi Muhammad SAW, setelah tiba di Madinah, melihat orang-orang Yahudi berpuasa pada hari Asyura. Beliau menanyakan maksudnya, dan mendapat penjelasan bahwa hari itu merupakan hari penyelamatan Bani Israil. Nabi Muhammad SAW kemudian menyatakan, "Aku lebih berhak atas Musa daripada kalian," dan beliau pun berpuasa pada hari Asyura serta menganjurkan para sahabat untuk mengikutinya. Hal ini menunjukkan signifikansi hari Asyura bagi Nabi Muhammad SAW dan menjadi dasar anjuran berpuasa pada hari tersebut bagi umat Islam.
Kaitan Asyura dengan peristiwa penyelamatan Nabi Musa AS dari kejaran Firaun juga dijelaskan dalam beberapa tafsir Al-Qur’an. Peristiwa ini menjadi simbol kemenangan kebaikan atas kejahatan, iman atas kesesatan, dan pertolongan Allah SWT bagi hamba-Nya yang beriman dan sabar. Hari Asyura, dengan demikian, menjadi hari refleksi dan pengingat akan keagungan dan kuasa Allah SWT.

Anjuran Puasa Asyura dan Keutamaannya:
Puasa Asyura merupakan amalan sunnah yang sangat dianjurkan dalam Islam. Hadits dari Aisyah RA menyebutkan bahwa orang-orang Yahudi telah berpuasa pada hari Asyura sebelum diwajibkannya puasa Ramadan. Setelah kewajiban puasa Ramadan ditetapkan, Nabi Muhammad SAW bersabda, "Barang siapa yang mau berpuasa pada hari Asyura, lakukanlah; dan barang siapa yang tidak mau, biarkanlah." (HR. Bukhari). Pernyataan ini menunjukkan bahwa puasa Asyura merupakan amalan yang dianjurkan, namun bukan kewajiban.
Keutamaan puasa Asyura sangatlah besar. Berbagai hadits dan kitab hadits menyebutkan berbagai keutamaan, di antaranya:
-
Pahala yang luar biasa: Beberapa riwayat menyebutkan bahwa pahala puasa Asyura setara dengan pahala ibadah selama 60 tahun, atau bahkan setara dengan pahala 10.000 orang yang menunaikan ibadah haji. Tentu saja, angka-angka ini bersifat simbolik, menggambarkan betapa besarnya pahala yang akan diperoleh bagi mereka yang berpuasa dengan ikhlas dan penuh ketaatan.
-
Penghapusan dosa: Hadits dari Abu Qatadah RA menyebutkan bahwa Rasulullah SAW menyatakan bahwa puasa Asyura dapat menghapus dosa setahun yang lalu. Ini menunjukkan betapa ampuh dan mulianya amalan puasa Asyura dalam membersihkan diri dari dosa-dosa. Namun, perlu diingat bahwa penghapusan dosa ini tetap bergantung pada keikhlasan dan pertobatan yang tulus dari pelakunya.
-
Pahala yang berlipat ganda: Beberapa riwayat juga menyebutkan bahwa pahala puasa Asyura berlipat ganda, bahkan setara dengan pahala 10.000 malaikat. Hal ini menunjukkan betapa besarnya ganjaran yang diberikan Allah SWT kepada hamba-Nya yang menjalankan amalan sunnah ini dengan penuh keimanan.
-
Kebaikan lainnya: Selain pahala yang besar, puasa Asyura juga dikaitkan dengan berbagai kebaikan lainnya, seperti memberi makan orang fakir miskin, membelai anak yatim, dan mendapatkan derajat tinggi di surga. Semua ini menunjukkan bahwa amalan puasa Asyura bukan hanya berfokus pada ibadah individual, tetapi juga mendorong kepedulian sosial dan amal saleh.
Muharram: Bulan Terbaik Kedua Setelah Ramadan:
Bulan Muharram, bulan di mana Hari Asyura berada, juga memiliki keutamaan tersendiri. Disebutkan dalam berbagai literatur Islam bahwa Muharram merupakan bulan yang mulia dan terbaik kedua setelah Ramadan. Oleh karena itu, berpuasa di bulan Muharram, khususnya pada hari Asyura, menjadi amalan yang sangat dianjurkan.
Kesimpulan:
Hari Asyura merupakan hari yang sarat dengan makna historis dan spiritual bagi umat Islam. Peristiwa-peristiwa penting yang terjadi pada hari tersebut, baik yang berkaitan dengan Nabi Musa AS maupun Nabi Muhammad SAW, menjadi pengingat akan keagungan dan kuasa Allah SWT. Puasa Asyura, sebagai amalan sunnah, memiliki keutamaan yang luar biasa dan dianjurkan untuk dijalankan. Semoga dengan memahami sejarah dan keutamaan Asyura, kita dapat semakin meningkatkan keimanan dan ketaqwaan kepada Allah SWT. Semoga Allah SWT menerima segala amal ibadah kita dan menjadikan kita termasuk hamba-Nya yang selalu mendapatkan rahmat dan hidayah-Nya. Wallahu a’lam bisshawab.



