Jakarta, 27 Oktober 2023 – Bulan Zulhijah, bulan yang penuh berkah dan momentum ibadah bagi umat Muslim, kembali menyapa. Di antara amalan sunnah yang dianjurkan pada bulan ini adalah puasa Tarwiyah dan Arafah, yang jatuh berturut-turut pada tanggal 8 dan 9 Zulhijah. Pertanyaan yang sering muncul di tengah umat Muslim adalah: bolehkah seseorang melaksanakan puasa Arafah tanpa terlebih dahulu melaksanakan puasa Tarwiyah?
Artikel ini akan mengupas tuntas hukum, keutamaan, dan tata cara pelaksanaan kedua puasa sunnah tersebut, serta menjawab pertanyaan krusial mengenai boleh tidaknya melaksanakan puasa Arafah tanpa didahului puasa Tarwiyah. Penjelasan ini didasarkan pada referensi hadis dan kitab-kitab fikih yang relevan, dengan tujuan memberikan pemahaman yang komprehensif dan akurat bagi pembaca.
Puasa Tarwiyah dan Arafah: Ibadah Sunnah Penuh Keutamaan
Puasa Tarwiyah, yang jatuh pada tanggal 8 Zulhijah, dan puasa Arafah, yang jatuh pada tanggal 9 Zulhijah, merupakan ibadah sunnah yang sangat dianjurkan. Hukum sunnah menunjukkan bahwa pelaksanaannya mendapat pahala besar jika dikerjakan, namun tidak berdosa jika ditinggalkan. Namun, keutamaan yang melekat pada kedua puasa ini mendorong banyak umat Muslim untuk mengamalkannya.
Keutamaan puasa di bulan Zulhijah, khususnya pada sepuluh hari pertamanya, telah ditegaskan dalam sabda Rasulullah SAW: "Tidak ada satu amal saleh yang lebih dicintai Allah melebihi amal saleh yang dilakukan pada hari-hari ini (10 hari pertama bulan Zulhijah)." Ketika para sahabat bertanya apakah jihad fi sabilillah lebih utama, Rasulullah SAW menjawab: "Tidak pula jihad di jalan Allah, kecuali orang yang berangkat jihad dengan jiwa dan hartanya tetapi tidak ada yang kembali satu pun." (HR Abu Dawud, Tirmidzi, Ibnu Majah, dan Ahmad). Hadis ini menunjukkan betapa agungnya pahala amal saleh, termasuk puasa, yang dilakukan pada sepuluh hari pertama Zulhijah.

Makna dan Sejarah Puasa Tarwiyah
Puasa Tarwiyah, secara etimologis, berasal dari kata "tarawwa" yang berarti membawa bekal air. Pada masa Rasulullah SAW, puasa ini dikaitkan dengan persiapan jemaah haji dalam memenuhi kebutuhan air untuk perjalanan menuju Arafah. Mereka akan membawa bekal air yang cukup untuk menghadapi perjalanan dan ibadah di Arafah. Meskipun konteks historisnya terkait dengan persiapan haji, puasa Tarwiyah tetap dapat dikerjakan oleh umat Muslim di mana pun mereka berada, bukan hanya bagi jemaah haji.
Hadis dari Ibnu Abbas RA yang diriwayatkan oleh Tirmidzi juga menjelaskan keutamaan ibadah di sepuluh hari pertama Zulhijah, menyatakan bahwa satu hari puasa di dalamnya setara dengan puasa setahun penuh, dan satu malam salat malam setara dengan salat malam Lailatul Qadar. Hadis ini semakin memperkuat anjuran untuk melaksanakan puasa Tarwiyah dan Arafah.
Puasa Arafah: Ibadah Khusus bagi yang Bukan Jemaah Haji
Puasa Arafah, yang dikerjakan pada tanggal 9 Zulhijah, memiliki keutamaan yang sangat besar. Namun, terdapat pengecualian bagi jemaah haji. Mereka dibolehkan untuk tidak berpuasa pada hari Arafah karena sedang melaksanakan rangkaian ibadah haji yang membutuhkan energi dan konsentrasi penuh. Bagi yang bukan jemaah haji, puasa Arafah sangat dianjurkan.
Berbagai literatur keagamaan menjelaskan keutamaan puasa Arafah, di antaranya adalah penghapusan dosa setahun yang lalu dan setahun yang akan datang. Namun, perlu diingat bahwa pengampunan dosa tetap bergantung pada rahmat dan ampunan Allah SWT. Puasa Arafah merupakan salah satu upaya untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT dan memohon ampunan-Nya.
Bolehkah Puasa Arafah Tanpa Puasa Tarwiyah?
Pertanyaan kunci yang menjadi fokus pembahasan adalah: bolehkah seseorang melaksanakan puasa Arafah tanpa terlebih dahulu melaksanakan puasa Tarwiyah? Jawabannya adalah: boleh.
Meskipun kedua puasa ini sering dilakukan secara berurutan, tidak ada dalil yang secara tegas mewajibkan atau mengutamakan pelaksanaan puasa Tarwiyah sebagai syarat untuk melaksanakan puasa Arafah. Kedua puasa ini merupakan ibadah sunnah, dan kebebasan memilih untuk melaksanakan atau meninggalkan salah satunya tetap di tangan masing-masing individu. Yang terpenting adalah niat yang ikhlas karena Allah SWT.
Keutamaan masing-masing puasa tetap ada, baik dilakukan secara bersamaan maupun terpisah. Melaksanakan keduanya tentu lebih utama, namun meninggalkan salah satunya tidak mengurangi pahala puasa yang dikerjakan. Yang perlu diingat adalah konsistensi dalam beribadah dan menjaga keikhlasan niat dalam setiap amalan.
Niat Puasa Tarwiyah dan Arafah
Niat merupakan unsur penting dalam setiap ibadah. Berikut bacaan niat puasa Tarwiyah dan Arafah:
-
Niat Puasa Tarwiyah: "Nawaitu shauma tarwiyata sunnatan lillahi ta’ala." (Aku niat puasa sunnah Tarwiyah karena Allah Ta’ala.)
-
Niat Puasa Arafah: "Nawaitu shauma arafata sunnatan lillahi ta’ala." (Aku niat puasa sunnah Arafah karena Allah Ta’ala.)
Penting untuk membaca niat ini dengan khusyuk dan memahami maknanya sebelum memulai puasa. Niat yang tulus dan ikhlas akan meningkatkan nilai ibadah.
Kesimpulan
Puasa Tarwiyah dan Arafah merupakan ibadah sunnah yang penuh keutamaan di bulan Zulhijah. Meskipun sering dilakukan secara berurutan, melaksanakan puasa Arafah tanpa puasa Tarwiyah tetap diperbolehkan. Kebebasan memilih untuk melaksanakan atau meninggalkan salah satunya terletak pada kebebasan individu, asalkan dilakukan dengan niat yang ikhlas karena Allah SWT. Semoga penjelasan ini dapat memberikan pemahaman yang lebih baik mengenai kedua puasa sunnah ini dan menjawab pertanyaan yang sering diajukan. Semoga Allah SWT menerima segala amal ibadah kita.



