Bulan Dzulhijjah, bulan kesebelas dalam kalender Hijriah, merupakan momentum sakral bagi umat Islam. Lebih dari sekadar penanda jelang Idul Adha, bulan ini dipenuhi dengan keberkahan dan kesempatan emas untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT melalui berbagai amalan, salah satunya adalah puasa sunnah yang dianjurkan pada sepuluh hari pertamanya. Keutamaan puasa Dzulhijjah, khususnya pada periode ini, telah ditegaskan dalam berbagai hadis dan literatur keagamaan, menjadikan amalan ini sebagai prioritas bagi banyak muslim.
Hadis dan Landasan Keagamaan:
Hadis riwayat Ibnu Abbas yang diriwayatkan oleh ath-Thabrani, sebagaimana termaktub dalam buku "Ustadz Abdul Somad Menjawab" karya H. Abdul Somad, Lc., M.A., secara tegas menyatakan keutamaan sepuluh hari pertama Dzulhijjah: "Tidak ada hari yang lebih agung di sisi Allah dan tidak ada amal yang lebih disukai Allah daripada amal pada sepuluh hari ini (10 hari di awal bulan Dzulhijjah). Maka pada hari-hari itu perbanyaklah tasbih, takbir, dan tahlil." Hadis ini menjadi landasan kuat bagi anjuran berpuasa sunnah selama periode tersebut, sebagai bentuk perwujudan ketaatan dan permohonan ridho Allah SWT. Lebih jauh lagi, Imam Al-Ghazali dalam kitabnya, "Ihya’ ‘Ulumuddin," mengutip hadis yang menyamakan pahala puasa satu hari di awal Dzulhijjah dengan puasa selama setahun penuh, bahkan menandingi keutamaan shalat di malam Lailatul Qadar. Keduanya menegaskan betapa agungnya pahala yang didapatkan dari menjalankan ibadah puasa di sepuluh hari pertama Dzulhijjah. Hanya saja, Al-Ghazali menambahkan pengecualian, yaitu pahala jihad fi sabilillah yang mencapai derajat yang sama, khususnya bagi mereka yang gugur syahid dalam medan perang.
Niat Puasa Dzulhijjah:
Ketepatan niat merupakan kunci sahnya sebuah ibadah. Untuk puasa sunnah Dzulhijjah, termasuk puasa Tarwiyah dan Arafah, niat dibaca pada malam hari sebelum terbit fajar. Berikut beberapa lafaz niat yang dapat dijadikan rujukan, sebagaimana dirangkum dari buku "Siapa Berpuasa Dimudahkan Urusannya" karya Khalifa Zain Nasrullah:

-
Niat Puasa Sunnah Dzulhijjah (1-7 Dzulhijjah):
Arab: نَوَيْتُ صَوْمَ شَهْرِ ذِي الْحِجَّةِ سُنَّةً لِلَّهِ تَعَالَىٰ
Latin: Nawaitu shauma syahri dzil hijjah sunnatan lillahi ta’ala.
Artinya: "Aku berniat puasa bulan Dzulhijjah, sunnah karena Allah Ta’ala." -
Niat Puasa Tarwiyah (8 Dzulhijjah):
Arab: نَوَيْتُ صَوْمَ تَرْوِيَةَ سُنَّةً لِلَّهِ تَعَالَىٰ
Latin: Nawaitu sawma tarwiyyata sunnatan lillahi ta’ala.
Artinya: "Saya berniat puasa Tarwiyah, sunnah karena Allah Ta’ala." -
Niat Puasa Arafah (9 Dzulhijjah):
Arab: نَوَيْتُ صَوْمَ عَرَفَةَ سُنَّةً لِلَّهِ تَعَالَىٰ
Latin: Nawaitu sawma ‘Arafaata sunnatan lillahi ta’ala.
Artinya: "Saya berniat puasa Arafah, sunnah karena Allah Ta’ala."
Jadwal Puasa Dzulhijjah 2025:
Penentuan jadwal puasa Dzulhijjah berpedoman pada penanggalan Hijriah yang resmi. Mengacu pada Kalender Hijriah Indonesia 2025 yang diterbitkan oleh Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam Kementerian Agama, jadwal puasa sunnah Dzulhijjah dapat disesuaikan dengan penampakan hilal dan penetapan awal bulan Dzulhijjah. Informasi ini penting untuk memastikan ketepatan pelaksanaan ibadah. (Catatan: Penulisan artikel ini tidak menyertakan tanggal spesifik karena keterbatasan akses terhadap kalender Hijriah resmi tahun 2025 pada saat penulisan. Informasi ini harus dikonfirmasi melalui sumber resmi Kementerian Agama Republik Indonesia atau lembaga keagamaan terpercaya.)
Tata Cara Puasa Dzulhijjah:
Tata cara puasa Dzulhijjah sama dengan puasa sunnah pada umumnya, sebagaimana dijelaskan dalam buku "Tata Cara dan Tuntunan Segala Jenis Puasa" karya Nur Solikhin. Ibadah ini mengharuskan umat muslim untuk menahan diri dari makan, minum, dan segala hal yang membatalkan puasa, seperti hubungan suami istri, sejak terbit fajar hingga terbenam matahari (maghrib). Keikhlasan dan niat yang tulus semata-mata karena Allah SWT merupakan hal yang paling penting dalam menjalankan ibadah ini.
Puasa sunnah di awal Dzulhijjah (1-7 Dzulhijjah) dianjurkan sebagai amalan tambahan untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT. Puasa Tarwiyah (8 Dzulhijjah) dan Arafah (9 Dzulhijjah) memiliki keutamaan khusus. Puasa Tarwiyah dilakukan sehari sebelum wukuf di Arafah, sementara puasa Arafah dilakukan pada hari wukuf, puncak ibadah haji. Namun, bagi jamaah haji, berpuasa pada hari Arafah tidak dianjurkan karena memerlukan stamina yang prima untuk menjalankan rangkaian ibadah haji yang berat dan panjang. Hal ini penting untuk diingat agar ibadah haji dapat dijalankan dengan optimal.
Keutamaan Puasa Dzulhijjah:
Keutamaan puasa Dzulhijjah tidak hanya didasarkan pada hadis-hadis yang telah disebutkan di atas, tetapi juga karena bulan Dzulhijjah merupakan salah satu dari empat bulan haram yang dimuliakan dalam Islam. Di antara keempat bulan haram tersebut, Dzulhijjah memiliki kedudukan yang paling istimewa karena di dalamnya terdapat ibadah haji dan hari-hari Tasyrik yang penuh keberkahan. Puasa pada bulan ini, khususnya pada sepuluh hari pertamanya, dianggap sebagai amalan yang sangat dicintai Allah SWT. Keutamaan ini menjadi motivasi bagi umat Islam untuk memanfaatkan momentum ini sebaik mungkin dalam rangka meningkatkan ketaqwaan dan mendekatkan diri kepada-Nya.
Kesimpulan:
Puasa sunnah Dzulhijjah, khususnya pada sepuluh hari pertama, merupakan amalan yang sangat dianjurkan dalam Islam. Keutamaan yang besar, diiringi dengan tata cara yang relatif mudah, menjadikan ibadah ini sebagai kesempatan berharga bagi umat muslim untuk meraih pahala yang berlimpah. Dengan memahami niat, jadwal, tata cara, dan keutamaan puasa Dzulhijjah, diharapkan umat Islam dapat melaksanakan ibadah ini dengan khusyuk dan mendapatkan keberkahan yang dijanjikan Allah SWT. Penting untuk selalu mengacu pada sumber-sumber keagamaan yang terpercaya dan memastikan kebenaran informasi terkait jadwal dan pelaksanaan ibadah. Semoga artikel ini dapat menjadi panduan bagi umat Islam dalam menjalankan ibadah puasa Dzulhijjah dengan penuh keikhlasan dan mendapatkan ridho Allah SWT.



