Makkah, Arab Saudi – Hingga hari ke-16 penyelenggaraan ibadah haji tahun 2025, tercatat 28 jemaah haji Indonesia telah meninggal dunia di Tanah Suci. Angka ini disampaikan oleh Kepala Bidang (Kabid) Kesehatan Petugas Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) Arab Saudi, Mohammad Imran, dalam keterangan pers yang disiarkan melalui kanal YouTube Kementerian Agama pada Senin, 19 Mei 2025 pukul 16.00 waktu Arab Saudi. Pernyataan tersebut mengungkap fakta yang mengkhawatirkan terkait kesehatan jemaah haji Indonesia di tengah pelaksanaan ibadah suci ini.
Imran menjelaskan bahwa penyebab kematian yang paling dominan adalah penyakit jantung dan sepsis, atau infeksi sistemik yang disebabkan oleh penurunan daya tahan tubuh dan penyakit kronis yang sudah parah. Data ini menunjukkan adanya tren yang perlu menjadi perhatian serius bagi seluruh pihak yang terlibat dalam penyelenggaraan ibadah haji. Meskipun angka ini sedikit lebih tinggi dibandingkan periode yang sama pada tahun 2024, peningkatannya menuntut langkah-langkah preventif dan responsif yang lebih efektif.
Kondisi kesehatan jemaah haji menjadi fokus utama dalam keterangan pers tersebut. Imran memberikan serangkaian imbauan penting bagi seluruh jemaah untuk mencegah terjadinya peningkatan angka kematian lebih lanjut. Ia menekankan pentingnya istirahat yang cukup, terutama setelah tiba di Makkah sebelum melaksanakan umroh wajib. "Hindari aktivitas di luar hotel, termasuk umroh, pada waktu terik, yaitu antara pukul 10.00 hingga 16.00 waktu Arab Saudi (WAS)," tegas Imran. Imbauan ini didasarkan pada kondisi cuaca ekstrim di Tanah Suci yang dapat memicu kelelahan dan dehidrasi, yang pada gilirannya dapat memperburuk kondisi kesehatan jemaah, terutama bagi mereka yang memiliki riwayat penyakit bawaan.
Dehidrasi menjadi perhatian khusus. Imran menyarankan agar jemaah haji minum air putih atau air zam-zam secara teratur, tidak menunggu hingga haus. "Upayakan minum 1 gelas atau 200 cc air setiap jam saat beraktivitas di luar," imbuhnya. Konsumsi cairan yang cukup sangat krusial untuk menjaga keseimbangan elektrolit tubuh dan mencegah dehidrasi, terutama di tengah cuaca panas dan aktivitas ibadah yang padat.
Selain itu, penggunaan masker juga dianjurkan, khususnya saat beraktivitas di luar hotel, untuk mencegah penularan penyakit, terutama bagi jemaah yang mengalami batuk atau pilek. Langkah ini merupakan upaya pencegahan penyebaran infeksi pernapasan yang dapat memperparah kondisi kesehatan jemaah, terutama bagi mereka yang memiliki daya tahan tubuh rendah.

Jemaah lanjut usia (lansia) dan jemaah dengan penyakit kronis seperti hipertensi, diabetes, dan penyakit jantung, mendapatkan perhatian khusus. Imran memberikan imbauan khusus agar kelompok ini lebih memperhatikan istirahat dan tidak memaksakan diri dalam melakukan aktivitas ibadah fisik, seperti umroh sunnah berulang kali. "Utamakan ibadah-ibadah yang ringan tetapi tetap memiliki nilai dan kemuliaan di sisi Allah SWT, seperti berzikir, bersedekah, atau membaca Al-Quran," jelasnya. Hal ini menekankan pentingnya penyesuaian ibadah sesuai dengan kondisi fisik masing-masing jemaah, agar ibadah tetap dapat terlaksana dengan khusyuk dan aman.
Fasilitas keringanan atau ruksah dalam pelaksanaan ibadah juga diimbau untuk dimanfaatkan oleh jemaah lansia dan komorbid. Penggunaan kursi roda saat tawaf dan sa’i, misalnya, dapat membantu mengurangi beban fisik dan mencegah kelelahan yang berlebih. Pendampingan dari jemaah lain yang lebih sehat juga sangat dianjurkan untuk mencegah kejadian yang tidak diinginkan. "Jangan biarkan jemaah lansia beraktivitas sendirian atau hanya bersama lansia lain tanpa pendampingan jemaah yang lebih sehat atau lebih muda," tegas Imran.
Konsultasi kesehatan secara berkala juga menjadi bagian penting dari imbauan tersebut. Jemaah lansia dan komorbid dianjurkan untuk berkonsultasi dengan dokter kloter minimal satu kali seminggu. Penggunaan obat secara teratur sesuai dosis juga sangat penting untuk mengontrol penyakit kronis dan mencegah komplikasi. "Apabila ada keluhan, segera hubungi petugas kesehatan di kloter," tambah Imran. Respon cepat terhadap keluhan kesehatan sangat penting untuk mencegah kondisi memburuk dan memberikan penanganan medis yang tepat waktu.
Kesimpulannya, keterangan pers Kabid Kesehatan PPIH Arab Saudi ini menyoroti pentingnya upaya preventif dan proaktif dalam menjaga kesehatan jemaah haji. Meningkatnya angka kematian jemaah haji Indonesia di Tanah Suci menjadi alarm bagi seluruh pihak terkait untuk meningkatkan pengawasan kesehatan, memberikan edukasi yang lebih intensif, dan memastikan aksesibilitas layanan kesehatan yang optimal bagi seluruh jemaah. Imbauan yang disampaikan oleh Imran menekankan pentingnya kesadaran diri, kepatuhan terhadap anjuran kesehatan, dan kerja sama antara jemaah dan petugas kesehatan untuk memastikan kelancaran dan keselamatan ibadah haji bagi seluruh jemaah Indonesia. Langkah-langkah yang lebih komprehensif dan terintegrasi perlu segera diimplementasikan untuk mencegah peningkatan angka kematian jemaah haji di masa mendatang. Perhatian khusus terhadap kelompok rentan, seperti lansia dan jemaah dengan komorbid, menjadi kunci utama dalam upaya menjaga kesehatan dan keselamatan mereka selama menjalankan ibadah haji.



