ERAMADANI.COM, LEBANON – Tepat pada 16 September 2020, tragedi Sabra dan Shatila yang terjadi pada 16 September 1982 telah terhitung 38 tahun berlalu. Pembantaian brutal yang melenyapkan nyawa ribuan orang itu membuat tanah menyeruak jeritan dan bau kematian. Kaburnya kebenaran dan tegasnya ketidakadilan menjadi bayang-bayang di Sabra dan Shatila.
Mereka memerkosa, memutilasi, dan membunuh sebanyak 3.500 warga sipil Palestina dan Lebanon, termasuk warga Iran, Suriah, Pakistan, dan Aljazair.
Pengakuan dari Amal al-Qirmi
Dilansir dari tirto.id, waktu itu Amal al-Qirmi baru berusia 15 tahun ketika ia dan keluarganya melarikan diri dari rumah di salah satu distrik, yang tak jauh dari kamp pengungsi Palestina di Lebanon Selatan.
Mereka mengungsi lantaran ada pasukan dari milisi Saad Haddad.
Haddad adalah bekas tentara nasional Lebanon yang saat itu memimpin sekitar 400 pasukan militer di Lebanon selatan dan menamai kelompoknya sebagai Tentara Lebanon Selatan.
Mereka berkongsi dengan Israel sebab tujuan yang sama, yakni menentang kehadiran orang-orang Palestina di wilayah Lebanon selatan.
Sikap dan pandangan kelompok Haddad juga disetujui beberapa partai di Lebanon lainnya.
Sebut saja Partai Phalang, sebuah partai Kristen sayap kanan di Lebanon dengan anggota mayoritas para Kristen Maronit.
“Mereka menipu kita,” kenang al-Qirmi dalam sedihnya.
“Mereka memberi tahu kami melalui pengeras suara bahwa siapa pun yang pergi meninggalkan kamp, akan diizinkan kembali pulang kampung ke Palestina,” ungkap al-Qirmi.
“Warga di kamp percaya akan perintah penuh kebohongan itu yang diceritakan oleh orang Israel dan agen Lebanon mereka,” ingatnya lagi.
“Ketika penduduk menuruti perintah, mereka malah diserang dan disembelih dengan cara yang tak terbayangkan sebelumnya,” sambungnya.
Amal al-Qirmi adalah seorang warga Palestina penyintas tragedi Sabra dan Shatila, dan tragedi berdarah itu paling membekas di ingatan dan kehidupannya.
Pengakuan dari Mohamed al-Hasanein
Selain Amal al-Qirmi, ada pula Mohamed al-Hasanein.
Mohamed al-Hasanein juga merupakan warga Palestina penyintas tragedi Sabra dan Shatila. Ia juga menceritakan kenangannya dalam peristiwa berdarah itu.
Kala itu ia berusia 10 tahun saat melihat seorang tentara Israel dan dua pria Lebanon tengah memotong janin dari seorang wanita hamil, sebelum menggantungnya di dinding rumah.
“Adalah keajaiban bahwa beberapa dari kita lolos dan dapat meneruskan kehidupan kita,” kata al-Hasanein.
“Setelah para pembunuh dan Zionis pergi, bau kematian meresap ke kamp selama berbulan-bulan,” jelasnya.
Menurut Hasanein, ia menyaksikan para milisi muda menenggak obat-obatan sebelum melakukan serangan dan aksi sadis lainnya.
Kejadian yang diceritakan al-Qirmi dan al-Hasanein ini adalah peristiwa pembantaian di kamp Sabra dan Shatila, yang dimulai pada 16 September 1982.
Sudah 38 tahun berlalu, sinar keadilan masih redup di bawah tangan pihak-pihak tak tersentuh oleh hukum, meski nyawa banyak melayang hingga darah terjerembab dalam tanah.
Asal Mula: Dipelopori Perang Lebanon
Peristiwa pembantaian Sabra dan Shatila tidak lepas dari berkobarnya Perang Lebanon 1982. Pada 6 Juni 1982, operasi militer IDF ke Lebanon selatan resmi diluncurkan.
Pemantiknya adalah saat sekelompok orang bersenjata dari organisasi Abu Nidal dituduh melakukan percobaan pembunuhan kepada Duta Besar Israel untuk Inggris, Shlomo Argov.
Sebelumnya, rentetan letupan saling serang antara Organisasi Pembebasan Palestina (PLO) dengan Angkatan Bersenjata Israel (IDF) memang sudah terjadi di wilayah Lebanon selatan, yang berbatasan langsung dengan Israel.
Izin serangan Israel ke Lebanon itu sejatinya terbit dengan terbatas.
Perdana Menteri Menachem Begin menegaskan bahwa pasukan IDF boleh maju tidak lebih dari 40 kilometer dari perbatasan Lebanon.
Akan tetapi, Ariel Sharon yang kala itu menjabat sebagai Menteri Pertahanan Israel memiliki ambisi lebih.
Oleh karenanya, jet-jet Suriah di Lebanon turut dihancurkan, meski Amerika Serikat melalui Presiden Ronald Reagan mengutus diplomatnya, Philip Habib untuk mencegah Israel bentrok dengan Suriah.
Namun, atas perintah sepihak dari Ariel Sharon, serangan kejutan ini mengakibatkan 100 pesawat Suriah rusak.
Datangnya pasukan IDF hingga ke Beirut, Ibu kota Lebanon, jelas telah melampaui batas 40 kilometer seperti yang diamanatkan kabinet Israel.
Sementara itu, di Lebanon sendiri terdapat milisi sayap kanan dari Partai Phalangis yang berisikan orang-orang Kristen Maronit.
Pada umumnya, orang-orang dari Partai Phalangis masih percaya bahwa pemimpin mereka, Bachir Gemayel yang memenangi pemilu presiden dibunuh orang-orang Palestina, meski hal ini diperdebatkan.
Terdapat kemungkinan pelakunya adalah seorang Lebanon agen Suriah.
Dendam bak api dalam sekam ini terus dipelihara dan mengakibatkan mereka bersitegang dengan PLO dan organisasi pro-Palestina lainnya.
Sharon tahu betul situasi ketegangan lokal ini.
Dengan masuknya pasukan IDF ke Beirut, Partai Phalangis dirangkul dan dipinjam tangannya untuk menghabisi orang Palestina di Beirut.
Lokasi yang dipilih adalah sebuah kamp pengungsian warga Palestina, yakni di Sabra dan Shatila.
Sang Dalang Tetap Aman
Pada 15 September 1982, tentara Israel mengepung dua kamp pengungsi Palestina tersebut.
Lantas pada 16 September 1982, tentara Israel mulai mengizinkan sekitar 150 milisi Phalangis menyambangi Sabra dan Shatila.
Selama satu setengah hari berikutnya, milisi Phalangis melakukan kekejaman dan sadisme brutal.
Mereka memerkosa, memutilasi, dan membunuh sebanyak 3.500 warga sipil Palestina dan Lebanon, termasuk warga Iran, Suriah, Pakistan, dan Aljazair.
Kebanyakan dari mereka adalah para wanita, anak-anak, dan orang tua.

Tentara Israel di Sabra dan Shatila sadar bahwa banyak warga sipil yang dibunuh.
Namun, mereka tidak melakukan apa pun untuk menghentikannya. Pasukan Israel justru melepaskan tembakan ke langit malam untuk menerangi kegelapan dan memungkinkan milisi Phalangis melancarkan kebrutalan mereka.
Keesokan harinya, buldoser digunakan untuk membuang banyak mayat korban sipil.
Milisi Phalangis meninggalkan dua kamp itu pada 18 September 1982 sekitar pukul delapan pagi.
Mereka membawa banyak pria yang masih hidup untuk diinterogasi di sebuah stadion sepakbola oleh agen intelijen Israel. Setelah diinterogasi, banyak tawanan dikembalikan ke Phalangis.
Beberapa dari mereka pun dieksekusi mati. Peristiwa keji ini didengar dunia setelah kepergian milisi Phalangis.
Para jurnalis membuat laporan tentang apa yang terjadi di sana dalam beberapa hari terakhir.
Memunculkan Kemarahan Internasional
Kemarahan internasional atas pembantaian tersebut menyeruak dan terjadi demonstrasi terbesar dalam sejarah Israel.
Hal itu mendorong pemerintah untuk mendirikan sebuah komisi penyelidikan.
Pada 9 Februari 1983, komisi penyelidikan Israel menyimpulkan bahwa negara Israel dan beberapa individu Israel, termasuk Ariel Sharon, secara tidak langsung bertanggung jawab atas pembantaian tersebut.
Laporan Komisi yang dikenal sebagai Laporan Kahan ini dipublikasikan di seluruh dunia dan merekomendasikan agar Ariel Sharon dicopot dari jabatannya.
Perdana Menteri Begin kemudian mencopot jabatan Menteri Pertahanan Ariel Sharon meski ia tetap duduk di kursi kabinet.
Akan tetapi, kenyataannya hampir 20 tahun kemudian ia malah terpilih sebagai Perdana Menteri Israel.
Secara spesifik, laporan Kahan menjelaskan peran pribadi Ariel Sharon dalam pembantaian ini.
Dua hari sebelum pembantaian, Sharon telah berdiskusi dengan keluarga Gemayel tentang kebutuhan apa saja yang diminta milisi Phalangis untuk membalas dendam atas pembunuhan pemimpin mereka Bachir Gemayel.
Pada Juni 2001, pengacara untuk 23 orang yang selamat dari pembantaian tersebut memulai proses hukum melawan Sharon di pengadilan Belgia.
Satu Saksi Kunci Justru Terbunuh
Pemimpin Phalangis, Elie Hobeika yang memiliki koneksi ke Israel selama Perang Lebanon 1982 dibunuh dengan sebuah bom mobil di Beirut.
Hobeika memang bertanggung jawab atas pembantaian tersebut, karena memimpin milisi menyerbu dua kamp pengungsi.
Padahal, ia telah menyatakan siap bersaksi di pengadilan kejahatan perang, melawan Ariel Sharon yang kala itu justru naik jabatan sebagai Perdana Menteri Israel.
Pembunuh Hobeika tidak pernah ditemukan.
Harapan besar para penyintas menuntut keadilan atas pembantaian tersebut di Belgia berujung kekecewaan, setelah panel hakim Belgia menolak tuduhan kejahatan perang yang dialamatkan kepada Ariel Sharon, karena dia tidak pernah hadir di Belgia.
Hingga Ariel Sharon menemui ajalnya, ia tak tersentuh hukum untuk mempertanggungjawabkan kejahatan perang yang ia lakukan di Lebanon.
Setelah 38 tahun peristiwa tersebut berlalu dan banyak tokoh-tokoh kunci perang pun pindah ke liang lahat, Departemen Sejarah IDF menerbitkan laporan sejarah Perang Lebanon berjudul Sheleg in Lebanon, yang ditulis oleh Shimon Golan.
Buku itu mengungkap kebenaran dan meluruskan sejarah tentang peristiwa di Lebanon, termasuk pembantaian Sabra dan Shatila.
(ITM)




