ERAMADANI.COM, THAILAND – Negeri Gajah Putih yakni Thailand berhasil catat 0 kasus posistif Covid-19 selama 100 hari. Selama 100 hari itu, negara ini tidak alami peningkatan positif Covid-19.
Sebelumnya, Thailand telah kembali normal sejak diberlakukannya kebijakan lockdown pada bulan Mei lalu.
Di bawah kepemimpinan Perdana Menteri, Prayuth Chan-ocha, negeri yang juga berjuluk Rumah Rakyat Merdeka ini bertindak sangat cepat.
Dengan mengeluarkan kebijakan keadaan darurat saat ditemukan adanya kasus positif Covid-19 untuk pertama kalinya.
Hingga kini, berkat tingkat kedisiplinan masyarakat mengikuti protokol kesehatan, negara ini tidak melaporkan adanya kasus baru dalam 100 hari.
Meskipun demikian, setelah 100 hari Direktur Jenderal Pengendalian Penyakit Thailand, Suwanchai Wattanayingcharoenchai mengungkapkan adanya satu kasus positif baru melalui transmisi lokal, dilansir dari cnnindonesia.com.
Penderitanya merupakan seorang pria yang pernah berprofesi sebagai Disk Jockey (DJ) Bar di Bangkok.
Ia tengah divonis hukuman penjara, tetapi kini pria tersebut telah mendapat perawatan di rumah sakit.
Kebijakan-kebijakan Ketat Negara Thailand
Sebagai catatan, untuk menekan jumlah penyebaran Covid-19, pemerintah setempat menerapkan kebijakan lockdown yang sangat ketat bagi warga negaranya.
Selain itu, adanya kebijakan jam malam membantu dalam mengurangi tingkat penyebaran virus di lingkungan masyarakat.
Hal itu menjadikan Thailand cepat dalam mengatasi pandemi Covid-19.
Jika dibandingkan dengan Indonesia, Penerapan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) di beberapa daerah di Nusantara hingga saat ini masih banyak warga yang melakukan pelanggaran.
Tingkat kedisiplinan antara warga Thailand dan Indonesia sangat jauh berbeda.
Hal ini mengakibatkan Indonesia terus berkutat pada peningkatan kasus Covid-19 di saat negara-negara tetangga telah melaporkan penurunan kasus yang sangat pesat.
Thailand menjadi salah satu negara yang terpapar virus corona di awal penyebarannya di luar China.
Dampak dari hal itu perekonomian negara ini juga ikut terpukul dengan kebijakan penguncian atau lockdown.
Sektor pariwisata disebut sebagai yang paling terdampak akibat kebijakan tersebut.
Pertumbuhan Thailand mengalami kontraksi sebesar 12,2 persen pada kuartal kedua, penurunan paling tajam dalam lebih dari 20 tahun.
Tingkat kepatuhan masyarakat dan cepat tanggapnya respon pemerintah menjadi penyebab negara Gajah Putih tersebut mampu melonggarkan kebijakan pasca lockdown.
Melalui pelonggaran ini, masyarakat dapat melakukan aktivitasnya kembali seiring dengan berangsur-angsur memulihkan perekonomian negara tersebut. (LWI)




