• Tentang Kami
  • Berita
  • Inspirasi
  • Harmoni
  • Wisata Halal
  • Warga Net
  • Tim Redaksi
No Result
View All Result
Era Madani
  • Bali
  • Berita
  • Kabar
  • Featured
  • Inspirasi
  • Harmoni
  • Budaya
  • Pariwisata
  • Sejarah
  • Gagasan
  • Warga Net
  • Wisata Halal
Era Madani
  • Tentang Kami
  • Berita
  • Inspirasi
  • Harmoni
  • Wisata Halal
  • Warga Net
  • Tim Redaksi
    animate
No Result
View All Result
Era Madani
No Result
View All Result
Tahun Baru Hijriah 1447 H: Refleksi Hijrah dan Kekayaan Budaya Islam Nusantara

Tahun Baru Hijriah 1447 H: Refleksi Hijrah dan Kekayaan Budaya Islam Nusantara

fatkur rohman by fatkur rohman
in Inspirasi
0 0
0
332
SHARES
2k
VIEWS
Share on FacebookShare on Twitter

Jakarta, 26 Juni 2025 – Tahun Baru Islam 1447 Hijriah disambut dengan beragam tradisi unik dan kaya di berbagai penjuru Indonesia. Mulai dari ritual Tabuik yang megah di Pariaman, Sumatera Barat, hingga Grebeg Suro yang khidmat di Jawa, serta doa-doa bersama yang sederhana namun penuh makna di masjid dan mushola pelosok negeri, perayaan ini mencerminkan perpaduan harmonis antara ajaran Islam dan kekayaan budaya lokal. Menteri Agama (Menag), Nasaruddin Umar, dalam keterangan tertulisnya, mengungkapkan kekagumannya terhadap keberagaman tersebut.

"Di banyak daerah di Indonesia, Muharram dirayakan dengan cara yang indah dan unik. Keberadaan Tabuik di Pariaman, Grebeg Suro di Jawa, dan doa-doa bersama di kampung-kampung menunjukkan bahwa Islam dan budaya lokal kita bukannya saling bertentangan, melainkan saling memperkuat dan melengkapi," tegas Menag Nasaruddin. Ia menekankan bahwa tradisi-tradisi ini menjadi bukti nyata Islam yang membumi di Indonesia, tanpa mengurangi kemurnian ajarannya.

Lebih jauh, Menag Nasaruddin mengajak seluruh umat Islam untuk tidak hanya sekedar menjalankan ritual perayaan, tetapi juga merenungkan makna mendalam di baliknya. "Tugas kita hari ini bukan hanya menjaga ritual semata, tetapi juga menjaga makna yang terkandung di dalamnya. Bukan hanya mengingat peristiwa hijrah Nabi Muhammad SAW, tetapi juga menghidupkan semangat hijrah dalam kehidupan nyata," ujarnya. Ia menekankan pentingnya mengamalkan semangat hijrah dalam berbagai aspek kehidupan, mulai dari lingkup keluarga, pendidikan, birokrasi, hingga interaksi di media sosial.

Sebagai Imam Besar Masjid Istiqlal, Menag Nasaruddin mengajak umat Islam menyambut tahun baru hijriah dengan tiga kata kunci utama: bersyukur, berhijrah, dan berkontribusi. Ia mengajak seluruh masyarakat untuk mensyukuri nikmat umur dan kesempatan yang masih diberikan Allah SWT. Selanjutnya, ia menekankan pentingnya semangat berhijrah, mengingat stagnasi merupakan musuh kemajuan dan perkembangan. Terakhir, Menag mengajak umat untuk senantiasa berkontribusi positif bagi masyarakat dan lingkungan sekitar, karena iman yang sejati harus tercermin dalam tindakan nyata.

"Selamat Tahun Baru 1447 Hijriah kepada seluruh umat Islam di Indonesia," ucap Menag Nasaruddin. Ia berharap momentum hijrah ini tidak hanya dimaknai sebagai perpindahan tempat dan waktu semata, tetapi juga sebagai perubahan arah dan tujuan hidup menuju yang lebih baik dan berkualitas.

Tahun Baru Hijriah 1447 H: Refleksi Hijrah dan Kekayaan Budaya Islam Nusantara

Menag Nasaruddin kemudian mengutip ayat suci Al-Quran, Surat At-Taubah ayat 20: "الَّذِينَ آمَنُواْ وَهَاجَرُواْ وَجَاهَدُواْ فِي سَبِيلِ اللّهِ بِأَمْوَالِهِمْ وَأَنفُسِهِمْ أَعْظَمُ دَرَجَةً عِنْدَ اللّهِ ۚ وَأُولَٰۤئِكَ هُمُ الْفَائِزُونَ" (yang artinya: "Orang-orang yang beriman dan berhijrah serta berjihad di jalan Allah dengan harta dan jiwa mereka lebih agung derajatnya di hadapan Allah. Mereka itulah orang-orang yang beruntung.")

Menag menjelaskan bahwa hijrah yang dimaksud dalam ayat tersebut bukan sekadar perpindahan fisik dari Makkah ke Madinah, melainkan perubahan yang lebih komprehensif. "Hijrah adalah perubahan dari gelap menuju terang, dari stagnan menuju pertumbuhan, dari biasa-biasa saja menuju luar biasa dalam nilai dan kontribusi," jelasnya. Ia mengajak setiap individu untuk melakukan introspeksi diri.

"Hari ini, mari kita tanyakan pada diri kita masing-masing. Sejauh mana kita telah berhijrah dari rutinitas yang kering makna menuju amal yang bernilai? Sudahkah kita membawa Islam tidak hanya dalam kartu identitas, tetapi juga dalam kejujuran, kasih sayang, dan tindakan sehari-hari?" tanya Menag Nasaruddin, mengajak refleksi diri yang mendalam.

Peristiwa hijrah Nabi Muhammad SAW dari Makkah ke Madinah lebih dari 14 abad lalu menjadi tonggak sejarah penting bagi peradaban Islam. Perpindahan tersebut bukan hanya sekadar perubahan lokasi, tetapi merupakan momentum krusial dalam perjalanan dakwah Nabi Muhammad SAW yang membawa dampak besar terhadap penyebaran Islam ke seluruh dunia.

Berbeda dengan perayaan tahun baru lainnya yang identik dengan kemeriahan dan pesta, Tahun Baru Hijriah hadir dengan nuansa yang lebih khidmat dan introspektif. Perayaan ini lebih menekankan pada zikir, doa, dan refleksi diri yang hening. Menurut Menag Nasaruddin, di sinilah letak kekuatannya. Perubahan besar, ia katakan, seringkali bermula dari perenungan yang paling dalam.

"Selamat Tahun Baru Islam 1447 Hijriah. Semoga hijrah kita bukan hanya berpindah waktu, tetapi juga berpindah kualitas hidup," pungkas Menag Nasaruddin, mengajak seluruh umat untuk menjadikan Tahun Baru Hijriah sebagai momentum perubahan menuju kehidupan yang lebih baik, berlandaskan nilai-nilai Islam dan budaya lokal yang kaya dan beragam. Tradisi-tradisi yang beragam di seluruh Indonesia menjadi bukti nyata keharmonisan antara ajaran Islam dan budaya Nusantara, sebuah warisan yang perlu dijaga dan dilestarikan untuk generasi mendatang. Semangat hijrah, bukan hanya sebatas perpindahan geografis, melainkan transformasi diri menuju pribadi yang lebih baik dan berkontribusi bagi masyarakat, menjadi pesan utama yang perlu direnungkan dalam menyambut Tahun Baru Hijriah ini. Semoga tahun baru ini membawa keberkahan dan kemajuan bagi seluruh umat Islam di Indonesia.

Previous Post

Menyambut Tahun Baru Islam: 12 Amalan Sunnah di Bulan Muharram yang Dianjurkan

Next Post

Doa Akhir dan Awal Tahun Baru Islam: Harapan Suci di Pergantian Tahun Hijriah

fatkur rohman

fatkur rohman

Next Post
Doa Akhir dan Awal Tahun Baru Islam:  Harapan Suci di Pergantian Tahun Hijriah

Doa Akhir dan Awal Tahun Baru Islam: Harapan Suci di Pergantian Tahun Hijriah

Mitos Malam Satu Suro dan Pandangan Islam: Antara Tradisi dan Hukum Syariat

Mitos Malam Satu Suro dan Pandangan Islam: Antara Tradisi dan Hukum Syariat

Panduan Lengkap Oleh-oleh Haji: Membawa Berkah Tanah Suci ke Negeri Tercinta

Panduan Lengkap Oleh-oleh Haji: Membawa Berkah Tanah Suci ke Negeri Tercinta

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Facebook Twitter Youtube Vimeo Instagram

Category

  • Bali
  • Berita
  • Budaya
  • Featured
  • Gagasan
  • Geopolitik, Kepemimpinan, Kaderisasi, Strategi Partai, Identitas Keumatan, Jaringan Global, Pemberdayaan Sumber Daya Manusia
  • Harmoni
  • Headline
  • Inspirasi
  • Kabar
  • Keamanan
  • Kesehatan
  • Keuangan
  • Mancanegara
  • Olahraga
  • Opini
  • Pariwisata
  • Pendidikan
  • Peristiwa
  • Politik
  • Sejarah
  • Sponsored
  • Teknologi
  • Uncategorized
  • Warga Net
  • Wisata Halal

© 2020 EraMadani - Harmoni dan Inspirasi.

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • TENTANG KAMI
  • BERITA
  • BALI
  • KABAR
  • FEATURED
  • TIM REDAKSI

© 2020 EraMadani - Harmoni dan Inspirasi.