ERAMADANI.COM, JAKARTA – Sebab virus corona yang sudah menjadi isu dunia membuat Pemerintah Arab Saudi mengambil langkah untuk mencegahnya, salah satunya memutuskan untuk setop semua kegiatan umrah sepanjang tahun 2020.
“Penundaan ini bersifat temporer, berlaku untuk penduduk di Arab Saudi ataupun mereka yang datang berkunjung,” ujar pemerintah Arab Saudi sebagaimana dikutip dari Channel News Asia, Kamis (2020/05/2020.
Sebelumnya, kalangan biro umrah sudah optimistis dan percaya bahwa larangan umrah ini akan diakhiri 13 Maret 2020 mendatang.
Oleh sebab itulah, mereka meminta jemaah umrah bersabar dan memilih mengajukan perpanjangan visa umrah untuk pertengahan Maret mendatang.
Tapi rupanya, tak hanya umrah, pemerintah Arab Saudi juga sudah mengindikasikan penundaan ibadah haji sepajang tahun2020 ini.
Jika itu terjadi, ibadah haji dan umrah sama-sama ditunda, artinya otomatis Arab Saudi tidak akan memiliki pendapatan dari sisi tersebut.
Arab Saudi Putuskan Setop Umrah Sepanjang 2020

Disamping itu, penundaan ibadah haji dan umrah di tengah epidemi virus corona adalah langkah yang bisa dipahami oleh seluruh masyarakt dunia.
Dalam setahun, Arab Saudi bisa menerima hingga 18,3 juta jemaat yang datang untuk melakukan umrah, wajar jika mereka khawatir.
Jika jutaan jemaah umrah itu berkumpul di satu tempat dan salah satunya terindikasi corona, maka penyebaran menjadi hal yang sulit dihindarkan.
Akademisi dari American Enterprise Institut Karen Young sebagaimana dikutip dari Tempo.co, hal ini merupakan langkah waspada Saudi.
“Hal tersebut adalah langkah waspada yang bisa dipahami walaupun akan menimbulkan konsekuensi ekonomi,” ujarnya.
Dimata Karen, penundaan ibadah umrah dan haji akan menjadikan tahun 2020 sebagai tahun yang berat bagi negara Arab Saudi tersebut.
Sebab, negara kerajaan ini cukup bergantung pada sisi wisata religius untuk menutupi dampak dari penurunan harga minyak dunia.
Jika tidak ada pemasukan dari sisi wisata religius, maka pertumbuhan ekonomi Arab dipastikan akan menurun.
“Akan menjadi pukulan yang telak apabila wisata religius, yang merupakan bagian dari reformasi ekonomi Saudi, terganggu,” ujar Karen.
Sebagai catatan, kabarnya hingga kini per hari ini, sudah ada dua kasus virus corona (COVID-19) di Saudi. (MYR)




