Jakarta, 20 Juni 2025 – Ketegangan di Timur Tengah kembali meningkat tajam menyusul laporan penggunaan rudal balistik Sejjil oleh Iran dalam serangan gelombang ke-12 terhadap Israel pada Rabu, 18 Juni 2025. Serangan yang digaungkan Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) sebagai aksi "terfokus dan terus-menerus" ini menandai eskalasi signifikan konflik regional dan menyoroti kemampuan militer Iran yang semakin canggih. Di balik kekuatan destruktif rudal ini, tersimpan filosofi nama yang mengacu pada kisah Al-Qur’an tentang penghancuran pasukan Raja Abrahah, sebuah narasi yang sarat dengan simbolisme keagamaan dan pesan politik.
Rudal Sejjil, yang selama bertahun-tahun disimpan sebagai aset strategis, muncul sebagai ancaman nyata bagi keamanan regional. Berbagai sumber, termasuk Al Jazeera dan The Economic Times, mengungkapkan spesifikasi yang mengesankan. Dengan jangkauan minimum 2.000 kilometer (1242 mil), Sejjil mampu menjangkau seluruh wilayah Israel dan bahkan sebagian besar Eropa Tenggara. Kemampuan ini menempatkan sejumlah negara di bawah bayang-bayang ancaman langsung. Rudal dengan panjang 18 meter ini mampu membawa muatan hingga 700 kilogram, menunjukkan kapasitas destruktif yang signifikan. Meskipun ada klaim mengenai varian Sejjil dengan jangkauan hingga 4.000 kilometer, informasi ini masih membutuhkan konfirmasi lebih lanjut dari sumber-sumber independen dan terpercaya.
Keunggulan Sejjil tidak hanya terletak pada jangkauannya yang luas, tetapi juga pada akurasi dan kecepatannya. Menteri Pertahanan Iran, Mostafa Mohammed Najjar, seperti dikutip oleh NBC News, menggambarkan rudal ini memiliki "kemampuan luar biasa tinggi," menunjukkan keyakinan penuh terhadap efektivitas senjata tersebut dalam mencapai target yang dituju. Kemampuan presisi tinggi ini menjadikannya ancaman yang jauh lebih berbahaya dibandingkan dengan rudal balistik konvensional yang hanya mengandalkan kekuatan ledakan semata. Kombinasi jangkauan, daya angkut, dan akurasi yang tinggi menjadikan Sejjil sebagai senjata strategis yang mampu mengubah keseimbangan kekuatan di kawasan.
Namun, di balik kemampuan militernya yang menakutkan, nama "Sejjil" menyimpan makna yang jauh lebih dalam, melebihi sekadar kode alfanumerik yang biasa digunakan untuk menamai senjata. Nama ini diambil dari kata "Sijjil" dalam ayat Al-Qur’an Surah Al-Fil ayat 4, yang menceritakan kisah pasukan gajah Raja Abrahah yang hendak menghancurkan Ka’bah. Ayat tersebut menggambarkan bagaimana Allah SWT mengirimkan "burung-burung yang berbondong-bondong, yang melempari mereka dengan batu dari tanah liat yang dibakar" (QS Al-Fil: 3-4). Iran, dengan memilih nama Sejjil, secara eksplisit menghubungkan rudal ini dengan kisah keagamaan tersebut, mengartikannya sebagai simbol kekuatan ilahi yang mampu membinasakan musuh.
Interpretasi kata "Sijjil" sendiri beragam. Beberapa ulama tafsir, seperti Ibnu Katsir, menggambarkannya sebagai "tanah liat yang dibakar," bahan baku batu yang digunakan oleh burung-burung tersebut. Ibnu Hisyam, mengutip pendapat Yunus An-Nahwi dan Abu Ubaidah, menekankan kekerasan dan kekuatan material batu tersebut. Sementara itu, buku "Hikmah Kisah Nabi dan Rasul" karya Ridwan Abdullah Sani dan Muhammad Kadri bahkan lebih jauh menafsirkan batu-batu Sijjil sebagai berasal dari neraka, menambahkan lapisan makna mistis dan ancaman dahsyat pada simbolisme tersebut. Interpretasi-interpretasi ini, meskipun beragam, menunjukkan kesamaan dalam menggambarkan "Sijjil" sebagai senjata yang memiliki kekuatan destruktif luar biasa, diberikan oleh kekuatan yang lebih tinggi.

Penggunaan nama Sejjil oleh Iran bukan sekadar pilihan sembarangan. Hal ini mencerminkan strategi komunikasi politik yang cermat. Dengan menghubungkan rudal ini dengan kisah keagamaan yang sakral bagi umat Islam, Iran berusaha untuk memperkuat legitimasi penggunaan kekuatan militernya, mengarahkannya sebagai tindakan pembalasan yang dibenarkan secara ilahi. Hal ini juga berfungsi sebagai alat propaganda yang efektif, menimbulkan rasa takut dan kekaguman sekaligus di kalangan musuh dan sekutunya. Simbolisme "batu neraka" yang dikaitkan dengan Sejjil menunjukkan niat untuk menggambarkan rudal ini sebagai senjata pembalasan yang tak terhindarkan dan memiliki kekuatan yang mampu menghancurkan musuh-musuhnya.
Lebih jauh lagi, pilihan nama ini juga berpotensi untuk memobilisasi dukungan domestik dan regional. Dengan menghubungkan rudal ini dengan kisah pertahanan Ka’bah, Iran menciptakan narasi yang mampu membangkitkan sentimen keagamaan dan nasionalisme di kalangan penduduknya. Hal ini dapat meningkatkan dukungan publik terhadap program rudal balistik Iran, terlepas dari kecaman internasional yang mungkin muncul. Strategi ini juga dapat digunakan untuk mengkonsolidasikan dukungan dari negara-negara lain yang memiliki pandangan serupa terhadap Israel atau Amerika Serikat.
Namun, penggunaan rudal Sejjil juga menimbulkan konsekuensi yang serius. Eskalasi konflik di Timur Tengah berpotensi menimbulkan dampak regional dan global yang luas. Kemampuan rudal ini untuk menjangkau wilayah yang luas meningkatkan risiko meluasnya konflik dan melibatkan negara-negara lain. Kehadiran rudal Sejjil juga akan memaksa negara-negara di kawasan untuk memperkuat pertahanan mereka, memicu perlombaan senjata yang dapat semakin memperburuk stabilitas regional. Potensi penggunaan rudal ini juga menimbulkan kekhawatiran mengenai penggunaan senjata pemusnah massal, jika rudal tersebut dimodifikasi untuk membawa hulu ledak nuklir atau senjata kimia.
Secara keseluruhan, peluncuran rudal Sejjil menandai babak baru dalam konflik Timur Tengah. Kemampuan militer rudal ini, dipadukan dengan simbolisme keagamaan yang melekat pada namanya, menciptakan situasi yang kompleks dan penuh tantangan. Kemampuan Iran untuk mengembangkan dan mengerahkan senjata canggih ini menunjukkan kemajuan teknologi militernya yang signifikan, dan sekaligus menimbulkan kekhawatiran serius bagi keamanan regional dan internasional. Perkembangan ini menuntut respon yang bijak dan terukur dari komunitas internasional untuk mencegah eskalasi lebih lanjut dan mencari solusi damai bagi konflik yang berkepanjangan di Timur Tengah. Penting untuk diingat bahwa di balik teknologi dan simbolisme, terdapat konsekuensi nyata dari penggunaan kekuatan militer, dan pencarian perdamaian tetap menjadi prioritas utama dalam menghadapi ancaman yang semakin meningkat ini.




