• Tentang Kami
  • Berita
  • Inspirasi
  • Harmoni
  • Wisata Halal
  • Warga Net
  • Tim Redaksi
No Result
View All Result
Era Madani
  • Bali
  • Berita
  • Kabar
  • Featured
  • Inspirasi
  • Harmoni
  • Budaya
  • Pariwisata
  • Sejarah
  • Gagasan
  • Warga Net
  • Wisata Halal
Era Madani
  • Tentang Kami
  • Berita
  • Inspirasi
  • Harmoni
  • Wisata Halal
  • Warga Net
  • Tim Redaksi
    animate
No Result
View All Result
Era Madani
No Result
View All Result
Bencana Geologi

Potensi Bencana Geologi Tinggi, BNPB Minta Pemprov Lampung Perkuat Edukasi dan Mitigasi. - ERAMADANI.COM.

Potensi Bencana Geologi Tinggi, BNPB Minta Pemprov Lampung Perkuat Edukasi dan Mitigasi

benlaris by benlaris
in Berita, Kabar
0 0
0
338
SHARES
2k
VIEWS
Share on FacebookShare on Twitter

ERAMADANI.COM, BANDAR LAMPUNG – Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) meminta seluruh unsur Pemerintah Daerah Provinsi Lampung agar memperkuat mitigasi dan meningkatkan sosialisasi serta edukasi kepada masyarakat, terkait adanya potensi bencana geologi yang tergolong tinggi di wilayah tersebut.

Berdasarkan hasil kajian dan penelitian lebih lanjut dari Direktorat Pemetaan dan Risiko Bencana BNPB, wilayah Lampung setidaknya memiliki tiga potensi risiko yang dapat memicu terjadinya bencana alam.

Aktivitas Gunung Anak Krakatau Jadi Salah Satu Pemicu Bencana Geologi

Salah satunya adalah aktivitas Gunung Anak Krakatau yang berada di Selat Sunda.

Aktivitas erupsi Gunung Anak Krakatau hingga saat ini masih terus terjadi dan masuk pada Level III atau Siaga.

Adapun aktivitas terakhir gunung ini telah memicu terjadinya peristiwa tsunami Selat Sunda pada 2018 akibat longsoran bawah laut.

Dengan total korban pada saat itu mencapai kurang lebih 430 jiwa.

Berdasarkan catatan sejarah, Krakatau pernah meletus pada 1883.

Kekuatan letusannya setara dengan empat kali lipatnya Tsar Bomba yakni bom nuklir terkuat yang pernah Rusia uji coba di Pasifik.

Apabila dibandingkan dengan bom atom yang pernah dijatuhkan di Hiroshima dan Nagasaki, Jepang pada 1945 lalu, maka Tsar Bomba tersebut kekuatannya setara dengan 3.000 kali bom atom Hiroshima.

Abdul Muhari memaparkan beberapa pemicu bencana alam di Lampung. – (Foto: eramadani.com)

“Krakatau empat kali Tsar Bomba ini,”

Plt. Direktur Pemetaan dan Risiko Bencana, Abdul Muhari dalam Rapat Koordinasi Penanganan COVID-19 dan Penanggulangan Bencana di Provinsi Lampung pada Jumat (19/3/21)

Adapun letusan Krakatau pada masa itu menyebabkan terjadinya lontaran material seluas 41 kilometer kubik, yang bisa membuat bukit buatan dengan ketinggian 300 meter.

Menurut catatan, peristiwa tersebut juga memicu terjadinya tsunami dengan ketinggian 9-36 meter.

Lantas lontaran sulfurnya mencapai lapisan stratosfer dan terbawa hingga ke wilayah Eropa, sehingga menyebabkan perubahan iklim.

Sesar Sunda Jadi Pemicu Lainnya Bencana Geologi

Selain aktivitas Gunung Anak Krakatau, adanya Sesar Sunda yang berada di selatan Lampung dan Pulau Jawa bagian barat juga menjadi pemicu terjadinya bencana alam.

Menurut hasil kajian Muhari bersama tim, segmen Sesar Sunda dapat melepaskan energi hingga sebesar 9 magnitudo.

Dalam sebuah pemodelan, pelepasan maksimal energi tersebut juga dapat memicu terjadinya gelombang tsunami dengan ketinggian hingga 8-10 meter.

“Ini estimasi yang paling besar dari kemungkinan potensi energi yang ada.

Tentunya ini bukan akan bersifat menakut-nakuti tidak,

tetapi potensi itu ada dan kejadiaannya di selatan Jawa bagian barat mengalami pengulangan dengan bukti-bukti geologi yang ada,”

Abdul Muhari

Terdapat Beberapa Sesar Aktif dan Dapat Memicu Gempa

Kemudian untuk sesar yang dapat memicu gempa darat, Muhari menjelaskan bahwa ada beberapa sesar aktif yang dapat melepaskan energi dan memicu gempa, dengan skala estimasi magnitudo 6,9 hingga magnitudo 7,3.

Sesar tersebut terbagi menjadi beberapa bagian yakni Sesar Enggano, Kumering Selatan, Kumering Utara, Barumun, Ujung Kulon, Semangko Timur, Semangko Barat, dan Semangko Graben.

Menurut catatan Muhari, dugaannya ialah Sesar Semangko Barat menjadi pemicu terjadinya peristiwa gempa bumi Liwa.

Gempa bumi itu menyebabkan sedikitnya 196 jiwa menjadi korban dan kurang lebih 2.000 lainnya mengalami luka-luka.

“Semangko Barat itu segmen yang mungkin menjadi penggerak gempa Liwa yang terjadi pada 1994. Liwa termasuk aktif, dua kali 1993 dan 1994,” jelasnya.

Kepala BNPB Minta Pemprov Lampung Ambil Langkah Strategis

Melihat hasil penjabaran tersebut, Kepala BNPB Letjen TNI Doni Monardo meminta kepada Gubernur Provinsi Lampung Ir. H. Arinal Djunaidi, beserta jajaran Bupati dan Wali Kota se-Provinsi Lampung untuk kemudian mengambil kebijakan dan langkah strategis mulai dari sosialisasi, edukasi, hingga mitigasi kepada masyarakat.

Menurut Doni, masyarakat harus memahami tanda-tanda alam yang dapat memicu terjadinya bencana.

Selain itu, mereka juga harus tahu bagaimana cara untuk mengevakuasi diri secara mandiri, sehingga apabila terjadi bencana maka korban dapat diminimalisir.

Terkait dengan sosialisasi dan edukasi tersebut, Doni meminta agar hal tersebut dapat disampaikan dengan cara dan metode yang benar, agar kemudian tidak terjadi kepanikan dan isu hoaks.

“Apa yang harus kita lakukan adalah meningkatkan upaya sosialisasi, tetapi ingat tidak boleh menimbulkan kepanikan.

Gempa dan tsunami adalah peristiwa yang berulang. Kalau tidak ada korban jiwa, maka kita tidak akan menyebut bencana. Gempa yang membunuh itu bukan besaran gempanya,”

Kepala BNPB Letjen TNI Doni Monardo

Selain sosialisasi, mitigasi adalah formula yang harus dilakukan demi menjaga generasi penerus.

Dalam hal ini, Doni meminta agar masyarakat juga dilibatkan dalam kegiatan mitigasi.

Dengan demikian, masyarakat dapat lebih siap dan mandiri, tidak hanya mengandalkan unsur-unsur pemerintah saat terjadi bencana.

“Kemudian untuk bisa melakukan berbagai langkah mitigasi. Kita harus bisa menyiapkan sesuatu hingga generasi penerus bisa selamat,” pungkas Doni. (ZAN)

Tags: Bencana alamBencana GeologiBNPBInfo DenpasarInfo SarbagitaInformasi Terkini!LampungMitigasi
Previous Post

Serikat Buruh Tolak THR Dicicil seperti Tahun Lalu

Next Post

Sejumlah Nelayan Perahu Slerek Keluhkan Sulit Dapat BBM Bersubsidi

benlaris

benlaris

Next Post
Nelayan

Sejumlah Nelayan Perahu Slerek Keluhkan Sulit Dapat BBM Bersubsidi

Ramadan

Masjid Nabawi Tetap Buka Pelaksanaan Salat Tarawih

Kebutuhan Air

Selama Pademi Kebutuhan Air Bersih Meningkat hingga Tiga Kali Lipat

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Facebook Twitter Youtube Vimeo Instagram

Category

  • Bali
  • Berita
  • Budaya
  • Featured
  • Gagasan
  • Geopolitik, Kepemimpinan, Kaderisasi, Strategi Partai, Identitas Keumatan, Jaringan Global, Pemberdayaan Sumber Daya Manusia
  • Harmoni
  • Headline
  • Inspirasi
  • Kabar
  • Keamanan
  • Kesehatan
  • Keuangan
  • Mancanegara
  • Olahraga
  • Opini
  • Pariwisata
  • Pendidikan
  • Peristiwa
  • Politik
  • Sejarah
  • Sponsored
  • Teknologi
  • Uncategorized
  • Warga Net
  • Wisata Halal

© 2020 EraMadani - Harmoni dan Inspirasi.

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • TENTANG KAMI
  • BERITA
  • BALI
  • KABAR
  • FEATURED
  • TIM REDAKSI

© 2020 EraMadani - Harmoni dan Inspirasi.