DENPASAR – Pemuda ICMI Orwil Bali menegaskan pentingnya penguatan kaderisasi dan harmonisasi organisasi dalam Rapat Pleno SILAKWIL ICMI Orwil Bali 2026. Dalam pemaparannya, perwakilan Pemuda ICMI menyampaikan sejumlah rekomendasi strategis menjelang berakhirnya masa kepengurusan tahun 2026.
Sepanjang 2025, Pemuda ICMI Bali tercatat aktif membangun kolaborasi lintas organisasi, termasuk dengan Komisi Perempuan, Remaja dan Keluarga (PRK) Majelis Ulama Indonesia (MUI) Provinsi Bali. Kerja sama tersebut mencakup pembahasan isu-isu strategis seperti penguatan peran perempuan serta penyelenggaraan forum diskusi kelompok terarah (FGD) terkait sejumlah regulasi dan kebijakan daerah.
Memasuki 2026, yang menjadi tahun akhir masa jabatan pengurus saat ini, fokus organisasi diarahkan pada penguatan fondasi jangka panjang, terutama di bidang kaderisasi. Koordinasi intensif telah dilakukan dengan jajaran ICMI Orwil Bali, termasuk Wakil Ketua terkait, guna menyelaraskan arah kebijakan organisasi.
Usulan Sekolah Cendekiawan
Salah satu rekomendasi utama yang disampaikan adalah pembentukan “Sekolah Cendekiawan” sebagai sistem kaderisasi formal bagi calon pengurus dan anggota keluarga besar ICMI.
Gagasan ini dilandasi pandangan bahwa setiap individu yang bergabung dengan ICMI seyogianya melalui proses pembinaan terstruktur. Sekolah Cendekiawan diharapkan menjadi pintu masuk kaderisasi, baik untuk tingkat wilayah (Orwil), daerah (Orda), maupun badan otonom di lingkungan ICMI.
“Problem terbesar organisasi sosial dan kemasyarakatan adalah sumber daya manusia. Jika ICMI ingin berkelanjutan, maka kaderisasi harus menjadi prioritas utama,” kata M. Zainal Abidin.
Pemuda ICMI menilai, proses kaderisasi idealnya dimulai dari generasi muda. Dengan demikian, regenerasi kepemimpinan dapat berlangsung sistematis dan berkesinambungan.
Penataan Jabatan dan Penguatan SDM
Dalam forum tersebut juga disampaikan usulan agar tidak terjadi rangkap jabatan antar badan otonom (Batom) di lingkungan ICMI. Penataan struktur dinilai penting untuk menjaga efektivitas kerja serta mencegah beban berlebih pada individu tertentu.
Menurutnya, distribusi peran yang proporsional justru akan memperkuat organisasi. Jika Sekolah Cendekiawan dapat direalisasikan, maka kebutuhan kader untuk mengisi berbagai posisi strategis diyakini dapat terpenuhi secara lebih merata.
Selain itu, Pemuda ICMI Bali menargetkan pembentukan dan penguatan kepengurusan di tingkat kabupaten sebelum masa jabatan berakhir pada 2026. Langkah ini dipandang sebagai bagian dari konsolidasi organisasi di akar rumput.
Pengembangan Media Sosial dan Dakwah Digital
Pemuda ICMI juga menyoroti pentingnya penguatan media sosial sebagai instrumen dakwah dan komunikasi publik. Organisasi berencana mengirim kader-kader muda yang memiliki kompetensi di bidang algoritma dan strategi digital untuk mengoptimalkan penyebaran pesan-pesan ICMI kepada masyarakat luas.
Upaya ini diharapkan mampu menjangkau ruang publik secara lebih efektif, sekaligus memperkuat citra ICMI sebagai organisasi yang adaptif terhadap perkembangan zaman.
Harmonisasi Keluarga Besar ICMI
Menutup penyampaiannya, Pemuda ICMI menekankan pentingnya menjaga keharmonisan dalam keluarga besar ICMI. Soliditas internal dinilai sebagai prasyarat utama bagi keberhasilan program kerja dan keberlanjutan organisasi.
“Harmonisasi harus dibangun dengan komunikasi yang baik dan rasa saling memiliki. Kehadiran generasi muda adalah bentuk komitmen untuk memastikan ICMI tetap hidup dan relevan,” ujarnya.
Rangkaian rekomendasi tersebut menandai keseriusan Pemuda ICMI Orwil Bali dalam mempersiapkan transisi kepemimpinan serta memperkuat fondasi organisasi menuju fase yang lebih progresif dan berkelanjutan.






