ERAMADANI.COM, JAKARTA – Dalam rapat koordinasi yang berlangsung di Kemenko Bidang Perekonomian terkait neraca komoditas, pada tahun ini pemerintah berniat membuka pintu untuk impor garam.
Sakti Wahyu Trenggono selaku Menteri Kelautan dan Perikanan (Menteri KP) mengatakan, walau kebijakan impor sudah pemerintah putuskan, tapi jumlahnya masih dalam tahap penghitungan.
Sebelumnya, Trenggono mengunjungi washing plant atau unit pengolahan garam di Kecamatan Krangkeng, Kabupaten Indramayu.
Menteri KP ini mengemukakan produksi garam di Kabupaten Indramayu mencapai 361 ribu ton pada 2020.
Akan tetapi, penyerapannya belum menyeluruh, sebab garam dari kelompok petambak hanya dijual ke pabrik-pabrik untuk diolah lagi menjadi garam kemasan.
Oleh karena itu, setiap tahun ada garam yang tersimpan di gudang, lantaran pabrik juga memiliki keterbatasan dalam melakukan pengolahan.
Bakal Impor Garam, tapi 37 Ribu Ton Garam Masih Jadi Penghuni Gudang
Pada produksi tahun lalu, masih ada sekitar 37.000 ton garam yang sampai sekarang tersimpan di gudang-gudang garam di Cirebon, Jawa Barat.
Melihat hal itu, ia melakukan upaya percepatan distribusi dan penjualan garam produk lokal.
Trenggono mendorong koperasi petambak garam di Indramayu, Jawa Barat, meningkatkan daya jual produk dari produksi garam petambak lokal di daerah tersebut.
“Salah satu caranya dengan menyiapkan garam dalam bentuk kemasan agar bisa langsung dijual ke pasar,”
Menteri Kelautan dan Perikanan, Sakti Wahyu Trenggono, melalui keterangan resminya, Senin (15/3/21), melansir kumparan.com.
Penjualan Garam Petani Menyesuaikan Kebutuhan Pabrik
Sementara itu, Amin Muhaimin selaku Ketua Koperasi Garam Inti Rakyat (GIR) Sari Bobos menjelaskan, saat ini penjualan masih bergantung kebutuhan pabrik.
Hal itu lantaran perizinan untuk mendukung produksi garam kemasan masih mereka urus.
Salah satunya izin edar dari Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM).
“Perizinan sedang diurus,” kata Amin saat berdialog dengan Menteri Trenggono.
Pihaknya membutuhkan pendampingan dari pemerintah, agar garam kemasan yang terproduksi nantinya memiliki daya saing tinggi. (ITM)




