Nabi Daud Alaihissalam, selain dikenal sebagai raja yang adil dan bijaksana, juga dianugerahi karunia Ilahi berupa suara yang luar biasa merdu. Keindahan suaranya bukan sekadar anugerah estetis, melainkan manifestasi kekuasaan Tuhan yang mampu menggetarkan hati manusia, hewan, bahkan alam semesta. Kisah kemerduan suara Nabi Daud AS terpatri dalam Al-Qur’an dan berbagai riwayat hadits, mengungkapkan keajaiban yang melampaui batas-batas duniawi.
Ayat suci Al-Qur’an Surat Saba’ ayat 10 secara implisit menyinggung keajaiban suara Nabi Daud: "Dan sesungguhnya telah Kami berikan kepada Daud kurnia dari Kami. (Kami berfirman): "Hai gunung-gunung dan burung-burung, bertasbihlah berulang-ulang bersama Daud", dan Kami telah melunakkan besi untuknya." Ayat ini tidak secara eksplisit menyebutkan kemerduan suara, namun konteksnya mengindikasikan adanya suatu kekuatan luar biasa yang mampu menggerakkan alam untuk bertasbih bersama beliau. Bertasbihnya gunung-gunung dan burung-burung menjadi bukti nyata dari dampak spiritual yang ditimbulkan oleh suara Nabi Daud. Ini bukan sekadar suara manusia biasa, melainkan suara yang dipenuhi dengan dzikir dan ketaatan kepada Allah SWT, sehingga mampu membangkitkan respon dari alam ciptaan-Nya.
Ibnu Katsir, dalam karyanya "Kisah Para Nabi," menjelaskan lebih detail mengenai keajaiban suara Nabi Daud. Ketika beliau membaca Kitab Zabur, kitab suci umat Bani Israil, suara merdunya mampu memikat hati dan jiwa. Burung-burung yang terbang di angkasa seakan terpesona, menukik turun untuk menyimak bacaan Nabi Daud. Mereka pun ikut bertasbih, mengalunkan pujian kepada Allah SWT bersama sang Nabi. Tidak hanya burung, gunung-gunung pun ikut bertasbih, mengucapkan pujian di pagi dan sore hari, menunjukkan betapa dahsyatnya pengaruh suara Nabi Daud AS yang mampu menggetarkan alam.
Berbagai riwayat dari para ulama terkemuka semakin memperkuat gambaran keajaiban ini. Al-Auza’i, melalui perawi Abdullah bin Amir, menceritakan bahwa Nabi Daud dianugerahi suara termerdu yang belum pernah diberikan Allah kepada siapa pun. Kemerduan suaranya begitu memikat, hingga burung-burung dan hewan-hewan liar terpaku mendengarkan, sampai-sampai mereka lupa makan dan minum hingga mati kehausan dan kelaparan. Bahkan, aliran sungai pun konon berhenti mengalir, seakan terpesona oleh keindahan suara tersebut. Ini menggambarkan betapa luar biasanya pengaruh suara Nabi Daud, yang mampu menundukkan makhluk hidup lainnya dalam kekaguman.
Wahab bin Munabbih, ulama ternama lainnya, menambahkan bahwa siapa pun yang mendengar suara Nabi Daud akan terkesima hingga berjalan seperti menari. Kemerduan suaranya begitu memikat, bahkan manusia dan hewan rela berhenti dari aktivitas mereka hanya untuk mendengarkan. Beberapa hewan bahkan mati kelaparan karena terpaku mendengarkan suara merdu tersebut. Gambaran ini menunjukkan betapa luar biasanya daya tarik suara Nabi Daud, yang mampu menghipnotis pendengarnya hingga melupakan kebutuhan dasar mereka.
Abu Uwanah al-Isfaraini, melalui perawi Ja’far dan Malik, menceritakan bahwa ketika Nabi Daud membaca Kitab Zabur, para gadis pun terhenti dari aktivitas mereka untuk mendengarkan. Ini menunjukkan bahwa daya tarik suara Nabi Daud AS tidak terbatas pada jenis kelamin atau spesies tertentu, melainkan universal dan mampu memikat semua makhluk hidup.
Abdurrazaq, melalui riwayat Ibnu Juraij dan Atha’, menjelaskan tentang praktik Nabi Daud dalam membaca Kitab Suci. Atha’ menyatakan bahwa tidak mengapa membaca Kitab Suci dengan dilagukan, merujuk pada praktik Nabi Daud yang menggunakan rebana dan mengulang-ulang bacaannya untuk membangkitkan rasa haru dan tangis. Ini menunjukkan bahwa Nabi Daud tidak hanya memiliki suara merdu, tetapi juga memiliki penghayatan yang dalam dalam membaca Kitab Suci. Beliau menggunakan berbagai cara untuk meningkatkan kualitas ibadah dan penghayatannya.
Hadits dari Aisyah RA juga menghubungkan keindahan suara Nabi Daud dengan Abu Musa Al-Asy’ari. Rasulullah SAW bersabda bahwa Abu Musa dianugerahi keindahan suara dari seruling kepunyaan Daud. Ini menunjukkan bahwa keindahan suara Nabi Daud AS menjadi standar keindahan suara yang diakui oleh Rasulullah SAW sendiri. Keindahan suara Abu Musa Al-Asy’ari, yang dipuji oleh Rasulullah, merupakan warisan spiritual dari keindahan suara Nabi Daud.
Hadits lain dari Abu Hurairah yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Ahmad menggambarkan kelincahan Nabi Daud dalam membaca Kitab Zabur. Beliau mampu menyelesaikan bacaan Kitab Zabur sebelum pelana kudanya selesai dipasang. Beliau juga hanya makan dari hasil kerja tangannya sendiri. Ini menunjukkan bahwa Nabi Daud AS adalah sosok yang produktif dan tekun dalam beribadah, sekaligus menekankan pentingnya kerja keras dan kesederhanaan dalam kehidupan. Meskipun membaca dengan cepat, bacaan Nabi Daud tetap diiringi perenungan dan penghayatan yang mendalam, menunjukkan keseimbangan antara kecepatan dan kualitas dalam beribadah.
Kesimpulannya, kisah Nabi Daud AS dan keindahan suaranya bukan sekadar cerita tentang seorang yang memiliki suara merdu. Ini adalah kisah tentang manifestasi kekuasaan dan karunia Allah SWT yang luar biasa. Keindahan suaranya mampu menggetarkan hati manusia, menundukkan hewan, dan bahkan menggerakkan alam untuk bertasbih bersama. Kisah ini menjadi teladan bagi kita untuk senantiasa menghayati setiap bacaan dan ibadah kita dengan penuh penghayatan dan keikhlasan, sehingga mampu memberikan dampak positif bagi diri sendiri dan lingkungan sekitar. Keindahan suara Nabi Daud AS bukan hanya tentang estetika, tetapi juga tentang kekuatan spiritual yang mampu menghubungkan manusia dengan Sang Pencipta dan alam semesta. Ia merupakan suatu tanda kebesaran Allah yang patut direnungkan dan dipetik hikmahnya.