Gerakan mengangkat jari telunjuk kanan selama pembacaan tahiyat awal dan akhir dalam salat merupakan salah satu praktik yang mungkin sering dilakukan umat Muslim tanpa sepenuhnya memahami maknanya yang mendalam. Tindakan yang tampak sederhana ini, ternyata menyimpan simbolisme spiritual yang kaya dan terhubung erat dengan inti ajaran Islam, yaitu tauhid (keesaan Tuhan). Artikel ini akan mengupas tuntas alasan di balik syariat mengangkat jari telunjuk tersebut, serta detail praktiknya menurut mazhab Syafi’i, yang merupakan mazhab mayoritas di Indonesia.
Tauhid yang Terwujud dalam Gerakan Fisik
Buku "Kupas Tuntas Salat" karya HM Masykuri Abdurrahman dan Mokh Syaiful Bahri memberikan penjelasan yang lugas mengenai makna mengangkat jari telunjuk saat mengucapkan "illa Allah" dalam tahiyat. Gerakan ini bukan sekadar gerakan fisik yang tanpa arti, melainkan representasi dari pengakuan dan penegasan akan keesaan Allah SWT sebagai satu-satunya Tuhan yang layak disembah. Dengan mengangkat jari telunjuk, seorang Muslim secara simbolik menyatakan keselarasan antara ucapan, perbuatan, dan keyakinan dalam mengesakan Allah. Tidak ada entitas lain yang pantas menerima pengabdian dan penyembahan selain Allah SWT.
Lebih jauh lagi, buku tersebut menjelaskan adanya hubungan fisik antara jari telunjuk dan jantung. Urat-urat yang menghubungkan jari telunjuk dengan jantung seolah-olah menggambarkan jari telunjuk sebagai perantara atau representasi dari hati. Dengan demikian, gerakan mengangkat jari telunjuk ini menjadi manifestasi nyata dari kesungguhan hati dalam beribadah dan mengakui keesaan Allah. Ia bukan hanya sekadar ucapan lisan, tetapi juga pengakuan dari lubuk hati yang termanifestasi melalui gerakan fisik. Ini menunjukkan komitmen yang utuh dan totalitas pengabdian kepada Sang Khalik.
Durasi Pengangkatan Jari Telunjuk: Tahiyat Awal vs. Tahiyat Akhir

Praktik mengangkat jari telunjuk ini memiliki perbedaan durasi antara tahiyat awal dan akhir. Menurut "Kupas Tuntas Salat", pada tahiyat awal, jari telunjuk kanan diangkat menghadap kiblat selama duduk tasyahud. Namun, saat berdiri untuk melakukan rakaat selanjutnya, jari telunjuk tersebut diturunkan. Berbeda dengan tahiyat akhir, jari telunjuk tetap diangkat hingga salam mengakhiri salat. Hal ini menekankan perbedaan konteks spiritual dalam kedua tahiyat tersebut. Tahiyat awal masih merupakan bagian dari rangkaian salat yang berkelanjutan, sementara tahiyat akhir menandai penutupan ibadah dan pengakuan totalitas pengabdian.
Penting untuk diingat bahwa hanya jari telunjuk kanan yang disyariatkan diangkat. Mengangkat jari telunjuk kiri dalam tahiyat hukumnya makruh (dibenci), sehingga perlu dihindari. Kesalahan kecil ini, meskipun tidak membatalkan salat, tetap perlu diperhatikan untuk menjaga kesempurnaan ibadah. Ketelitian dalam menjalankan setiap detail ibadah mencerminkan kesungguhan dan ketakwaan seorang hamba kepada Tuhannya.
Pandangan Mazhab Syafi’i: Ketelitian dan Kesunyian
Buku "Amaliah Aswaja Nahdliyah" karya A Fatih Syuhud memberikan perspektif mazhab Syafi’i mengenai praktik tahiyat, termasuk mengangkat jari telunjuk. Mazhab Syafi’i menekankan beberapa hal penting yang perlu diperhatikan. Pertama, posisi tangan kanan diletakkan di atas pangkal lutut kanan dengan jari-jari menggenggam, kecuali jari telunjuk yang dibiarkan menunduk, ujung ibu jari berada di bawah jari telunjuk. Saat mencapai kata "illa Allah", jari telunjuk diangkat dan tetap diangkat hingga bangun untuk rakaat ketiga (tahiyat awal) atau hingga salam (tahiyat akhir).
Mazhab Syafi’i juga menegaskan bahwa menggerakkan jari telunjuk selama tahiyat hukumnya makruh. Oleh karena itu, jari telunjuk sebaiknya dibiarkan diam tanpa digerakkan. Ketidakgerakkan ini bukan berarti sikap pasif, melainkan menunjukkan keheningan dan khusyuk dalam bermunajat kepada Allah. Keheningan ini menjadi simbol dari konsentrasi spiritual yang mendalam, memfokuskan seluruh perhatian pada dzikir dan doa kepada Allah SWT. Hal ini juga menunjukkan kesungguhan dalam beribadah dan menghindari hal-hal yang dapat mengalihkan konsentrasi.
Selain itu, mazhab Syafi’i menganjurkan meletakkan tangan kiri di atas lutut kiri dalam keadaan terbuka. Posisi tangan ini menunjukkan sikap tenang, terbuka, dan siap menerima petunjuk dan rahmat dari Allah. Keseluruhan gerakan dan posisi tubuh selama tahiyat, termasuk posisi tangan dan pengangkatan jari telunjuk, merupakan bagian integral dari kesempurnaan ibadah dan menunjukkan kesungguhan seorang Muslim dalam beribadah.
Bacaan Tahiyat Awal dan Akhir: Doa dan Pengakuan Iman
Pembacaan tahiyat awal dan akhir bukanlah sekadar rangkaian kata-kata, melainkan doa dan pengakuan iman yang sarat makna. Berikut terjemahan bacaan tahiyat awal dan akhir dalam bahasa Indonesia:
Tahiyat Awal:
"Segala penghormatan, keberkahan, salawat dan kebaikan hanya bagi Allah. Semoga salam sejahtera selalu tercurahkan kepadamu wahai nabi, demikian pula rahmat Allah dan berkahNya dan semoga salam sejahtera selalu tercurah kepada kami dan hamba-hamba Allah yang saleh. Aku bersaksi bahwa tiada tuhan kecuali Allah dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah utusan Allah. Ya Allah, berilah rahmat kepada Nabi Muhammad."
Tahiyat Akhir:
"Ya Allah, limpahilah rahmat atas keluarga Nabi Muhammad, seperti rahmat yang Engkau berikan kepada Nabi Ibrahim dan keluarganya. Dan limpahilah berkah atas Nabi Muhammad beserta para keluarganya, seperti berkah yang Engkau berikan kepada Nabi Ibrahim dan keluarganya, Engkaulah Tuhan yang sangat terpuji lagi sangat mulia di seluruh alam."
Kedua bacaan ini mengandung ungkapan pujian, shalawat kepada Nabi Muhammad SAW, syahadat (pengakuan keesaan Allah dan kenabian Muhammad), serta doa permohonan rahmat dan keberkahan. Pengangkatan jari telunjuk selama pembacaan, khususnya pada kalimat "illa Allah", semakin menguatkan makna tauhid dan pengakuan akan keesaan Allah SWT sebagai inti ajaran Islam. Dengan demikian, seluruh rangkaian tahiyat, termasuk gerakan fisik dan bacaan, menjadi sebuah kesatuan yang utuh dalam mengekspresikan keimanan dan ketaatan seorang Muslim kepada Allah SWT.
Kesimpulan:
Mengangkat jari telunjuk kanan selama tahiyat bukanlah gerakan yang sepele. Ia merupakan simbol yang kaya makna, yang merepresentasikan tauhid, keselarasan spiritual antara ucapan, perbuatan, dan keyakinan, serta kesungguhan hati dalam beribadah. Pemahaman yang mendalam terhadap makna dan detail praktiknya, seperti yang dijelaskan oleh berbagai referensi keagamaan, akan semakin meningkatkan kualitas ibadah dan kedekatan seorang Muslim dengan Allah SWT. Ketelitian dalam menjalankan setiap detail ibadah, termasuk durasi pengangkatan jari telunjuk dan menghindari gerakan yang makruh, merupakan wujud dari ketaatan dan ketakwaan yang sejati. Semoga uraian ini dapat memberikan pemahaman yang lebih komprehensif mengenai pentingnya gerakan ini dalam konteks ibadah salat.



