Jakarta, 3 Juli 2025 – Kiswah, selubung suci yang membalut Ka’bah, bangunan paling suci dalam Islam, bukan sekadar kain penutup. Ia merupakan manifestasi seni, spiritualitas, dan keahlian manusia yang terjalin dalam harmoni sempurna. Salah satu elemen paling menonjol yang memperkaya keindahan dan makna Kiswah adalah kaligrafi Arab Thuluth Jali Murakkab, sebuah bentuk seni tulis yang kaya akan sejarah dan simbolisme. Kehadirannya pada Kiswah bukan sekadar ornamen, melainkan sebuah pernyataan artistik dan spiritual yang mendalam.
Thuluth: Jejak Sejarah dalam Goresan Pena
Kaligrafi Thuluth, yang namanya berarti "sepertiga" – mengacu pada proporsi garis lurus terhadap lengkungannya – merupakan salah satu bentuk kaligrafi Islam yang paling dihargai. Meskipun asal-usulnya masih diperdebatkan, sumber-sumber sejarah menunjuk pada kemunculannya pada abad ke-7 Masehi di masa Kekhalifahan Umayyah. Namun, perkembangannya yang signifikan terjadi pada akhir abad ke-9, menandai babak baru dalam sejarah seni kaligrafi Islam.
Berbeda dengan gaya kaligrafi lainnya yang mungkin lebih menekankan pada kecepatan dan efisiensi penulisan, Thuluth justru dikenal karena kompleksitas dan keindahannya yang luar biasa. Karakter huruf-hurufnya yang besar, melengkung, saling bertautan, dan seringkali berpotongan, menciptakan aliran visual yang dinamis dan harmonis. Proporsi yang rumit dan detail yang halus menjadi ciri khasnya. Meskipun jarang digunakan untuk penulisan lengkap Al-Qur’an, Thuluth menjadi pilihan utama untuk penulisan judul, prasasti keagamaan, dan hiasan arsitektur, menunjukkan statusnya sebagai bentuk seni yang dihormati dan dihargai. Keanggunan dan kehalusannya menjadikannya pilihan ideal untuk mengekspresikan keindahan dan keagungan pesan-pesan suci.
Mengapa Thuluth Dipilih untuk Kiswah? Sebuah Pilihan yang Sarat Makna

Pemilihan kaligrafi Thuluth Jali Murakkab untuk menghiasi Kiswah bukanlah keputusan yang sembarangan. Keputusan ini mencerminkan pertimbangan estetika dan fungsional yang matang. Gaya kaligrafi ini mampu mengakomodasi jumlah ayat Al-Qur’an yang cukup banyak dalam ruang yang terbatas, tanpa mengorbankan keindahan dan kejelasan tulisannya. Kemampuannya untuk memadatkan teks tanpa mengurangi estetika menjadikannya pilihan yang ideal untuk Kiswah, yang memiliki luas permukaan yang terbatas namun harus menampilkan ayat-ayat suci dengan cara yang indah dan terhormat.
Lebih dari sekadar efisiensi ruang, penggunaan Thuluth Jali Murakkab pada Kiswah juga merepresentasikan sebuah pernyataan artistik yang mendalam. Gaya kaligrafi ini, dengan kompleksitas dan kehalusannya, mampu menangkap esensi kesucian dan keagungan Ka’bah. Huruf-huruf yang saling bertautan dan mengalir menciptakan sebuah irama visual yang mencerminkan kesatuan dan harmoni dalam ajaran Islam. Setiap goresan pena seolah-olah menjadi doa dan pujian kepada Allah SWT, menjadikan Kiswah bukan hanya kain penutup, melainkan sebuah karya seni sakral yang hidup.
Laporan dari Saudi Press Agency (SPA) pada tanggal 26 Juni 2025 menekankan presisi dan ketelitian yang luar biasa dalam penulisan kaligrafi Thuluth pada Kiswah. Struktur kaligrafi yang kompleks dipadukan dengan harmoni yang sempurna, menghasilkan karya seni yang tak tertandingi. Ketelitian dan dedikasi para seniman kaligrafi yang terlibat dalam pembuatan Kiswah patut diapresiasi, menunjukkan betapa besarnya penghormatan dan kesucian yang mereka berikan kepada tugas mulia ini.
Proses Pembuatan Kiswah: Sebuah Perjalanan Panjang Menuju Kesempurnaan
Pembuatan Kiswah bukanlah proses yang singkat dan sederhana. Ia membutuhkan waktu, keahlian, dan dedikasi yang luar biasa. Proses pembuatannya melibatkan lebih dari 154 tenaga profesional terlatih yang bekerja secara manual selama kurang lebih 11 bulan. Ketelitian dan presisi menjadi kunci utama dalam setiap tahapan, menjamin kualitas dan keindahan Kiswah yang tak tertandingi. Dari pemilihan bahan baku hingga penyelesaian detail terkecil, setiap langkah dikerjakan dengan penuh kehati-hatian dan keahlian yang terampil.
Proses ini bukan hanya sekadar pembuatan kain, melainkan sebuah ritual yang sakral. Setiap jahitan, setiap goresan kaligrafi, merupakan manifestasi dari iman dan pengabdian para pengrajin kepada Allah SWT dan Ka’bah. Mereka tidak hanya menciptakan sebuah karya seni, melainkan juga turut serta dalam menjaga dan menghormati kesucian tempat ibadah umat Islam di seluruh dunia.
Penggantian Kiswah: Simbol Pembaruan dan Penghormatan
Setiap tahun, pada tanggal 1 Muharram, bertepatan dengan awal tahun baru Hijriah, Kiswah diganti dalam sebuah upacara khusus yang penuh dengan makna spiritual dan simbolis. Upacara ini bukan hanya sekadar penggantian kain penutup, melainkan juga merupakan simbol pembaruan dan penghormatan terhadap Ka’bah sebagai pusat ibadah umat Islam. Momen ini menjadi pengingat akan kesucian Ka’bah dan pentingnya menjaga kesucian tempat ibadah tersebut.
Penggantian Kiswah juga menjadi kesempatan bagi umat Islam di seluruh dunia untuk memperbarui ikatan spiritual mereka dengan Ka’bah. Peristiwa ini disiarkan secara langsung ke berbagai penjuru dunia, menunjukkan betapa pentingnya Ka’bah dan Kiswah dalam hati umat Islam. Upacara penggantian Kiswah menjadi momen yang menyatukan umat Islam dalam sebuah perayaan spiritual yang penuh khidmat dan kebahagiaan.
Kesimpulannya, kaligrafi Thuluth Jali Murakkab pada Kiswah Ka’bah bukan sekadar hiasan, melainkan sebuah pernyataan seni dan spiritual yang mendalam. Ia merupakan perpaduan harmonis antara keahlian manusia, keindahan seni, dan kesucian agama. Kehadirannya pada Kiswah memperkaya makna dan keindahan selubung suci tersebut, menjadikan Kiswah sebagai sebuah karya seni sakral yang mencerminkan keagungan dan kemuliaan Ka’bah sebagai pusat ibadah umat Islam di seluruh dunia. Dari proses pembuatannya yang panjang dan teliti hingga upacara penggantiannya yang penuh makna, Kiswah menjadi simbol pembaruan, penghormatan, dan kesatuan umat Islam.



