ERAMADANI.COM, INDONESIA – Lembaga penelitian bertaraf dunia, Ipsos, menyebut orang Indonesia sebagai warga Asean paling optimis dalam hal penaklukan pandemi Covid-19.
Melaui keterangan pers, Juru Bicara Pemerintah, dr. Reisa Broto Asmoro, memberikan beberapa keterangan kabar baik dalam seminggu ini, salah satunya terkait pernyataan dari Ipsos.
“Lembaga penelitian bertaraf dunia, Ipsos menyatakan orang Indonesia adalah warga yang paling optimis di Asean dalam hal menaklukkan pandemi,” ujar dr. Reisa sebagaimana mengutip dari kanal YouTube Sekretariat Presiden.
“Cepat atau lambat optimisme ini berdasarkan fakta bahwa upaya 3T pemerintah, terutama treatment atau pengobatan tentunya semakin membaik terus,” imbuh jubir pemerintah itu.
Ia juga menambahkan bahwa itu pun juga atas dorongan 3M.
Berdasarkan laporan pemantauan dari Satgas penanganan Covid-19, sebagian besar masyarakat Indonesia tetap memakai masker dan menjaga jarak saat liburan atau ketika akhir pekan panjang kemarin.
Begitu pun dengan mencuci tangan, ia menyebutkan bahwa masyarakat Indonesia paling sering memraktikkan perilaku ini.
Hal itu berdasarkan hasil riset Unicef dan Nielsen Media Research.
“Hasil riset dari Unicef dan juga Nielsen menunjukan bahwa cuci tangan itu paling sering terpraktikkan, lho oleh masyarakat Indonesia,” terangnya.
“Tapi sayangnya, 3M sendiri masih terpraktikkan secara terpisah. Kadang rajin cuci tangan tapi kurang disiplin pakai masker dan lengah menjaga jarak,” ungkapnya menyayangkan.
Padahal bagusnya adalah semua rangkaian tersebut terterapkan secara bersama atau komplit.
Jika secara bersama atau komplit melakukan 3M secara komplit, maka risiko Covid-19 akan langsung turun drastis.
Ipsos Juga Sebut Orang Indonesia Miliki Semangat yang Tinggi
Selain itu, menurut Ipsos orang Indonesia optimis pada penaklukkan pandemi ialah karena semangat tinggi dan upaya mencari serta menyediakan vaksin.
“Ada vaksin yang dikembangkan oleh Indonesia sendiri, ada yang kerja sama dan ada yang bekerja sama dengan negara lain dalam rangka kerja sama global dan multilateral,” jelas dr. Reisa.
Jubir pemerintah itu juga mengutip opini dari Prof. Gusti Ngurah Mahardika pada harian kompas yang telah terbit 5 November kemarin.
Opini tersebut yakni penegasan Prof. Gusti Ngurah Mahardika bahwa vaksin yang akan pemerintah gunakan adalah vaksin yang pasti aman, juga tentunya memiliki khasiat yang tinggi.
Lantaran jika tidak, maka tidak akan masuk ke uji klinis akhir serta tidak akan mungkin mendapat lampu hijau dari Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM). (ERK)




