Jeddah, 25 Juni 2025 – Suasana ramai dan antusias menyelimuti Bandara Internasional King Abdulaziz, Jeddah, beberapa hari terakhir. Bukan semata-mata karena arus kepulangan jemaah haji dan umrah yang padat, tetapi juga karena tingginya permintaan akan air zamzam. Air suci yang dipercaya memiliki keberkahan ini menjadi komoditas favorit yang diburu para calon penumpang sebelum kembali ke tanah air.
Pantauan di lapangan menunjukkan, kemasan air zamzam berukuran 5 liter dengan harga 12,5 riyal (sekitar Rp 48.000*) menjadi incaran utama. Rak-rak yang tertata rapi di area khusus penjualan bandara dipenuhi botol-botol air zamzam tersebut, menunjukkan tingginya permintaan dan popularitasnya sebagai oleh-oleh khas Tanah Suci. Para petugas bandara pun terlihat sibuk membantu jemaah memindahkan jerigen-jerigen air zamzam ke dalam bagasi pesawat, memastikan proses pengangkutan berjalan lancar dan aman.
Fenomena ini mencerminkan kuatnya keyakinan dan nilai spiritual yang melekat pada air zamzam bagi umat Islam. Air yang diambil dari sumur Zamzam di Masjidil Haram, Mekkah, ini dianggap memiliki khasiat dan keberkahan yang luar biasa. Bukan hanya sekadar minuman, air zamzam bagi banyak jemaah menjadi simbol perjalanan spiritual mereka di Tanah Suci, sebuah kenang-kenangan yang membawa berkah dan mengingatkan mereka akan pengalaman ibadah yang telah dijalani.
Lebih dari sekadar oleh-oleh, air zamzam juga seringkali dibagikan kepada keluarga, kerabat, dan teman-teman di tanah air. Hal ini menunjukkan dimensi sosial dari fenomena ini, di mana keberkahan air zamzam dibagi dan dirasakan secara lebih luas. Praktik berbagi ini memperkuat ikatan sosial dan mempererat rasa kebersamaan di antara umat Islam.
Keberadaan titik penjualan air zamzam di area keberangkatan bandara juga menunjukkan upaya otoritas bandara untuk memfasilitasi kebutuhan jemaah. Kemudahan akses dan tersedianya kemasan yang praktis, seperti kemasan 5 liter yang diperbolehkan masuk bagasi pesawat, menunjukkan kepekaan dan responsifnya pihak bandara terhadap kebutuhan para penumpang. Hal ini menciptakan pengalaman kepulangan yang lebih nyaman dan terorganisir bagi jemaah.

Namun, di balik antusiasme ini, terdapat beberapa catatan penting yang perlu diperhatikan. Pertama, perlu adanya pengawasan yang ketat terhadap kualitas dan keaslian air zamzam yang dijual. Pastikan air zamzam yang dipasarkan benar-benar berasal dari sumber yang terpercaya dan memenuhi standar kesehatan dan keamanan yang berlaku. Hal ini penting untuk mencegah potensi penipuan atau penjualan air zamzam palsu yang dapat merugikan jemaah.
Kedua, perlu adanya sosialisasi yang lebih intensif kepada jemaah mengenai aturan dan prosedur pengangkutan air zamzam di dalam pesawat. Meskipun diperbolehkan masuk bagasi, ada batasan-batasan tertentu yang perlu dipatuhi untuk menghindari masalah di kemudian hari. Sosialisasi ini dapat dilakukan melalui berbagai media, seperti brosur, pengumuman di bandara, dan website resmi otoritas bandara.
Ketiga, perlu dikaji lebih lanjut mengenai manajemen antrian dan distribusi air zamzam di area penjualan. Tingginya permintaan dapat menyebabkan kepadatan dan antrian panjang yang berpotensi mengganggu kelancaran proses keberangkatan. Pihak bandara perlu mengoptimalkan sistem penjualan dan distribusi untuk memastikan proses berjalan efisien dan tidak menimbulkan ketidaknyamanan bagi jemaah.
Keempat, harga air zamzam perlu dipantau agar tetap terjangkau dan tidak memberatkan jemaah. Meskipun harga 12,5 riyal untuk kemasan 5 liter relatif terjangkau, perlu adanya mekanisme pengawasan untuk mencegah potensi penyalahgunaan dan spekulasi harga. Pemerintah dan otoritas terkait perlu memastikan agar harga air zamzam tetap wajar dan tidak memberatkan para jemaah yang telah mengeluarkan biaya yang cukup besar untuk ibadah haji dan umrah.
Fenomena antusiasme pembelian air zamzam di Bandara King Abdulaziz, Jeddah, bukan hanya sekadar peristiwa ekonomi, tetapi juga mencerminkan aspek spiritual, sosial, dan operasional pengelolaan bandara. Peristiwa ini menunjukkan pentingnya pemahaman yang holistik terhadap kebutuhan jemaah, baik dari sisi spiritual maupun praktis. Dengan pengelolaan yang baik dan terintegrasi, fenomena ini dapat dikelola secara optimal, sehingga dapat memberikan pengalaman kepulangan yang berkesan dan penuh berkah bagi para jemaah. Ke depan, perlu adanya kolaborasi yang lebih erat antara berbagai pihak terkait, termasuk otoritas bandara, pemerintah, dan pihak swasta, untuk memastikan kelancaran dan kenyamanan proses pengangkutan air zamzam bagi para jemaah.
(Kurs rupiah terhadap riyal Saudi dapat berubah-ubah. Angka tersebut merupakan perkiraan dan dapat berbeda)



