Sulaiman Al Rajhi, nama yang mungkin tak begitu familiar di telinga masyarakat Indonesia, namun menyimpan kisah inspiratif yang luar biasa. Bukan sekadar kisah sukses seorang pengusaha, melainkan perjalanan spiritual seorang miliarder yang memilih meninggalkan gemerlap kekayaan duniawi demi mengabdikan hidupnya untuk ibadah dan amal. Perjalanan hidup Al Rajhi, yang pernah merasakan pahitnya kemiskinan hingga mencapai puncak kejayaan sebagai salah satu orang terkaya di dunia, menjadi teladan tentang makna sejati kekayaan dan tanggung jawab seorang hamba di hadapan Tuhannya.
Berdasarkan catatan Forbes Middle East tahun 2011, Sulaiman Al Rajhi tercatat memiliki kekayaan mencapai US$ 7,7 miliar, menempatkannya dalam jajaran 100 orang terkaya dunia. Angka fantastis ini, hasil kerja keras dan kecerdasan bisnisnya, berbanding terbalik dengan gaya hidup sederhana yang ia jalani. Tidak ada mobil mewah, pesawat pribadi, atau gaya hidup hedonis yang lazim ditemukan pada miliarder sekelasnya. Sebaliknya, Al Rajhi memilih hidup sederhana, bahkan menggunakan pesawat kelas ekonomi untuk bepergian. Keputusan ini, bukan semata-mata karena kesederhanaan, melainkan didasari oleh keyakinan dan kesadaran spiritual yang mendalam.
Kisah sukses Al Rajhi bukanlah dongeng Cinderella. Ia lahir dan tumbuh dalam keluarga yang serba kekurangan. Sejak usia sembilan tahun, ia telah merasakan kerasnya hidup dengan bekerja sebagai kuli angkut. Pengalaman pahit ini terus berlanjut dengan pekerjaannya sebagai pengepul kurma dan penjaga toko. Masa kecil yang penuh perjuangan ini membentuk karakternya yang tangguh dan gigih. Namun, bukan hanya keuletan yang membawanya menuju kesuksesan. Kejelian dan kecerdasan bisnisnya menjadi kunci keberhasilannya.
Titik balik dalam hidupnya terjadi ketika Al Rajhi bekerja di sebuah money changer. Pengalaman ini membuka mata dan pikirannya tentang dunia keuangan. Pada tahun 1970, ia memberanikan diri mendirikan bisnis money changer sendiri. Kegigihan dan strategi bisnisnya yang tepat membuahkan hasil luar biasa. Dalam waktu singkat, bisnisnya berkembang pesat hingga memiliki 30 gerai di seluruh Arab Saudi, bahkan berhasil melakukan ekspansi ke Mesir dan Lebanon.
Kesuksesan yang diraihnya tidak membuatnya berpuas diri. Bersama saudara-saudaranya, ia mendirikan perusahaan induk yang menaungi bisnis money changer tersebut. Langkah strategis selanjutnya yang mengubah peta bisnisnya adalah peralihan ke sektor perbankan syariah. Mereka mendirikan Al Rajhi Bank, yang kemudian menjelma menjadi bank syariah terbesar di dunia. Berkat keberhasilan Al Rajhi Bank, kekayaan Al Rajhi pun meroket secara signifikan.

Namun, di tengah gelimang kekayaan yang luar biasa, Al Rajhi tetap teguh pada prinsip-prinsip keimanannya. Ia menyadari bahwa kekayaan yang dimilikinya hanyalah titipan dari Allah SWT, dan ia bertanggung jawab atas pengelolaannya. Ketakutan akan dosa dan pertanggungjawaban di hadapan Tuhan menjadi pendorong utama dalam setiap keputusannya. Ia tidak ingin kekayaannya menjadi sumber kesombongan atau pemborosan.
Oleh karena itu, Al Rajhi konsisten menggunakan hartanya untuk kegiatan amal dan membantu sesama. Bagi Al Rajhi, berbagi kepada orang yang membutuhkan bukan sekadar kewajiban, melainkan sebuah panggilan hati. Pengalaman masa kecilnya yang penuh kekurangan membuatnya memahami betapa sulitnya hidup dalam kemiskinan. Ia tidak ingin orang lain merasakan penderitaan yang pernah ia alami.
Puncak dari kepeduliannya terhadap sesama terjadi pada tahun 2015. Sulaiman Al Rajhi mengambil keputusan yang mengejutkan banyak orang: ia membagikan seluruh hartanya kepada masyarakat kurang mampu di Arab Saudi. Ia bahkan mengalihkan kepemilikan sahamnya di Al Rajhi Bank kepada beberapa lembaga amal. Tindakan filantropi yang luar biasa ini membuat namanya menghilang dari daftar orang terkaya di dunia versi Forbes. Yang tersisa hanyalah sedikit dana abadi dan warisan untuk anak-anaknya.
Dalam sebuah wawancara dengan Arab News, Al Rajhi menyatakan, "Segala harta milik Allah, dan kita hanyalah orang-orang yang diberi amanah (oleh Allah) untuk menjaganya." Pernyataan ini merefleksikan filosofi hidupnya yang sederhana namun mendalam. Ia selalu waspada terhadap pemborosan dan menekankan bahwa kekayaan bukanlah untuk disombongkan, melainkan untuk dikelola dengan bijak dan dibagikan kepada sesama.
"Saya bukan orang kikir," tegas Al Rajhi. "Saya orang yang waspada dengan pemborosan dengan keyakinan bahwa Allah menganugerahkan kekayaan kepada kita bukan untuk menunjukkan kesombongan atau pemborosan tetapi untuk menangani kekayaan sebagai harta yang dipercaya." Pernyataan ini menunjukkan bahwa keputusannya untuk berbagi bukan didorong oleh sikap kikir, melainkan oleh kesadaran akan tanggung jawab dan ketakutan akan dosa.
Kisah Al Rajhi tidak hanya berhenti pada tindakan filantropinya yang monumental. Ia juga menunjukkan konsistensi dalam memegang teguh nilai-nilai agama Islam dalam kehidupan sehari-hari. Dalam sebuah cerita yang ia bagikan, Al Rajhi menceritakan pengalamannya diundang ke sebuah jamuan makan malam dalam sebuah konferensi investasi pemerintah Saudi. Namun, ia terkejut menemukan adanya hiburan yang bertentangan dengan ajaran agamanya. Tanpa ragu, ia meninggalkan acara tersebut.
"Saya segera keluar dari tempat itu dan Abdul Aziz Al-Ghorair dari UEA juga bergabung dengan saya. Segera menteri yang berkuasa penuh mendatangi kami bertanya. Kami menjelaskan kepadanya bahwa hiburan yang ditampilkan bertentangan dengan tradisi Islam kami. Jadi dia memberi tahu kami bahwa pesta rekreasi akan dibatalkan. Ketika mereka membatalkan pesta itu, kami ikut serta dalam makan malam," ujarnya. Kisah ini menunjukkan keberanian dan keteguhan Al Rajhi dalam memegang prinsip-prinsip agamanya, bahkan di hadapan pejabat pemerintah.
Kisah Sulaiman Al Rajhi merupakan sebuah inspirasi bagi kita semua. Ia mengajarkan bahwa kekayaan bukanlah tujuan hidup, melainkan alat untuk mencapai tujuan yang lebih mulia. Ia membuktikan bahwa kesuksesan finansial dapat dipadukan dengan kehidupan spiritual yang mendalam. Kisahnya menjadi bukti bahwa kebahagiaan sejati tidak terletak pada harta benda, melainkan pada kepuasan batin dan amal kebaikan yang bermanfaat bagi sesama. Dari seorang kuli angkut hingga miliarder filantropis, perjalanan hidup Al Rajhi adalah sebuah testament tentang keteguhan iman, kerja keras, dan pengabdian yang tulus kepada Allah SWT dan sesama manusia. Kisahnya layak menjadi teladan bagi siapa pun yang ingin mencapai kesuksesan sejati, baik di dunia maupun di akhirat.



