ERAMADANI.COM, DENPASAR – Bali merupakan wajah pariwisatanya Indonesia, salah satu lokasi wisata adalah Desa Wisata Penglipuran yang masih mempertahankan tradisi ditengah modernisasi.
Desa Wisata Penglipuran ini, terletak di Kecamatan Kubu, Kabupaten Bangli, Provinsi Bali, yang berjarak 45 kilometer dari Kota Denpasar ke arah timur menuju Bukit Kintamani.
Sementara dari Bandar Udara Internasional I Gusti Ngurah Rai, jarak tempuhnya sekitar dua jam yang jalannya berkelok, menanjak dan tidak terlalu lebar.
Suasana Desa Wisata Penglipuran

Kita akan disambut oleh suasana oleh pagar berukir dan patungnya khas Bali, lalu ratusan rumah adat berjajar dan sebagian di antaranya terbuat dari bambu.
Sedangkan tipe jalan di desa itu berundak-undak sehingga dipastikan tak ada kendaraan jenis apapun melintas, dan mayoritas rumah maupun pekarangannya serupa.
Kamu tidak akan bisa menemukan kendaraan roda dua maupun roda empat terparkir rapi di depan rumah warga.
Karena Desa Penglipuran menerapkan aturan untuk tidak membawa masuk kendaraan guna menjaga kelestarian lingkungan.
Dilansir dari Republika.co.id, terdapat 77 pekarangan dan setiap pekarangan terdiri dari dua rumah adat.
Yaitu dapur tradisional dan balai sakenem (tempat upacara) serta tempat suci bernama Sanggahan.
Setiap pekarangan terdapat empat pintu, yaitu bagian depan akses ke jalan desa, kanan dan kiri ke tetangga, serta belakang menuju jalan melingkar sebagai jalan kendaraan.
Bagi yang pertama kali berlibur ke desa Penglipuran Bangli, pastinya akan terkejut melihat bentuk dari tiap-tiap rumah penduduk hampir sama.
Kemiripan dari tiap-tiap rumah terlihat pada pintu gerbang rumah, atap rumah dan dinding rumah menggunakan bambu
Lebar pintu gerbang yang hanya muat untuk satu orang dewasa, dan di masyarakat Bali pintu jenis ini di sebut angkul-angkul.
Tidak hanya bentuk rumah yang sama, pembagian dari masing-masing tata ruang rumah juga sama, seperti kamar tidur dan dapur.
Cat tembok pintu gerbang yang digunakan bukan cat tembok yang biasanya kita kenal, melainkan menggunakan cat berbahan dasar dari tanah liat.
Walaupun perubahan dari dinding bambu ke batu bata, konsep menyatu ke alam masih sangat kuat di budaya desa Adat Penglipuran.
Selain bentuk bangunan traditional yang hampir sama, ada beberapa hal lain yang menarik dari Penglipuran seperti, kesejukan udara, kebersihan dan tata ruang yang rapi.
Untuk umlah penduduk yang tinggal di desa yang super bersih tersebut sebanyak 1.038 orang jiwa dan 240 kepala keluarga.
Penghargaan yang Diraih

Hingga kini, berbagai penghargaan sudah diterima Desa Wisata Penglipuran, antara lain Juara I Cipta Award 2013, Desa Wisata Juara II Tingkat Nasional 2014.
Desa Wisata Standar ASEAN 2017, Juara I Homestay tingkat Provinsi, Standar Homestay Asia.
Green Destination Sustainable 2019 serta penghargaan Non Tourism sebagai Kampung Iklim.
Penglipuran juga berhasil memboyong penghargaan Kalpataru diawal peresmiannya sebagai desa wisata.
Penghargaan ini hanya diberikan kepada individu atau kelompok yang berhasil melestarikan lingkungan alam.
Dengan kategori antara lain perintis lingkungan, pembina lingkungan, pengabdi lingkungan dan penyelamat lingkungan.
Uniknya saat kita berjalan berkeliling di desa tersebut, kita tak akan jumpai warga yang memainkan ponselnya, bahkan anak-anak sekalipun.
Pertahankan Kearifan Lokal

Menurut I Nengah Moneng di tengah kemajuan teknologi dan modernisasi, masyarakat Penglipuran tetap berpegang teguh pada ajaran leluhur dan kearifan lokal menjadi modal utama.
Meski ini Desa itu menjadi wisata dunia, sebab berbagai wisatwan datang dari penjuru seluruh dunia untuk menyaksikan keindahan desa tersebut.
Namun, Desa Penglipuran tetap menampilkan estetika dan adat serta tradisi tetap menjadi yang paling utama bagi masyarakat setempat.
Tak hanya menyoroti itu saja, akan tetapi bangunan tempat tinggal, pakaian dan bahasa sehari-hari pun menjadi perhatian agar tidak hilang.
Baginya Komitmen adalah dasar untuk pengelolan Desa Adat agar tetap bergerak ke arah yang diinginkan.
Pentingnya untuk memegang teguh prinsip budaya dan menghormati budaya yang datang dari luar sehingga tidak terjadi benturan.
Di era modernisasi sekarang, Penglipuran tak kehilangan daya magisnya, bahkan menjadi salah satu destinasi yang paling dicari wisatawan di Bali.
Terbukti dengan banyaknya jumlah kunjungan rata-rata per hari mencapai 800 orang, lalu bisa melonjak hingga 4.000 orang saat hari libur.
Tak hanya itu, terhitung pendapatan yang hanya dari tiket pada 2018 mencapai Rp 4,4 miliar dan menjadi Rp 4,7 miliar pada 2019.
Rincian tiketnya, berdasarkan Perbup Nomor 47 Tahun 2014 bagi wisatawan domestik dewasa harganya Rp 15 ribu.
Untuk anak-anak Rp 10 ribusedangkan wisatawan mancanegara dewasa Rp 30 ribu dan anak-anak Rp 25 ribu.
Hal ini dapat di jadikan bahan rujukan untuk pariwisata lainya, agar tetap eksis di tengah persaingan wisata yang begitu melejit dengan cepat.
Meski banyak wisatawan berlatar budaya macam-macam dan namanya yang mendunia, namun mereka tetap menghormati adat dan estetika di Penglipuran. (MYR)




