• Tentang Kami
  • Berita
  • Inspirasi
  • Harmoni
  • Wisata Halal
  • Warga Net
  • Tim Redaksi
No Result
View All Result
Era Madani
  • Bali
  • Berita
  • Kabar
  • Featured
  • Inspirasi
  • Harmoni
  • Budaya
  • Pariwisata
  • Sejarah
  • Gagasan
  • Warga Net
  • Wisata Halal
Era Madani
  • Tentang Kami
  • Berita
  • Inspirasi
  • Harmoni
  • Wisata Halal
  • Warga Net
  • Tim Redaksi
    animate
No Result
View All Result
Era Madani
No Result
View All Result
Waktu Mustajab Berdoa: Sujud dalam Sholat dan Hikmah di Baliknya

Waktu Mustajab Berdoa: Sujud dalam Sholat dan Hikmah di Baliknya

fatkur rohman by fatkur rohman
in Inspirasi
0 0
0
335
SHARES
2k
VIEWS
Share on FacebookShare on Twitter

Jakarta – Dalam khazanah Islam, doa merupakan jembatan spiritual yang menghubungkan hamba dengan Sang Khalik. Keinginan untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT dan memohon pertolongan-Nya merupakan naluri fitrah manusia. Namun, waktu dan kondisi tertentu diyakini memiliki keistimewaan tersendiri dalam mengabulkan doa. Salah satu waktu yang paling sering disebut ulama sebagai waktu mustajab—artinya, waktu di mana doa sangat mudah dikabulkan—adalah saat sujud dalam sholat.

Keyakinan akan kemustajaban doa saat sujud bersumber dari hadits shahih yang diriwayatkan oleh Imam Muslim dari Abu Hurairah RA. Rasulullah SAW bersabda: " Sedekat-dekatnya seorang hamba kepada Tuhannya adalah ketika ia sujud, maka perbanyaklah doa di waktu sujud. " (HR. Muslim). Hadits ini menjadi landasan utama bagi umat Islam untuk meyakini keutamaan berdoa di waktu sujud. Posisi sujud, dengan tubuh yang merendah dan jiwa yang khusyuk, dianggap sebagai manifestasi kerendahan hati dan ketundukan totalitas hamba di hadapan Allah SWT. Kondisi ini menciptakan ikatan spiritual yang kuat, menjadikan doa lebih mudah tersampaikan dan diijabah.

Imam an-Nawawi, ulama besar ahli hadits, menjelaskan lebih lanjut dalam kitab Syarah Riyadhus Shalihin (yang disyarah oleh Musthafa Dib al-Bugha dkk dan diterjemahkan oleh Misbah) mengenai waktu-waktu mustajab berdoa. Beliau menegaskan bahwa selain waktu sujud dalam sholat, waktu-waktu lain yang memiliki keistimewaan serupa adalah sepertiga malam terakhir dan sesudah sholat fardhu. Namun, sujud tetap memiliki tempat istimewa karena menandai puncak kedekatan spiritual hamba dengan Tuhannya. Kedekatan yang dimaksud di sini bukanlah kedekatan secara fisik, melainkan kedekatan secara spiritual, yakni kedekatan dalam kedudukan dan maqam di hadapan Allah SWT. Sujud adalah puncak dari seluruh rangkaian gerakan sholat, melambangkan penyerahan diri yang sempurna dan mengakui kebesaran Allah SWT.

Lebih jauh, an-Nawawi menekankan bahwa kemustajaban doa bukanlah semata-mata terkait dengan waktu, tetapi juga dipengaruhi oleh kualitas doa itu sendiri, serta kualitas spiritual dan keikhlasan si pemohon. Doa yang dipanjatkan dengan hati yang tulus, diiringi rasa khusyuk dan keyakinan yang mendalam, akan lebih mudah diterima oleh Allah SWT, terlepas dari waktu kapan doa tersebut dipanjatkan.

Allah SWT sendiri telah berjanji akan mengabulkan doa hamba-Nya. Firman-Nya dalam Surah Ghafir ayat 60 berbunyi: " Dan Tuhanmu berfirman: "Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah-Ku akan masuk Jahanam dalam keadaan hina dina." " (QS. Ghafir: 60). Ayat ini secara tegas memerintahkan manusia untuk berdoa kepada Allah SWT dan menjanjikan pengabulan doa tersebut. Para ulama tafsir, seperti Ibnu Abbas, ad-Dahhak, dan Mujahid, menafsirkan "berdoa" dalam ayat ini sebagai bentuk ibadah secara umum. Namun, ada pula ulama lain yang menafsirkannya sebagai permohonan khusus. Perbedaan penafsiran ini menunjukkan kekayaan dan kedalaman makna dalam Al-Qur’an, menunjukkan betapa luasnya ruang lingkup doa dalam kehidupan seorang muslim.

Waktu Mustajab Berdoa: Sujud dalam Sholat dan Hikmah di Baliknya

Tafsir Al-Qur’an Kementerian Agama RI menjelaskan bahwa ayat ini merupakan penegasan akan janji Allah SWT untuk mengabulkan doa setiap hamba-Nya yang memohon dengan tulus dan ikhlas. Hal ini menunjukkan bahwa Allah SWT selalu membuka pintu rahmat-Nya bagi hamba-Nya yang berdoa, asalkan doa tersebut sesuai dengan syariat Islam dan dipanjatkan dengan niat yang baik.

Namun, kemustajaban doa juga memiliki syarat dan ketentuan. Imam an-Nawawi dalam Riyadhus Shalihin mencantumkan beberapa riwayat yang menjelaskan hal ini. Salah satu syarat terpenting adalah tidak terburu-buru dalam berdoa. Sifat tergesa-gesa dan kehilangan kesabaran dapat menghalangi pengabulan doa. Hal ini dijelaskan dalam hadits Rasulullah SAW yang diriwayatkan dari Abu Hurairah RA: " Doa seseorang akan dikabulkan selama ia tidak terburu-buru; ia mengucapkan, ‘Aku telah berdoa kepada Tuhanku tetapi Tuhanku tidak memperkenankan doaku.’ " (HR. Bukhari).

Hadits ini menekankan pentingnya kesabaran dan ketekunan dalam berdoa. Ketidaksabaran dan sikap pesimis dapat menyebabkan seseorang menyerah sebelum doanya dikabulkan. Allah SWT mungkin menguji kesungguhan dan keimanan hamba-Nya melalui proses pengabulan doa yang membutuhkan waktu dan kesabaran. Keteguhan hati dan keyakinan yang teguh akan menjadi kunci utama dalam menghadapi ujian ini.

Riwayat lain yang diriwayatkan oleh Imam Muslim memiliki redaksi yang lebih panjang dan menjelaskan lebih detail tentang arti "terburu-buru" dalam konteks berdoa. Hadits ini menjelaskan bahwa terburu-buru dalam berdoa adalah ketika seseorang merasa doanya tidak dikabulkan setelah beberapa kali berdoa, lalu ia menyerah dan berhenti berdoa. Hal ini menunjukkan bahwa ketekunan dan kesabaran dalam berdoa merupakan kunci penting dalam meraih pengabulan doa. Allah SWT akan mengabulkan doa hamba-Nya yang sabar dan tekun dalam berdoa, asalkan doa tersebut tidak bertentangan dengan syariat Islam dan tidak untuk tujuan yang tercela.

Kesimpulannya, waktu sujud dalam sholat merupakan waktu yang istimewa untuk berdoa, namun bukan satu-satunya waktu mustajab. Kemustajaban doa lebih ditentukan oleh kualitas spiritual pemohon, keikhlasan niat, kesabaran, dan ketekunan dalam berdoa. Allah SWT Maha Pengasih dan Maha Penyayang, selalu membuka pintu rahmat-Nya bagi hamba-Nya yang berdoa dengan tulus dan ikhlas. Oleh karena itu, setiap muslim hendaknya senantiasa memperbanyak doa, khususnya di waktu-waktu mustajab, dengan penuh harapan dan keyakinan akan pengabulan-Nya. Semoga Allah SWT senantiasa meridhoi setiap doa dan usaha kita dalam mendekatkan diri kepada-Nya.

Previous Post

Mencari Ampunan dan Jalan Baru: Lima Doa untuk Hijrah Menuju Kehidupan yang Lebih Baik

Next Post

Doa Perlindungan dari Lingkungan yang Merusak Iman: Sebuah Tinjauan Komprehensif

fatkur rohman

fatkur rohman

Next Post
Doa Perlindungan dari Lingkungan yang Merusak Iman: Sebuah Tinjauan Komprehensif

Doa Perlindungan dari Lingkungan yang Merusak Iman: Sebuah Tinjauan Komprehensif

Hukum Menggabungkan Puasa Tasu'a, Asyura dengan Qadha Ramadhan: Tinjauan Komprehensif

Hukum Menggabungkan Puasa Tasu'a, Asyura dengan Qadha Ramadhan: Tinjauan Komprehensif

Wasiat Terakhir Umar bin Khattab: Singa Padang Pasir Menuju Akhirat

Wasiat Terakhir Umar bin Khattab: Singa Padang Pasir Menuju Akhirat

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Facebook Twitter Youtube Vimeo Instagram

Category

  • Bali
  • Berita
  • Budaya
  • Featured
  • Gagasan
  • Geopolitik, Kepemimpinan, Kaderisasi, Strategi Partai, Identitas Keumatan, Jaringan Global, Pemberdayaan Sumber Daya Manusia
  • Harmoni
  • Headline
  • Inspirasi
  • Kabar
  • Keamanan
  • Kesehatan
  • Keuangan
  • Mancanegara
  • Olahraga
  • Opini
  • Pariwisata
  • Pendidikan
  • Peristiwa
  • Politik
  • Sejarah
  • Sponsored
  • Teknologi
  • Uncategorized
  • Warga Net
  • Wisata Halal

© 2020 EraMadani - Harmoni dan Inspirasi.

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • TENTANG KAMI
  • BERITA
  • BALI
  • KABAR
  • FEATURED
  • TIM REDAKSI

© 2020 EraMadani - Harmoni dan Inspirasi.