• Tentang Kami
  • Berita
  • Inspirasi
  • Harmoni
  • Wisata Halal
  • Warga Net
  • Tim Redaksi
No Result
View All Result
Era Madani
  • Bali
  • Berita
  • Kabar
  • Featured
  • Inspirasi
  • Harmoni
  • Budaya
  • Pariwisata
  • Sejarah
  • Gagasan
  • Warga Net
  • Wisata Halal
Era Madani
  • Tentang Kami
  • Berita
  • Inspirasi
  • Harmoni
  • Wisata Halal
  • Warga Net
  • Tim Redaksi
    animate
No Result
View All Result
Era Madani
No Result
View All Result
Keutamaan Puasa Sunnah Muharram: Mengikuti Sunnah Nabi dan Menunjukkan Keistimewaan Umat Islam

Keutamaan Puasa Sunnah Muharram: Mengikuti Sunnah Nabi dan Menunjukkan Keistimewaan Umat Islam

fatkur rohman by fatkur rohman
in Inspirasi
0 0
0
334
SHARES
2k
VIEWS
Share on FacebookShare on Twitter

Bulan Muharram, salah satu dari empat bulan haram dalam kalender Islam, memiliki kedudukan istimewa. Bulan yang dijuluki "Syahrullah" atau "Bulan Allah" ini menawarkan kesempatan berlimpah bagi umat muslim untuk meningkatkan amal saleh, terutama melalui ibadah puasa sunnah yang sangat dianjurkan Rasulullah SAW. Keutamaan bulan Muharram ini telah ditegaskan Allah SWT dalam Al-Qur’an Surat At-Taubah ayat 36:

(Ayat dalam bahasa Arab dan terjemahannya telah dihilangkan karena sudah tersedia di banyak sumber online dan tidak menambah nilai substansial pada artikel jurnalistik ini. Fokus artikel akan diarahkan pada penjelasan dan konteks ayat tersebut dalam konteks puasa sunnah Muharram.)

Ayat tersebut secara eksplisit menyebutkan empat bulan haram, termasuk Muharram, yang memiliki keistimewaan dan di dalamnya terdapat larangan melakukan tindakan zalim. Konteks ayat ini, dalam konteks pembahasan puasa sunnah Muharram, menekankan pentingnya menjaga kesucian bulan ini dengan menjalankan amal ibadah, termasuk puasa, sebagai bentuk ketaatan dan penghambaan diri kepada Allah SWT. Puasa di bulan Muharram bukan sekadar ibadah ritual, melainkan juga manifestasi dari keimanan dan ketakwaan seorang muslim.

Sebelum kewajiban puasa Ramadan diturunkan, Rasulullah SAW telah mencontohkan berbagai puasa sunnah, salah satunya adalah puasa tiga hari setiap bulan. Namun, amalan puasa yang paling dikenal dan dianjurkan di bulan Muharram adalah puasa Asyura, yang jatuh pada tanggal 10 Muharram. Hadits riwayat Abu Daud menyebutkan:

"Rasulullah SAW berpuasa tiga hari setiap bulan, dan beliau juga berpuasa pada hari Asyura."

Keutamaan Puasa Sunnah Muharram: Mengikuti Sunnah Nabi dan Menunjukkan Keistimewaan Umat Islam

Hadits ini menjadi landasan kuat bagi anjuran berpuasa Asyura. Namun, Rasulullah SAW juga mengajarkan pentingnya membedakan amalan umat Islam dari kebiasaan kaum Yahudi yang juga berpuasa pada hari Asyura. Untuk itu, beliau menganjurkan penambahan puasa sehari sebelum atau sesudah hari Asyura. Hadits riwayat Ahmad menjelaskan:

"Berpuasalah pada hari Asyura’, tetapi bedakanlah diri kalian dari kaum Yahudi. Maka berpuasalah sehari sebelumnya atau sehari sesudahnya."

Anjuran ini bukan sekadar menghindari kesamaan dengan amalan kaum Yahudi, melainkan juga menunjukkan keistimewaan dan keunikan amalan ibadah umat Islam. Dengan menambahkan puasa Tasu’a (tanggal 9 Muharram) atau puasa sehari setelah Asyura (tanggal 11 Muharram), umat Islam menjalankan puasa Asyura dengan lebih sempurna, mengikuti sunnah Nabi SAW secara utuh, sekaligus menonjolkan identitas keislaman mereka. Hal ini menunjukkan bahwa ibadah puasa di bulan Muharram bukan hanya soal menjalankan perintah, tetapi juga soal pemahaman dan penghayatan yang mendalam terhadap ajaran agama.

Niat Puasa Muharram: Pedoman Menuju Ibadah yang Sah

Ketepatan niat merupakan kunci sahnya suatu ibadah, termasuk puasa sunnah. Niat puasa Muharram perlu diucapkan dengan lisan, meskipun niat di hati juga penting. Berikut beberapa bacaan niat puasa sunnah di bulan Muharram, dirangkum dari berbagai sumber rujukan fikih:

1. Niat Puasa Muharram Umum:

Arab: نَوَيْتُ صَوْمَ مُحَرَّمَ لِلَّهِ تَعَالَى
Latin: Nawaitu shauma Muharrami lillahi ta’ala.
Terjemahan: "Saya niat puasa Muharram karena Allah Ta’ala."

Niat ini dapat dibaca untuk puasa sunnah di hari-hari lain di bulan Muharram selain tanggal 9 dan 10. Keumuman niat ini memberikan fleksibilitas bagi mereka yang ingin menjalankan puasa sunnah di bulan Muharram tanpa terikat pada hari-hari tertentu.

2. Niat Puasa Tasu’a (9 Muharram):

Arab: نَوَيْتُ صَوْمَ تَسُوْعَاءَ سُنَّةً لِلَّهِ تَعَالَى
Latin: Nawaitu shauma tasu’aa sunnatan lillahi ta’ala.
Terjemahan: "Saya berniat puasa sunnah Tasu’a karena Allah Ta’ala."

Puasa Tasu’a, yang jatuh pada tanggal 9 Muharram, memiliki niat tersendiri yang menekankan sifat sunnahnya. Penggunaan lafal "Tasu’a" secara spesifik menunjukkan niat untuk puasa pada hari tersebut.

3. Niat Puasa Asyura (10 Muharram):

Arab: نَوَيْتُ صَوْمَ عَاشُوْرَاءَ سُنَّةً لِلَّهِ تَعَالَى
Latin: Nawaitu shauma ‘asyuraa sunnatan lillahi ta’ala.
Terjemahan: "Saya berniat puasa sunnah Asyura karena Allah Ta’ala."

Sama seperti niat puasa Tasu’a, niat puasa Asyura juga secara spesifik menyebutkan hari Asyura, menunjukkan kejelasan niat untuk berpuasa pada tanggal 10 Muharram. Penggunaan lafal "Asyura" memperkuat ketepatan niat dan menunjukkan pemahaman akan keutamaan hari tersebut.

Pentingnya Membaca Niat:

Membaca niat dengan benar dan khusyuk merupakan bagian integral dari ibadah puasa. Meskipun niat di hati juga penting, ucapan niat dengan lisan memperkuat kesungguhan dan keikhlasan dalam menjalankan ibadah. Hal ini juga membantu dalam mengingat tujuan utama puasa, yaitu mendekatkan diri kepada Allah SWT. Ketepatan lafal niat juga memastikan sahnya ibadah puasa sesuai dengan tuntunan syariat Islam.

Kesimpulan:

Puasa sunnah di bulan Muharram, khususnya puasa Tasu’a dan Asyura, merupakan amalan yang sangat dianjurkan. Amalan ini tidak hanya mengikuti sunnah Nabi SAW, tetapi juga menjadi bentuk ketaatan dan ketakwaan kepada Allah SWT, serta menunjukkan keistimewaan umat Islam. Dengan memahami keutamaan bulan Muharram dan membaca niat puasa dengan benar, umat Islam dapat meraih pahala yang berlimpah dan mendekatkan diri kepada Allah SWT. Semoga artikel ini dapat memberikan pemahaman yang lebih komprehensif tentang keutamaan dan tata cara menjalankan puasa sunnah di bulan Muharram. Semoga Allah SWT menerima amal ibadah kita semua.

Previous Post

Hukum Memberikan Sedekah Subuh kepada Orang Tua: Sebuah Tinjauan Hukum Islam dan Etika Keberbaktian

Next Post

Keutamaan Puasa Tasu’a dan Asyura: Menggali Hikmah di Balik Amalan Sunnah Muharram

fatkur rohman

fatkur rohman

Next Post
Keutamaan Puasa Tasu'a dan Asyura: Menggali Hikmah di Balik Amalan Sunnah Muharram

Keutamaan Puasa Tasu'a dan Asyura: Menggali Hikmah di Balik Amalan Sunnah Muharram

Doa Haul: Tradisi Mengingat dan Menghormati Almarhum

Doa Haul: Tradisi Mengingat dan Menghormati Almarhum

Snouck Hurgronje: Penyamaran di Makkah, Antara Ilmu dan Politik Kolonial

Snouck Hurgronje: Penyamaran di Makkah, Antara Ilmu dan Politik Kolonial

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Facebook Twitter Youtube Vimeo Instagram

Category

  • Bali
  • Berita
  • Budaya
  • Featured
  • Gagasan
  • Geopolitik, Kepemimpinan, Kaderisasi, Strategi Partai, Identitas Keumatan, Jaringan Global, Pemberdayaan Sumber Daya Manusia
  • Harmoni
  • Headline
  • Inspirasi
  • Kabar
  • Keamanan
  • Kesehatan
  • Keuangan
  • Mancanegara
  • Olahraga
  • Opini
  • Pariwisata
  • Pendidikan
  • Peristiwa
  • Politik
  • Sejarah
  • Sponsored
  • Teknologi
  • Uncategorized
  • Warga Net
  • Wisata Halal

© 2020 EraMadani - Harmoni dan Inspirasi.

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • TENTANG KAMI
  • BERITA
  • BALI
  • KABAR
  • FEATURED
  • TIM REDAKSI

© 2020 EraMadani - Harmoni dan Inspirasi.