Jakarta, 26 Februari 2025 – Umat Islam di Indonesia bersiap menyambut datangnya bulan suci Ramadhan 1446 H, yang diperkirakan jatuh pada akhir pekan ini. Bulan penuh berkah ini, yang di dalamnya diwajibkan ibadah puasa sebagaimana dijelaskan dalam Al-Qur’an surat Al-Baqarah ayat 183: " Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa", akan kembali menjadi momen penting bagi seluruh muslim untuk meningkatkan ketaqwaan dan spiritualitas. Namun, seperti tahun-tahun sebelumnya, kemungkinan perbedaan penetapan awal Ramadhan antara pemerintah, Nahdlatul Ulama (NU), dan Muhammadiyah kembali mengemuka, memicu diskusi dan antisipasi di tengah masyarakat.
Pemerintah Indonesia, melalui Kementerian Agama (Kemenag), akan menggelar sidang isbat pada Jumat, 28 Februari 2025, untuk menentukan awal Ramadhan. Sidang isbat ini, yang didasarkan pada Fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI) Nomor 2 Tahun 2004 tentang Penetapan Awal Ramadhan, Syawal, dan Dzulhijjah, merupakan mekanisme resmi yang menggabungkan perhitungan hisab (astronomi) dan rukyat (observasi hilal). Direktur Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam Kemenag, Abu Rokhmad, menjelaskan bahwa sidang akan berlangsung di Auditorium H.M. Rasjidi, Kemenag, Jakarta Pusat, dan dihadiri oleh berbagai pihak, termasuk perwakilan ormas Islam, MUI, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), ahli falak, serta perwakilan dari Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) dan Mahkamah Agung.
"Seperti tahun-tahun sebelumnya, sidang isbat akan membahas data hisab, verifikasi rukyatul hilal, dan memutuskan awal Ramadhan dengan mempertimbangkan kriteria MABIMS (Menteri Agama Brunei Darussalam, Indonesia, Malaysia, dan Singapura)," ujar Abu Rokhmad dalam keterangan persnya di Jakarta, Senin (10/2/2025). Kriteria MABIMS menetapkan imkanur rukyat (kemungkinan melihat hilal) terpenuhi jika posisi hilal berada di ketinggian minimal 3 derajat dengan sudut elongasi 6,4 derajat.
Direktur Urais Binsyar pada Ditjen Bimas Islam Kemenag, Arsad Hidayat, memberikan gambaran data hisab awal Ramadhan 1446 H. "Berdasarkan data hisab, ijtimak (konjungsi) terjadi pada Jumat, 28 Februari 2025 sekitar pukul 07.44 WIB. Pada hari tersebut, ketinggian hilal di wilayah Indonesia diperkirakan berada di atas ufuk, antara 3° 5,91′ hingga 4° 40,96′, dengan sudut elongasi antara 4° 47,03′ hingga 6° 24,14′," jelas Arsad. Meskipun data hisab menunjukkan indikasi kuat terlihatnya hilal, Arsad menekankan bahwa keputusan final tetap menunggu hasil sidang isbat yang akan diumumkan oleh Menteri Agama.
Sementara itu, Nahdlatul Ulama (NU), melalui Lembaga Falakiyah (LF) Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), akan menetapkan awal Ramadhan berdasarkan hasil rukyatul hilal pada 29 Syakban. Pengumuman resmi dari NU diharapkan akan segera menyusul setelah proses observasi lapangan selesai dilakukan. Hingga saat ini, PBNU belum merilis pengumuman resmi terkait penetapan awal Ramadhan 1446 H.
Berbeda dengan pemerintah dan NU yang mengutamakan rukyat, Muhammadiyah telah menetapkan awal Ramadhan 1446 H jatuh pada Sabtu, 1 Maret 2025. Keputusan ini tertuang dalam Maklumat Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah Nomor 1/MLM/I.0/E/2025 tentang Penetapan Hasil Hisab Ramadan, Syawal, dan Zulhijah 1446 Hijriah. Maklumat tersebut, yang diumumkan oleh Sekretaris PP Muhammadiyah Muhammad Sayuti dalam konferensi pers pada Rabu (12/2/2025), menyatakan bahwa pada saat matahari terbenam, Jumat, 28 Februari 2025, hilal sudah wujud di seluruh wilayah Indonesia. Oleh karena itu, 1 Ramadhan 1446 H ditetapkan jatuh pada Sabtu, 1 Maret 2025, dan Idul Fitri 1446 H pada Senin, 31 Maret 2025, dengan puasa selama 30 hari.
Perbedaan metode penetapan awal Ramadhan antara pemerintah dan Muhammadiyah berpotensi menimbulkan perbedaan tanggal pelaksanaan ibadah puasa. Hal ini telah diprediksi oleh Profesor Riset Astronomi dan Astrofisika Pusat Riset Antariksa dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Thomas Djamaluddin. Dalam sebuah video yang diunggah di kanal YouTubenya, Thomas memprediksi pemerintah akan menetapkan 1 Ramadhan 1446 H jatuh pada 2 Maret 2025.
"Potensi perbedaan ini disebabkan oleh kemungkinan kegagalan rukyat," jelas Thomas. Ia menjelaskan bahwa meskipun posisi Bulan di wilayah Banda Aceh sudah memenuhi kriteria MABIMS, di wilayah lain seperti Surabaya, ketinggian hilal baru mencapai 5,8 derajat. "Posisi Bulan yang terlalu dekat dengan Matahari dan ketinggiannya masih cukup rendah menunjukkan bahwa posisi Bulan pada awal Ramadhan ini sulit diamati," ujarnya. Thomas menambahkan, "Kemungkinan gagal rukyat, kita tunggu saja hasil sidang isbat. Ada kemungkinan 1 Ramadhan 1446 H jatuh pada 2 Maret 2025."
Perbedaan penetapan awal Ramadhan, meskipun berpotensi menimbulkan dinamika di masyarakat, sejatinya merupakan bagian dari perbedaan ijtihad dalam memahami dan mengamalkan ajaran Islam. Baik pemerintah, NU, maupun Muhammadiyah, semuanya memiliki landasan dan metode yang berbeda dalam menentukan awal Ramadhan, namun tujuannya tetap sama, yaitu untuk menjalankan ibadah puasa dengan penuh keimanan dan ketakwaan. Penting bagi seluruh umat Islam untuk saling menghormati perbedaan tersebut dan tetap menjaga persatuan dan kesatuan dalam bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Semoga bulan Ramadhan 1446 H menjadi bulan yang penuh berkah dan membawa kebaikan bagi seluruh bangsa Indonesia. Kepastian tanggal awal Ramadhan akan segera diumumkan oleh masing-masing pihak, dan diharapkan masyarakat dapat menerima keputusan tersebut dengan bijak dan tetap menjaga kerukunan.